Sabtu, 13 April 2019

Arba'in Nawawi - Hadits ke-18 (5) - Ustadz Suriani Jiddy, Lc

Perlakukanlah manusia dengan akhlak yang baik

Mempelajari masalah akhlak adalah sesuatu yang fardhu 'ain. Ada adab mau tidur, ada adab tidur, ada adab sesudah bangun tidur. Carut marutnya negara ini adalah karena masalah akhlak. Bukti yang paling konkrit adalah ketika kurikulum kita tidak memasukkan adab sebagai bagian yang perlu diprioritaskan. Hal ini terjadi karena yang membuat kurikulum tidak mengerti.

Syaikh Abdul Hamid Qisth - kurikulum kita dibuat oleh orang-orang yang sangat jauh dari agama. Pengaruh paham sekularisme sangat kuat di Mesir.

Anak-anak kita sedang mengikuti ujian. Pelajaran yang diujikan, diantaranya ada pelajaran akhlak. Kalau ada anak yang akhlaknya tidak baik, tapi nilainya baik, dia tetap lulus.

Umat-umat dahulu dibinasakan karena krisis akhlak. Inilah yang disebut oleh Prof. Naquib Al-Attas: problem terbesar yang dihadapi oleh umat Islam adalah kehilangan adab.

Bagaimana perhatian Islam terhadap adab, sehingga kita menjadi sangat bersyukur kepada Allah karena sudah diberikan nikmat Islam, Iman, hidayah, Qur'an, kedatangan Rasulullah SAW yang mengajarkan kepada kita tentang konsep akhlak dan contohnya. Islam mengajarkan konsep dan menyediakan sosok yang bisa dicontoh secara nyata.

Dalam surat Al-Ahzab ayat 21 Allah berfirman: Sungguh dalam diri Rasulullah ada suri teladan yang baik bagi kamu ...

Teladan yang baik dalam segala hal adalah seluruh kehidupan Rasulullah SAW. Contoh tersebut dari jenis manusia, bukan malaikat. Sehingga tidak ada alasan untuk tidak bisa meneladaninya. Kalau utusan dari malaikat, maka akan ada alasan kita tidak bisa meneladaninya.

Katakanlah: Sesungguhnya aku adalah manusia seperti kamu ...

Siapa yang bisa mencontoh Rasulullah: orang yang mengharapkan perjumpaan dengan Allah dan hari akhir. Karena itu para ulama mengatakan bahwa ada korelasi antara kuatnya kita dalam mencontoh dan meneladani Rasulullah SAW dengan rasa harap kita untuk bertemu Allah dan bertemu surga. Semakin besar harapan kita berjumpa dengan Allah SWT maka semakin kuat semangat kita untuk meneladani Rasulullah SAW. Semakin rindu kita kepada surga, semakin semangat kita mencontoh dan meneladani Rasulullah SAW. Semakin tidak mengharapkan berjumpa dengan Allah, tidak mengharapkan surga, semakin jauh dia dari meneladani Rasulullah SAW.

Barangsiapa yang mau berjumpa dengan Allah, Allah pun mau berjumpa dengannya. Orang yang tidak mau berjumpa dengan Allah, maka Allah pun tidak mau berjumpa dengannya (Hadits)

Contoh dan keteladanan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW hanya dapat diambil oleh orang-orang yang beriman. Keimanannya dilandasi oleh ilmu. Ilmu adalah mengenal Allah, mengenal Nabi dan mengenal Islam (agamanya).

Ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah kita tidak mengarahkan pada mengenal Allah, mengenalkan Nabi dan mengenalkan Islam.

Dalam konsep mengajarkan ilmu: semakin banyak belajar semakin bertambah keimanan kepada Allah SWT. Semakin tinggi kelas, semakin takut kepada Allah. Konsep seperti ini sulit kita temukan. Ilmu sebatas pengetahuan yang hampa dari nilai-nilai agama. Ilmu tersekulerkan.

Budi pekerti yang kita ajarkan di sekolah-sekolah kita tidak menyodorkan sosok yang bisa dicontoh. Contohnya karakter Pancasila, kalau kita bicara karakter Pancasila, siapa yang bisa kita contoh dan kita bisa teladani mulai dari sila pertama sampai pada sila terakhir.

Katakanlah: Kalau kamu benar-benar mencintai Allah, ikuti aku. (Q.S. Ali Imran, 3: 31)

Kalau kita benar-benar beriman kepada Allah, maka wajib meneladani Rasulullah. Tidak ada artinya kita mengaku beriman kepada Allah, cinta kepada Allah kalau kita tidak menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Suatu ketika Aisyah r.a. ditanya dengan tentang akhlak Rasulullah. Beliau menjawab: Adalah Rasulullah itu Al-Qur'an. Maknanya, Qur'an harus kita jadikan sebagai landasan utama dan pokok dalam berakhlak. Kalau akhlak mau baik, kuncinya Al-Qur'an. Sejauh mana hubungan kita dengan Qur'an.

Kesalahan yang sangat fatal adalah ketika pembuat kebijakan dalam bidang pendidikan menyamakan antara umat Islam dan orang-orang diluar Islam dalam hal pembuatan kurikulum. Kurikulum pendidikan yang diterapkan untuk umat Islam sama persis dengan untuk orang-orang yang non-Muslim. Bagaimana kita mau menerapkan adab dan akhlak.

Ketika akhlak Rasulullah adalah Qur'an, maka salah satu pelajaran anak-anak kita harusnya Qur'an.

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (Hadits)

Seluruh Nabi dan Rasul yang diutus Allah SWT memiliki risalah yang sama yaitu tauhid (aqidah). Akhlak dan tauhid tidak bisa dipisahkan, misalnya Mu'min yang paling sempurna imannya, yang paling baik aqidahnya, yang paling baik tauhidnya adalah yang paling mulia akhlaknya. Semakin baik kualitas tauhid, aqidah, maka baik pula akhlaknya.

Lukmanul Hakim memberi nasehat kepada anaknya: wahai anakku janganlah kamu sekali-kali menyekutukan Allah karena menyekutukan Allah adalah kedzaliman yang besar.

Mu'min yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaknya.

Tidak ada sesuatupun yang lebih berat dalam timbangan seorang mu'min di hari kiamat melainkan akhlak yang mulia.

Kualitas keimanan dan kualitas tauhid sangat berhubungan dengan akhlak.

Rasulullah SAW ditanya tentang hal yang paling banyak memasukkan orang ke surga: takwa dan akhlak yang mulia. Hal yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka: mulut dan kemaluan.

Akhlak yang mulia adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tauhid.

Sesuatu yang disebutkan khusus setelah yang umum menunjukkan keutamaannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!