Sabtu, 19 Mei 2018

Ramadhan - bulan pengampunan dosa (1) - Ustadz Suriani Jiddy, Lc


Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan karena mengharap balasan pahala maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.

Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang melaksanakan qiyamul lail di bulan Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharapkan balasan pahala dari Allah SWT maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni.

Apa artinya kalau dosa kita diampuni? Pengampunan dosa artinya surga karena di dalam surga tidak ada yang berdosa. Masuk surga itulah yang disebutkan oleh Qur’an sebagai keberuntungan yang besar. Masuk surga adalah cita-cita kita. Apapun kebaikan, ibadah yang lakukan kepada Allah SWT, tujuan kita adalah surga.

“Semua yang bernyawa akan merasakan kematian, sesungguhnya balasan kalian akan disempurnakan nanti pada hari kiamat. Barang siapa yang dijauhkan dari siksa, dimasukkan ke dalam surga, maka dia adalah orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran, 3: 185)

Dunia adalah kesenangan yang menipu.

Barangkali semua pemeluk agama tahu apa itu dosa. Dosa bukan sesuatu yang asing. Kecuali bagi orang yang anti Tuhan. Tapi banyak orang yang tidak takut kepada dosa. Banyak orang takut pada hukum di dunia. Takut pada pamali (ketulahan). Tapi pada dosa tidak takut.

Rasulullah SAW bersabda: setiap Bani Adam (manusia) banyak melakukan perbuatan dosa / kesalahan (kata ini menunjukkan pekerjaan yang sering dilakukan. Artinya profesi atau pekerjaan) dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah bertaubat.

Dalam Islam, manusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat dosa, tapi orang yang berbuat dosa kemudian dia iringi kesalahan tersebut dengan taubat. Islam tidak mengenal manusia yang tidak pernah berbuat salah / khilaf / dosa. Yang ada adalah orang yang tidak pernah berbuat salah. Satu-satunya manusia yang dijamin tidak berbuat dosa adalah nabi. Mereka dijamin dengan “ishmah”.

Jadi bagaimana kita yang banyak melakukan kesalahan bertaubat.

Dosa itu ada dua: dosa kepada Allah dan dosa kepada manusia. Dosa kepada Allah karena kita tidak menunaikan hak Allah yang telah memberikan nikmat kepada kita.

Allah berhak untuk diibadahi dan tidak disekutukan. Hak untuk diibadahi seperti shalat, zakat. Makna ibadah yang lain adalah ketaatan. Orang yang berbuat zina itu antara manusia dengan manusia. Ini dosa kepada Allah karena Allah melarang. Kita wajib taat kepada Allah yang melarang hal tersebut.

Ketika melanggar hak Allah, meskipun dilakukan suka sama suka maka tetap berdosa. Dalam hukum kita, bila berzina asal suka sama suka maka tidak dihukum.

Orang yang riba, meskipun suka sama suka tetap berdosa. Allah melarang hamba-Nya untuk melakukan perbuatan riba.

Suap macam-macam bentuknya. Rasulullah bersabda, yang menyuap (menyogok) dan disuap (disogok) sama-sama masuk neraka. Mereka tetap berdosa meskipun ikhlas karena ada hak Allah yang dilanggar.
Dosa kepada Allah karena kita menyakiti (berbuat zalim) kepada manusia. Ini lebih sulit karena kita harus minta maaf kepada orang yang dizalimi.

Syarat diterima taubat:
1.       Ikhlas
2.       Berhenti melakukan perbuatan tersebut
3.       Menyesal
4.       Berjanji tidak mengulangi

Kalau kita zalim, maka harus minta maaf kepada orang yang kita zalimi.

Rasulullah SAW bersabda: Muslim itu adalah orang Islam yang orang lain selamat dari gangguan kita (gangguan lisan dan tangan).

Bila kita pahami hadits ini dengan: kalau kita mengganggu orang, kita tidak disebut sebagai orang Islam.
Rasulullah SAW bersabda: tidak akan bisa masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.

“jaar” artinya tetangga atau orang disekitar kita.  Jangan sampai orang disekitar kita merasa terganggu.

Mohon maaf kepada bapak-bapak yang suka merokok. Terlepas dari merokok atau tidak boleh, haram atau tidak haram. Merokok tidak baik bagi kesehatan. Perokok pasif itu lebih berbahaya dari perokok aktif. Bahkan bahaya perokok pasif lebih buruk tiga kali lipat dari perokok aktif.

Kalau mau merokok, merokok di tempat yang tidak ada orang.

Dampak buruk dosa bagi individu dan masyarakat

1.       Orang yang berdosa dan tidak bertaubat akan terhalang untuk mendapatkan keberkahan ilmu

Imam Syafi’i mengadu kepada salah seorang gurunya (Imam Waqi’) tentang susahnya menghapal pelajaran. Imam Waqi’ memberikan nasehat: hendaklah engkau menjauhi perbuatan dosa atau maksiat. Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat dosa. Ilmu adalah modal kita. Kita beribadah dengan ilmu. Ilmu adalah dasar kita untuk melakukan berbagai macam aktivitas dunia.

Abu Darda’: jadilah kamu orang yang berilmu, atau orang yang senantiasa menuntut ilmu atau orang yang senang mendengarkan ilmu, jangan jadi orang yang keempat, tidak berilmu, tidak menuntut ilmu dan tidak senang mendengarkan ilmu, kamu pasti akan binasa.

Terhalang untuk mendapatkan keberkahan salah satunya adalah tidak mengamalkan ilmu. Tidak ada manusia yang lebih mulia dari manusia yang ada di majelis ilmu. Kekasih itu adalah wali Allah. Semua yang duduk di sini adalah wali-wali Allah.

Ilmu yang berkah:
1.       Ilmu yang diamalkan. Tahu bahwa menuntut ilmu itu pahalanya besar, maka dia menuntut ilmu.
2.       Ilmu yang bermanfaat: mengamalkannya dan menyebarluaskannya. Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Qur’an dan mengamalkannya.

Dampak buruk ilmu:
2.       kegelisahan yang dirasakan pelaku maksiat di dalam hatinya dan hilangnya kesenangan dalam hati. Barangsiapa yang berpaling dari peringatanku maka dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit, gelisah. Dia akan mencari kemaksiatan yang lain untuk menenangkan hatinya. Tidak sedikit orang yang akhirnya melakukan bunuh diri.

3.       Allah akan mempersulit setiap urusan dalam hidupnya. Terapkan ini untuk pribadi, bukan untuk orang lain. Ulama dulu ingat dengan dosa. Kalau kita lupa dengan dosa.

Kalau kita sering berdosa, tapi urusan lancar-lancar saja, kita harus hati-hati, ini namanya “istidraj” yaitu Allah memberikan kenikmatan ketika kita melakukan maksiat. Semakin banyak dosanya dia semakin sukses. Dia harus meninjau ulang, jangan-jangan ada yang tidak beres. Hal seperti ini sangat berbahaya, lihat Fir’aun, lihat Qarun, bagaimana akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!