Penutupan Festival Seni Qasidah (FSQ) II Kabupaten Kapuas

Gambar
Pada hari Sabtu, 22 Juni 2024 bertempat di Lapangan Bukit Ngalangkang dilakukan Penutupan Festival Seni Qasidah (FSQ) II Kabupaten Kapuas. Kegiatan ini diselenggarakan oleh LASQI Nusantara Jaya. Pesertanya berasal dari 17 Kecamatan se-Kabupaten Kapuas.

Kajian Surat Al-Asr oleh Ustadz Suriani Jiddy, Lc


Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Q.S. Al-Asr, 103: 1-3)

Cara Pandang Terhadap Realitas

Cara pandang kita terhadap realitas sangat unik. Ada realitas yang tampak dan tidak tampak. Ada yang riil tapi tidak tampak. Kaum materialis meyakini sesuatu itu ada kalau bisa dilihat. Kalau kita meyakini apa yang tidak bisa dilihat sebagai ada. Contoh akhirat itu riil tapi kita tidak bisa melihatnya. Termasuk malaikat, surga, neraka dan lain-lain. Cara pandang seperti ini dimiliki oleh orang-orang beriman.
Al-Qur’an menempatkan orang yang percaya kepada yang ghaib sebagai ciri pertama dari orang-orang yang bertakwa.

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib … (Q.S. Al Baqarah, 2: 2-3)

Kita shalat karena kita percaya kepada kepada yang ghaib (pahala). Karena pahala tidak terlihat makanya tidak banyak yang tertarik. Orang yang beriman meskipun pahala tidak terlihat tapi mereka yakin adanya.
Bagaimana seandainya kalau setiap shalat dikasih uang, apakah ada yang tidak shalat? Masalahnya karena upahnya tidak kelihatan, sedikit yang shalat. Masjid kita megah tapi sepi pengunjung. Shalat jama’ah imbalannya 27 derajat lebih tinggi dari shalat sendirian. Tapi karena ini ghaib, orang tidak semangat, buktinya masjid kita sunyi, ramainya cuma bulan Ramadhan saja.

Kalau pahala berupa uang maka penjual dipasar akan sepi, karena untungnya lebih pasti daripada di pasar.
Keberuntungan dan Kerugian

Orang yang beruntung adalah orang yang beriman, beramal saleh dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Disinilah pentingnya kita memiliki cara pandang yang benar tentang realitas. Kita sering mengaitkan keberuntungan dengan materi. Kita mengatakan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang kaya. Keberuntungan disini adalah keberuntungan yang ghaib. Disinilah Qur’an memberikan cara pandang yang benar tentang kemuliaan.

Kalau keberuntungan itu dikaitkan dengan kekayaan, maka orang miskin bukan orang yang beruntung. Kalau pandangannya demikian, maka Rasulullah adalah yang paling tidak beruntung karena beliau tidak mewariskan apa-apa. Rasulullah pernah tidak punya makanan dalam kesehariannya.

Surat ini memuat 4 kewajiban yang harus kita laksanakan:
·         Ilmu
o   Mengenal Allah
o   Mengenal Nabi
o   Mengenal Agaa
·         Amal
·         Dakwah
·         Sabar

Mengenal Allah

Orang yang mengenal Allah adalah orang yang menunaikan hak-Nya. Allah berhak untuk diibadahi. Manusia yang paling zalim di dunia adalah manusia yang tidak mau beribadah. Hak kedua adalah tidak disekutukan.
Mengenal Nabi

Cara mengenal Nabi adalah dengan menunaikan haknya. Ketika menciptakan manusia, Allah tidak membiarkan manusia semau-maunya. Ada aliran yang meyakini bahwa setiap menciptakan manusia, Allah membiarkan mereka. Mereka meyakini manusia bebas. Mereka yakin bahwa manusia hidup di dunia ini adalah untuk mengejar syahwat saja.

Filsuf Perancis mengatakan bahwa seandainya Tuhan itu ada harus kita tolak, karena ide tentang adanya Tuhan dapat membunuh ide kebebasan kita..

Manusia tidak bebas. Kalau dia melakukan sesuatu dia ingat Tuhan. Mau menipu, ingat Tuhan, tidak jadi menipu.

Allah membimbing manusia tidak secara langsung tapi lewat utusan. Utusan ini yang menyampaikan kepada kita.

Nabi adalah manusia yang sangat mulia, karena beliau menyampaikan pesan Allah SWT kepada kita. Utusan itu yang disebut Nabi. Kalau tidak ada Nabi, kita tidak tahu cara beribadah.

Orang yang tidak percaya kepada utusan Tuhan bukan orang yang baik atau dalam bahasa lain, dia tidak mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah. Pengakuan itu lebih baik daripada perilaku atau akhlak (kepribadian) seseorang.

Materialis tidak mengakui sumber ilmu – kabar yang benar. Sumber ilmu adalah akal, bukti empiris dan kabar yang benar (khobar shodiq). Khobar shodiq ini sama kedudukannya dengan mata kepala kita sendiri.

Kita kadang-kadang kurang jujur dengan diri kita sendiri. Kita lebih percaya  kepada orang yang tidak kita kenal dibandingkan dengan orang yang kita kenal. Kita percaya kepada pesawat yang tidak kita lihat. Kejujuran Nabi Muhammad SAW tidak hanya diakui oleh para sahabat tapi juga oleh para musuhnya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Laki-laki adalah "qawwam" bagi perempuan