The Salahuddin Generation (Ep. 3): Imam Al-Ghazali dan Cetak Biru Kebangkitan Umat

Gambar
  Ada masa ketika para pemimpin Muslim silih berganti muncul—lalu satu per satu jatuh, dikhianati, atau dibunuh. Di permukaan, yang tampak hanyalah kekacauan dan kekalahan. Namun episode ini mengingatkan kita: di balik hiruk-pikuk politik dan perang, para ulama sedang meletakkan fondasi perubahan yang sering tidak dicatat sejarah. Dari perlawanan mendesak di Aleppo hingga reformasi generasi oleh Imam Al-Ghazali—di sinilah “blueprint” kebangkitan itu disusun. 1) Bagaimana Muslim Melihat Pasukan Salib: Kuat Bertempur, Tapi “Kosong” di Luar Itu Episode ini membuka dengan cara pandang Muslim pada masa itu terhadap “Franks” (pasukan salib). Mereka diakui unggul dalam keberanian dan perang , namun dalam hal lain—ilmu, kesehatan, dan tata hidup—dilukiskan sangat tertinggal. Ada kisah tentang permintaan dokter dari pihak pasukan salib karena Muslim lebih maju dalam pengobatan . Tetapi yang mengejutkan: tindakan “religius tanpa ilmu” membuat pengobatan berubah menjadi keputusan ekstrem...

Bacalah Qur'an dengan perenungan

Ibnul Qayyim berkata: membaca satu ayat dengan perenungan dan pengertian lebih baik daripada membaca seluruh Qur’an tanpa perenungan dan pengertian. Hal itu lebih bermanfaat bagi hati dan lebih mungkin untuk meraih iman dan merasakan manisnya iman.  Hal ini adalah sesuatu yang biasa dilakukan oleh pendahulu kita.

Salah satu dari mereka akan membaca satu ayat sampai pagi.  Hal ini sahih dari Rasulullah bahwa beliau berdiri dalam shalat mengulang-ulang satu ayat sampai pagi.  Dan itu adalah firman Allah SWT yang berbunyi: “Jika Engkau menghuku mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-Mu. Dan jika Engkau memaafkan mereka, maka sesungguhnya Engkau adalah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. “

Jadi membaca Qur’an dengan perenungan adalah dasar untuk memperbaiki hati. Sehubungan dengan itu Ibnu Mas’ud r.a. berkata: “Jangan terburu-buru dalam membaca Qur’an sebagaimana terburu-burunya orang membaca puisi, dan jangan membuangnya sebagai engkau membuang kurma yang jelek. Jangan terburu-buru dalam membaca Qur’an. Berhentilah pada ayat-ayat yang luar biasa dan biarkan ia menggerakkan hatimu. Janganlah mengabaikan apa-apa yang menarik perhatian kalian hanya karena ingin segera sampai pada akhir surat.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas