Sabtu, 23 Februari 2019

Do'a agar hati tidak condong pada kesesatan oleh Ustadz Suriani Jiddy, Lc


Do’a harian yang baik kita baca:

(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)". (Q.S. Ali Imran, 3: 8)

Kita juga membaca Al-Fatihah:

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (Q.S. Al-Fatihah, 1: 6)

Banyak hal yang dapat membuat kita tergelincir.

Fitnah dalam bahasa Indonesia beda dengan bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia fitnah artinya tuduhan tanpa bukti. Dalam bahasa Arab fitnah adalah hal yang dapat menggelincirkan kita, menggoda, misalnya fitnah dunia, fitnah wanita.

Fitnah itu ada dua: (1) fitnah syahwat; (2) fitnah syubhat

Rasulullah SAW: bersegeralah kalian melakukan kebaikan sebelum datangnya fitnah. Fitnah itu seperti sebagian malam yang gelap gulita (kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan kita). Di pagi hari seseorang beriman, di sore hari dia kafir. Atau di sore hari dia beriman dan di pagi hari dia kafir.
Fitnah ini sangat luar biasa. Pagi hari beriman, sore hari kafir atau sore hari beriman, pagi hari kafir.

Fitnah syahwat. Syahwat adalah keinginan.

Sesungguhnya nafsu (syahwat) senantiasa memerintahkan kepada yang tidak baik (keburukan). Bentuknya berbagai macam keinginan manusia yang tidak terkendali, tidak ada batasnya. Sehingga Nabi mengatakan, begitu serakahnya manusia sehingga kalau mereka diberi dua lembah emas, mereka masih minta lagi.

Orang serakah dan lain-lain timbul karena tidak mensyukuri apa yang ada.

Zuhud atau qanaah adalah merasa cukup dengan apa yang ada. Kita tidak dilarang untuk meminta tambahan yang wajar.

Nabi mengajarkan kita agar merasa cukup dengan apa yang kita miliki:

Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’ dan dari nafsu yang tidak pernah merasa puas (serakah), dan aku berlindung kepada engkau dari do’a yang tidak dikabulkan.

Dr. Adian Husaini menyebutkan ada empat hal yang dipuja atau dipertuhankan: (1) syahwat kekayaan. Bagaimana orang ingin mendapatkan kekayaan dengan berbagai macam cara, menghalalkan segala cara; (2) syahwat kecantikan. Agar bisa dikatakan cantik mereka menghalalkan secara cara, misalnya melalui perlombaan ratu kecantikan. Manusia dianggap sebagai manusia bukan karena fisik, tapi karena jiwanya. Kalau kemuliaan manusia diandalkan pada fisik, sangat lemah. Kalau kecantikan hanya sebatas kulit, maka ini tidak benar. Para ulama mengatakan, manusia dianggap manusia karena jiwanya. Qur’an selalu menyebut kata jiwa atau hati.

Pada hari itu tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.

Sungguh beruntung orang yang membersihkan hatinya (jiwanya).

Ada wanita yang mengasuh Nabi sejak kecil yaitu Ummu Aiman. Ummu Aiman juga menemani Aminah yang berkeinginan menziarahi makam suaminya. Sepulang dari ziarah, Aminah meninggal dunia. Rasulullah didampingi oleh Ummu Aiman (kulit hitam dan tidak diketahui asal usulnya tapi sangat mulia). Begitu mulianya, Rasulullah senantiasa menyebutnya dengan panggilan Ummi. Nabi Muhammad menawarkan kepada para sahabat yang menikahinya. Rasulullah mengatakan: siapa yang mau menikahi salah seorang dari wanita ahli surga. Salah seorang sahabat menikahinya.

Bilal bin Rabbah adalah seorang budak.

Wanita itu dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, karena kecantikannya, ... jadi fisik juga penting, tapi ada yang lebih penting.

(3) syahwat popularitas. Apalagi sekarang banyak yang mencaleg. Popularitas ujung-ujungnya akan mendatangkan materi. Bintang iklan kalau tidak populer, tidak laku. (4) syahwat kekuasaan.

Kita tidak menafikan harta, karena itu adalah fitrah manusia. Manusia itu sangat senang kepada harta, tapi bagaimana syahwat ingin menumpuk harta tidak menggelincirkan kita.

Fitnah syubhat. Syubhat adalah berbagai macam kerancuan berpikir yang kalau kita tidak belajar dengan baik, kita akan terpengaruh.

Ada video propaganda PKI, dia tidak hanya menghina Islam tapi juga menghina semua agama. Dia bilang, untuk menjadi orang Islam sangat mudah, cukup mengucapkan dua kalimat syahadat. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Sampai disini tidak ada masalah. Syubhatnya adalah: kalau memberi kesaksian kita harus mengetahui dan melihat. Jadi dia ingin bilang bahwa kalau bersaksi maka agar persaksiannya sah, maka kita harus pernah melihat Tuhan. Dia bilang, jangan dengar kata ulama, jangan dengar kata ustadz, kalau tidak melihat itu adalah kesaksian palsu.

Kalau kita tidak pernah belajar, maka ini bisa menggelincirkan kita. Kita akan bilang benar juga ya, karena kita tidak pernah melihat Tuhan dan Rasulullah. Penganut agama lain juga akan terpengaruh.
Bagaimana kita menjawabnya? Bagaimana kita menjelaskan bahwa persaksian kita benar.

Apakah kalian meyakini bahwa laki-laki dan perempuan yang ada di rumah kalian adalah bapak dan ibu kalian. Pernah nggak kalian melihat bagaimana kalian dilahirkan.

Kita meyakini karena kesaksian orang lain. Nabi Muhammad SAW kita yakini sebagai manusia yang sangat jujur. Beliau tidak pernah berdusta. Kejujuran Nabi tidak hanya diakui oleh sahabat beliau tapi juga oleh musuh beliau. Semua ucapan Nabi pasti benar. Tentang Allah, yang memberi tahu adalah Nabi Muhammad SAW.

Kalau tidak belajar, kita bisa termakan.

Cara menghadapi ujian adalah sabar. Kita tidak boleh membalas keburukan dengan keburukan. Kita do’akan orang yang memfitnah tidak mengulangi perbuatannya.

Imam Hasan Al-Banna: jadilah kalian seperti pohon yang berbuah, pohon itu dilempari pakai batu, tapi dibalas dengan buah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!