Minggu, 24 Februari 2019

Arba'in Nawawi - Hadits ke-17 oleh Ustadz Suriani Jiddy, Lc (1)


Dari Abi Ya’la bin Aus, dari Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan pada setiap sesuatu, maka apabila kalian membunuh maka berlaku ihsanlah dalam membunuh. Dan apabila kalian menyembelih binatang, berlaku ihsanlah dalam penyembelihan. Dan hendaklah salah seorang diantara kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan binatang sembelihannya.

Dalam kitab Al-Wafi’, pengarang menulis judul keumuman ihsan.

Hadits ini merupakan salah satu kaidah penting dalam agama, karena hadits ini memuat hal-hal yang menunjuk pada kesempurnaan syariat Islam, karena melaksanakan sesuatu dalam Islam adalah suatu keniscayaan.

Dulu kita pernah membahas Ihsan dalam hadits Jibril : Iman, Islam dan Ihsan

Kebaikan ada 3: (1) kebaikan dari sisi agama; (2) kebaikan dari sisi duniawi; (3) kebaikan dari sisi ukhrawi

Definisi Ihsan secara bahasa : 

(1) berbuat baik; lawannya berbuat buruk. Dalam hadits: Sesungguhnya Allah mewajibkan al-ihsan. Sesungguhnya Allah mewajibkan kita melakukan kebaikan dalam segala hal. Lawannya mengerjakan keburukan. 

(2) Memberikan kebaikan (memberi sesuatu yang bak) kepada orang lain. Berbuat baik sifatnya umum, kepada diri sendiri, bisa kepada orang lain. Kalau yang kedua ini kepada orang lain. 

(3) Melakukan sesuatu dengan baik. Apakah sesuatu itu berkaitan dengan diri sendiri atau orang lain. Dengan kata lain bekerja secara profesional; 

(4) Melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan.

Ulama membagi ihsan menjadi dua : 

(1) berlaku ihsan dalam beribadah kepada Allah ; 

(2) berbuat ihsan dalam menunaikan hak-hak manusia.

Hak Allah: hak untuk diibadahi dan hak untuk tidak disekutukan. Ibadah yang paling agung adalah shalat sebagaimana yang kita pelajari dalam kitab Fiqhus Sunnah oleh Sayyid Sabiq. Kita perlu memperbaiki shalat kita.

Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa yang paling ihsan amalnya (Q.S. Al-Mulk, 67: 2)

Allah tidak mengatakan siapa yang paling banyak amalnya. Allah tidak menanyakan kuantitas, tapi kualitasnya. Kita harus memperbaiki shalat dengan cara menuntut ilmu. Shalat itu kita mulai dari wudhu’. Barang siapa yang berwudhu dan menyempurnakan (memperbaiki) wudhu’ nya maka dosa-dosanya akan berguguran sebagaimana gugurnya air dari bagian tubuh yang dibasuhnya.

Kalau kita membasuh wajah, maka dosa-dosa yang dilakukan oleh wajah akan gugur, Ketika membasuh kaki maka dosa-dosa yang dilaksanakan oleh kaki akan berguguran.

Begitu juga dengan shalat. Kita perbaiki kualitas shalat kita, mulai dari niat sampai selesai. Shalat inilah yang akan mencegah orang yang mengerjakannya dari perbuatan keji dan mungkar. Syaratnya harus ihsan. Kalau tidak ihsan, maka meskipun shalat, tapi tetap melakukan perbuatan keji dan mungkar. Ini kuncinya mengapa shalat kita tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar.

Menjauhi perbuatan-perbuatan yang menjurus pada syirik dan perbuatan syirik itu sendiri.
Ihsan dalam menunaikan hak-hak manusia.

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,  (Q.S. An-Nisa, 4: 36)

Allah menyejajarkan berbuat baik kepada Allah dengan berbuat ihsan kepada kedua orang tua.
Dalam surat Al-Isra’ : Dan Allah sudah menetapkan agar kamu tidak menyekutukan Allah dan berbakti kepada kedua orang tua.

Ada dua pendapat tentang tetangga: 

(1) tetangga dekat adalah tetangga yang dekat dengan rumah kita dan tetangga jauh adalah yang jauh dari rumah kita; 
(2) tetangga dekat adalah Muslim; tetangga jauh adalah Non-Muslim.

Dalam dunia bisnis ada istilah profesionalisme. Sebagai pegawai, kita berkewajiban bekerja secara profesional karena tempat kita bekerja berhak mendapatkan kerja kita yang profesional.

Percuma saja ibadahnya baik, tapi kita tidak ihsan dalam bekerja. Seorang hamba yang shalih itu adalah hamba yang menunaikan hak Allah dan hak manusia. Orang seperti ini belum disebut shalih.
Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah suka jika seseorang mengerjakan pekerjaannya, dia itqan (ihsan) dalam pekerjaannya. Dia mengerjakannya secara profesional.

Standar profesionalitas:

(1) menguasai pekerjaan; ahli pada pekerjaannya; pekerjaan tidak dikerjakan secara asal-asalan. Kalau pekerjaan itu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Sebagai guru, kita harus menekuni bidang pendidikan. Kalau jadi guru paling tidak menguasai ilmu yang akan kita ajarkan dan menguasai metode cara menyampaikan materi itu. Metode kadang lebih baik dari materi. Materi bagus, tapi cara penyampaiannya tidak baik. Kita perlu meningkatkan kualitas dalam hal keahlian. Kadang kita ditempatkan bukan pada keahlian kita. Kita harus bekerja keras untuk mempelajari hal yang baru ini. Sebagai pegawai kita terikat kontrak. Kalau kita yang membuat kebijakan, kita harus bekerja profesional. Kita menempatkan orang sesuai bidang kita. Sekarang sedang musim pencalegan, mereka harus belajar masalah politik. Pilih yang shalih. Yang tidak shalih tidak boleh dipilih. Memilih yang tidak shalih itu haram.

(2) mempunyai loyalitas. Kesetiaan kepada pekerjaan, kesetiaan kepada pimpinan. Ini sama dengan al-wala’ dan al-barra’. Selain itu juga rasa percaya. Loyalitas penting dalam suatu pekerjaan. Bagaimana kita bisa bekerja dengan baik kalau kita tidak mencintai pekerjaan tersebut.

(3) mempunyai integritas. Tanda-tanda orang munafik: kalau dia berbicara dia berdusta, kalau berjanji dia ingkar, kalau dia diberikan amanah dia khianat.

(4) mampu bekerja keras tidak asal-asalan.

(5) mempunyai visi. Visi kita adalah untuk mendapatkan surga. Untuk mendapatkan surga, mencari pekerjaan yang halal; kemudian profesional. Pejabat publik banyak pahalanya karena mengurusi orang banyak. Pemimpin suatu kaum adalah pelayannya. Yang dilayani banyak. Caleg DPRD dengan DPR itu beda.

(6) mempunyai kebanggan. Bangga dengan pekerjaan kita. Pekerjaan kita harus halal dan baik, mulia. Kalau pekerjaan kita maksiat, tidak boleh. Orang yang berbuat dosa tidak boleh menceritakan kepada orang lain. Apalagi kalau bangga dengan maksiat yang kita lakukan.

(7) mempunyai komitmen atau istiqomah. Komitmennya sampai akhir hayat.

(8) mempunyai motivasi. Pekerjaan kita diniatkan untuk ibadah.

x

Salah satu sebab tidak bisa khusyu' adalah karena tidak tahu khusyu' itu apa. 

Ada tiga: niat, hadir dan khusyu'. Niat shalat. Ada yang melafazkan. Niat adalah bermaksud melakukan sesuatu saat sesuatu itu akan dilakukan. Hadir itu menghadirkan perasaan saat kita melakukan pekerjaan itu. Perasaan kita hadir dalam shalat. Khusyu' itu berat. Khusyu' itu karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang tertentu. Bagaimana kalau shalat seseorang tidak khusyu' maka kita harus berusaha terus untuk mendapatkannya. 

Sesungguhnya shalat itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!