Senin, 06 Agustus 2018

Penciptaan Manusia - Ustadz Abrar Harun


Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir (Q.S. Al-Insan, 76: 1-3)

Ada 4 perbedaan dalam penciptaan manusia:
Manusia pertama dibuat dari bahan baku langsung: tanah tembikar, tanah liat, dan lain-lain. Dia adalah Adam a.s.

Hawa diciptakan langsung dari tulang rusuk. Tidak ada perbedaan antara tulang rusuk pria dan wanita. Hawa itu kami ciptakan dari diri yang satu. Hawa tercipta dari bagian diri Adam.

Allah menciptakan Isa a.s. tidak melalui pembuahan sperma pada indung telur tapi ditiupkan ruh. Beliau disebut Isa bin Maryam.

Manusia biasa. Manusia diciptakan dari air yang hina. Air itu sebenarnya luar biasa. Manusia sering sombong padahal dia diciptakan dari air yang hina. Dia sombong karena lupa.

“... "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". ...” (Q.S. Al-A’raaf, 7: 172)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki naluri ketuhanan.

DR. Maurice Bucaille – mengatakan bahwa proses penciptaan manusia itu “mencampuri” jadi sperma itu bersifat aktif. Sperma lah yang mengejar telur. Jutaan cikal bakal manusia yang mengejar telur, tapi hanya sedikit saja yang sampai, yang bisa masuk Cuma satu.

Manusia berusaha dengan kontrasepsi. Hanya dengan spiral, manusia bisa tidak hamil. Ini menunjukkan kelemahan manusia.

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? (Q.S. Al-Baqarah, 2: 28)

“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah ... “ (Q.S. Al-Mu’minuun, 23: 14)

Ketika ditanyakan tentang ‘alaq, Jibril menunjukkan sesuatu yang menempel di rahim, bentuknya seperti kecebong. Kalau ada zat yang merusak, maka embrio tersebut bisa mati.

Apapun yang dimakan oleh ibu, maka itu disedot oleh janinnya. Kemudian dia lahir ke muka bumi setelah dilengkapi oleh Allah SWT dengan ujian (bala). Saya sedih kalau orang menolak bala. Seseorang mendapat ujian besar, itu adalah bala. Ujian apa? Ujian ketaatan kepada Allah SWT. Ketika Allah SWT ingin memberikan ujian, maka manusia dibekali dengan pendengaran, penglihatan. Allah lengkapi juga dengan hati, akal, pikir, nalar. Pada saat itu dia masih suci. Ibarat “harddisk”, dia kosong. Mau diisi yang jelek atau yang baik, itu tergantung kita sendiri.

“Ya Allah jadikanlah nama anak yang diberikan ini nama yang berkah.” Ini ucapan Nabi ketika seorang memberi nama untuk anaknya.

“Ya Allah jadikan pertumbuhannya untuk taat kepada Allah.” Ini ucapan Umar.

Psikolog menyebutkan jangan coba-coba melakukan reaksi yang salah, karena janin itu akan merekam. Apa yang dimakan ibu sangat berpengaruh pada janin. Kalau dikasih hasil korupsi, hal ini akan berpengaruh pada sang janin.

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir (Q.S. Al-Insan, 76: 3)

Kemudian dia akan diuji:

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. ... (Q.S. Al-Mulk, 67: 2)

Apa yang baik itu?

 Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan ... (Q.S. Ali Imran, 3: 104)

Baik itu adalah merujuk pada Qur’an dan Sunnah.

“ ... lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan ... “ (Q.S. Al-Baqarah, 2: 28)

Sekali-kali beli kain kafan, simpan, kasih harum-haruman, persiapan untuk kematian. Ingat pada kematian akan membatasi kita dengan maksiat. Orang yang menyelesaikan urusan dengan bunuh diri, salah besar.

“ ... dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 28)

Ketika kita menjadi anak, disuruh belanja ke pasar. Berani nggak sang anak menyalahi perintah orang tuanya. Dia tidak berani karena pertama ini adalah amanah. Kedua karena kita akan bertemu dengan orang tua. Bayangkan kalau orang tua marah.

Kalau dia beriman bahwa dia akan kembali kepada Allah, maka siapa yang akan berani mengubah ibadah. Kita diuji dengan komitmen ibadah. Siapa yang lebih baik amalnya, jadi bukan yang paling banyak amalnya.
Kalau ada orang yang kehilangan uang, dia ingatnya sama yang hilang dan melupakan apa yang masih tersisa.
Bala adalah ujian, bukan musibah. Bencana itu adalah ujian juga yang bentuknya musibah.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (Q.S. Al-Baqarah, 2: 155)

Barang siapa yang mengalami musibah kemudian mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun” dan berdo’a agar diberi ganti yang lebih baik. Malu Allah bila tidak mengganti dengan yang lebih baik.

Hadits ini sehubungan dengan Ummu Salamah yang suami dan anak-anaknya meninggal di medan perang. Dia sudah membaca inna lillahi wa inna lillahi rojiun dan minta ganti yang lebih baik. Ketika hal ini disampaikan kepada Rasulullah, maka Rasulullah menikahinya.

Imam Malik dan Imam Syafi’i bertengkar. Imam Syafi’i membaca ayat :

Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tingi, yang menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk, (Q.S. Al-A’laa, 87: 1-3)

Kata Imam Malik mengatakan kita ikut saja karena semua sudah ditentukan. Imam Syafi’i tidak setuju, burung tidak akan bisa terbang bebas kalau tidak keluar dari sarangnya.

Ketika Syafi’i dapat anggur, dia beri pada gurunya Malik. Syafi’i mengakui kebenaran penafsiran gurunya tentang ayat diatas.

Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (Q.S. Adh-Dhaariyat, 51: 19)

Jadi kalau ada hak orang miskin, lalu tidak kita keluarkan, maka mungkin akan terjadi sesuatu yang membuat jumlah yang seharusnya dikeluarkan itu akan keluar, misalnya sakit, dll.