Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

The Community Fridge - Kulkas untuk orang tidak mampu



Ide ini patut ditiru oleh pengusaha Muslim. Rekz Afzal, seorang pengusaha Muslim dari Scotland, Inggris menyediakan sebuah kulkas yang berisi berbagai keperluan sehari-hari untuk orang yang tidak mampu. Idenya muncul ketika ada pelanggan yang tidak mampu untuk membeli barang keperluan sehari-hari mereka di tokonya.



Ketika beliau sudah menyediakan kulkas ini, ada pelanggan dari kalangan tidak mampu yang tidak percaya bahwa mereka bisa mengambil barang-barang tersebut secara gratis.



Rekz Afzal berharap idenya bisa diterapkan diseluruh dunia, sehingga para orang tidak mampu dapat disantuni dengan baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas