Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Ada pohon di surga yang lebarnya lebih dari 137 kali diameter bumi


Ada hadits yang diriwayatkan oleh Sahl bin Sa'd radiallahu 'anhu yang berbunyi:

Rasulullah SAW berkata, "Di dalam surga ada sebuah pohon yang sangat besar sehingga dalam bayangannya, seorang pengendara kuda dapat berjalan dibawahnya selama seratus tahun tanpa dapat melintasinya." (H.R. Bukhari Volume 8 Nomor 559)

Ketika admin mencari di Google kira-kira berapa jauh seekor kuda dapat menempuh perjalanan selama satu hari, jawabannya sekitar 48 km. Jadi bila dalam 100 tahun ada 36.500 hari, maka diameter minimal dari pohon tersebut adalah 48 km x 36.500 = 1.752.000 km. Padahal diameter bumi cuma 12.742 km (Wikipedia).

Jadi kalau dibandingkan lebar pohon tersebut dengan bumi berarti lebarnya 1.752.000: 12.742 = 137 kali diameter bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas