Sabtu, 17 Februari 2018

Pembahasan Hadits ke-7 Arba’in Nawawi - Ustadz Suriani Jiddy, Lc (3)



Nasihat bagi Allah – beriman kepada Allah.

Nasihat bagi al kitab dan rasul-Nya juga bermakna beriman kepada al kitab dan rasul.

Kerangka dasar beriman kepada al kitab dan rasul.
Petunjuk Al Qur’an
·         Tujuan penciptaan
·         Cara pandang terhadap kehidupan
o   Dari mana berasal
o   Di mana sekarang
o   Mau kemana nanti

Tujuan Penciptaan
Allah tidak menciptakan alam semesta ini tanpa tujuan.

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Q.S. Al Mu’minun, 23: 115)

Ayat ini tidak meminta jawaban. Ayat ini mengingkari orang yang mengatakan bahwa mereka diciptakan secara sia-sia dan tidak dikembalikan kepada Allah.

Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (Q.S. Shad, 38: 27)

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? (Q.S. Al Qiyamah, 75: 36)

( 190 )   Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, ( 191 )   (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S. Ali Imran, 3: 190-191)

Tingginya suatu peradaban ditandai dengan apakah mereka mengetahui tujuan hidup atau tujuan penciptaan mereka.

Allah memberikan kemuliaan kepada manusia

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. Al Isra, 17: 70)

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S. At-Tiin, 95: 4)

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S. An-Nahl, 16: 78)

Tiga organ tubuh ini dapat menyerap ilmu (telinga, mata, hati). Allah muliakan manusia karena ilmu. Dalam pengantar kitab ta’alim muta’alim (adab menuntut ilmu) disebutkan: segala puji bagi Allah yang telah memberikan kelebihan kepada Bani Adam dengan ilmu dan amal atas segala makhluk lain yang Allah ciptakan.

Sesudah menciptakan Adam, Allah mengajarkan ilmu kepada Adam. Sesuatu yang Allah tidak ajarkan kepada malaikat.

Para penghuni neraka merasa menyesal masuk neraka. Salah satu sebabnya adalah faktor pendengaran.

Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (Q.S. Al Mulk, 67: 10)

Abu Darda’ : jadilah kamu orang yang berilmu atau orang yang senantiasa menuntut ilmu atau orang yang senang mendengarkan ilmu. Jangan menjadi orang yang keempat yang tidak berilmu, tidak mau menuntut ilmu, tidak mau mendengarkan ilmu, maka celakalah dia.

“Dalam keadaan tidak tahu apa-apa”. Allah tidak bilang bahwa kita tidak punya apa-apa. Tidak tahu lebih dalam maknanya dari tidak tahu.

Puncak kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia: Allah mengutus utusan-Nya kepada mereka.

Nikmat hidayah:

1.       Hidayah fitrah (naluri / insting / bawaan). Semua manusia punya fitrah. Ini tidak hanya dimiliki manusia, binatang pun punya. Induk binatang sayang atau melindungi anak-anaknya. Itu naluri. Suka kepada lawan jenis itu naluri. Kalau suka kepada sesama jenis, maka nalurinya rusak. Kalau Allah memberikan fitrah kepada manusia, belum ada kelebihan manusia atas makhluk lainnya. Maka Allah tingkatkan kepada hidayah berikutnya.

2.       Hidayah panca indera. Inipun dimiliki oleh binatang. Bahkan indera binatang lebih awas dari indera manusia. Allah tingkatkan ke yang berikutnya.

3.       Hidayah akal. Akal terbatas, banyak yang tidak bisa dijangkau oleh manusia. Tidak bisa dibedakan antara yang beriman dan tidak beriman.

4.       Hidayah agama. Ini puncak kenikmatan / karunia yang Allah berikan kepada manusia. Dalam rangka inilah Allah mengutus utusannya kepada manusia.

Filsafat epikorealisme yang mengatakan bahwa setelah penciptaan Allah membiarkan ciptaan-Nya. Ini tidak benar karena Allah mengutus Rasul dan menurunkan kitab.

(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nisa, 4: 165)

Kalau manusia tidak dibimbing kemudian diminta pertanggungjawaban, maka itu tidak adil. Maka Allah mengirimkan utusan kepada mereka.

Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (Q.S. Al Mulk, 67: 10)

Utusan sudah sampai kepada mereka, tapi mereka tidak mau mendengar.

 Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. (Q.S. Al-Kahf, 18: 29)

Orang liberal menggunakan ayat ini untuk menyatakan bahwa semua agama itu benar. Jadi menurut mereka beriman dan kafir itu sama; orang Islam dan kafir itu sama saja. Mereka lupa dengan awal ayat yang mengatakan bahwa “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu”.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (Q.S. Ibrahim, 14: 1)

Kalau Allah tidak mengutus utusan maka kita berada dalam kegelapan.

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (Q.S. Al-Anbiya, 21: 25)

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S. Al-Ahzab, 33: 21)

Perilaku itu yang dicontoh itu siapa. Pemerintah ingin menanamkan karakter Pancasila. Yang dicontoh siapa dalam bab karakter Pancasila. Presiden? Menteri Pendidikan? Konsep, tapi tidak ada contoh yang bisa dijadikan sebagai acuan. Kejujuran menurut Pancasila siapa contohnya? Disiplin dalam Pancasila siapa contohnya? Islam unik karena ada sosok yang dijadikan sebagai teladan. Rasulullah memberi contoh dari yang paling kecil (tata cara masuk WC) sampai paling besar (tata cara mengurus negara).

Aisyah mengatakan akhlak Rasulullah adalah Qur’an. Jadi penerapan Qur’an adalah Rasulullah.

Manusia diciptakan untuk tujuan yang sangat mulia yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzaariyat, 51: 56)