Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Bank Indonesia menyerahkan bantuan pembuatan rumah pembibitan ikan kepada Pondok Pesantren Al-Amin Kapuas

Dari kiri ke kanan: Giyar, Widodo, Supriyanto, Edwin, Prasustyawatiningsih
Pada hari Senin, 27 Mei 2019, Pondok Pesantren Al-Amin Kapuas kembali menerima bantuan dari Bank Indonesia. Kali ini untuk pembuatan rumah pembibitan ikan. Bantuan sebelumnya adalah untuk budi daya ikan dengan kolam diatas tanah.

Bantuan diserahkan oleh pejabat Bank Indonesia Palangka Raya yaitu Ibu Prasustyawatiningsih didampingi oleh Bapak Edwin kepada Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amin Kapuas yaitu Bapak Supriyanto, M.Pd yang didampingi oleh pengurus pondok pesantren yaitu Bapak Widodo dan Bapak Giyar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas