Rabu, 15 Mei 2019

Hikmah ujian bagi orang beriman - Yasir Qadhi



Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. Al-Ankabut, 29: 1-3)

Ada sekitar 24 hadits terkait tentang masalah ujian.

Tujuan ujian adalah untuk mengetahui siapa yang benar ketika dia mengatakan saya beriman dan siapa yang berdusta.

Rasulullah memprediksi dalam Hadits Sahih oleh Imam Muslim, yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash: Merupakan kewajiban bagi setiap Nabi untuk menyampaikan kepada umatnya untuk menjadi manfaat bagi mereka. Sudah disampaikan kepada saya bahwa umatku akan diuji. Masa awal adalah masa keberkahan. Untuk generasi berikutnya dan diuji dengan hal yang mereka tidak mengerti. Setiap ujian tersebut menimpa mereka, mereka akan mengatakan: Fitnah ini akan menghancurkan kita. Dan Allah akan mengangkat ujian. Ketika ujian menimpa mereka, mereka mengatakan: This is the one, this is the one.

Tidak ada dalam sejarah manusia, dalam satu generasi (sahabat dan tabi’in) berhasil membuat kekhilafan dari Cina sampai Andalusia.

Dalam Sahih Bukhari disampaikan bahwa umat berikutnya akan diuji dengan ujian yang lebih berat sampai datangnya Dajjal.

Sahih Muslim, ketika Rasulullah duduk bersama sahabat diatas atap rumahnya: Aku melihat ujian menimpa kalian seperti jatuhnya hujan.

“Fatana” artinya adalah to sit through until separate between truth and evil

Dalam bahasa Arab kuno, pandai besi di sebut Fattaan karena tujuannya adalah memisahkan emas dengan unsur lainnya. Tukang besi memberikan fitnah kepada emas sehingga dia menjadi murni.
Rasulullah menyampaikan dalam hadits sahih bahwa ketika ujian itu dihadapkan ke hati ada ada satu atau dua pilihan: dia menolak ujian tersebut dan lulus ujian sehingga hati menjadi makin suci (pure). Atau dia akan menyerap ujian tersebut, kemudian ujian tersebut menjadi titik hitam. Penolakan terhadap ujian akan menjadi imunitas untuk menolak ujian berikutnya. Ketika hati menyerap ujian, maka dia akan kehilangan imunitas untuk menolak ujian berikutnya.

Seolah-olah Rasulullah bersabda: tidak ada hati kecuali pada satu dari dua: murni (pure) seperti salju atau kotor, membusuk.

Ujian adalah bagian dari iman dan kehidupan kita. Ujian itu bermacam-macam, ada yang tingkat individu, keluarga, komunitas, nasional, internasional.

Rasulullah dan Qur’an menyebutkan berbagai macam ujian.

Rasulullah bersabda bahwa setiap umat memiliki ujian yang diturunkan khusus untuk umat tersebut.
Fitnah umatku adalah harta (H.R. Tirmidzi)

Ujian umat sebelum Islam adalah kemiskinan dan pembantaian.

Rasulullah sampai meninggal tidak pernah makan secara penuh, dua waktu makan. (H.R. Bukhari)

Ketika ghanimah datang dari Bahrain, Rasulullah membagikannya untuk para sahabat. Beliau mengatakan: ambil ini, ambil ini. Demi Allah aku tidak khawatir kalau kalian miskin sesudahku, tapi yang aku khawatirkan adalah uang akan jatuh kepada kalian, kalian akan berlomba untuk mendapatkan uang tersebut. Kamu akan jumping each other (rat race). Saat perlombaan tersebut, kalian akan dihancurkan sebagaimana umat sebelum kalian.

Sebagian kalian akan menjadi ujian bagian sebagian yang lain, apakah kalian akan sabar.

Para ahli tafsir mengatakan bahwa setiap kita adalah ujian bagi orang lain dan orang lain adalah ujian bagi kita. Kalau Anda kaya, Anda ujian bagi orang miskin. Bila Anda miskin, Anda ujian bagi orang kaya. Pria – wanita. Penguasa – rakyat. Negara-negara. Kelompok-kelompok.

Tujuannya apakah kamu sabar dengan ujian ini?

Salah satu ujiannya adalah friksi hubungan antar manusia. Kita menghormati para sahabat, mereka tidak selalu rukun, bisa terjadi perang (Shiffin, Jamal). Muawiyah dan Husein.

Imam Ahmad ditanya tentang ujian para sahabat. Beliau mengatakan bahwa itu adalah kerangka waktu dimana Allah menyelamatkan pedang kita dari berpihak; mari kita selamatkan lidah kita dari berpihak.

Kamu bisa punya iman, kamu bisa punya takwa dan kamu tetap bisa tidak setuju dengan orang yang punya iman dan takwa.

Ketika orang di sekitar Ali mengucapkan kata-kata yang tidak pantas tentang kelompok lawannya, Ali memarahinya dengan mengatakan: Mengapa kamu tega mengatakan hal seperti itu. Orang tersebut berkata: Wahai amirul mu’minin, tidakkah kita sedang berperang dengan mereka? Ali berkata: Aku bersumpah demi Allah, aku menginginkan agar aku dan dia sebagaimana yang Allah gambarkan dalam Qur’an: wanaza’na fii shudurihim min ghillin ikhwaan ‘ala sururin mutaqoobilin – kami akan menyingkirkan permusuhan dari hati mereka, dan kami akan membuat mereka yang bermusuhan di dunia ini menjadi saudara dan saling berpandangan satu sama lain.

Rasulullah duduk diantara Abu Bakar dan Umar. Kemudian Rasulullah bertanya kepada mereka apa yang sebaiknya mereka lakukan. Umar mengatakan bahwa lebih baik kita lakukan ini. Abu Bakar berkata bahwa lebih baik kita melakukan itu. Umar berkata kepada Abu Bakar: Demi Allah, engkau selalu berkata Y karena aku berkata X. Abu Bakar berkata: Demi Allah tidak demikian. Umar berkata: Demi Allah, engkau demikian. Keduanya mulai meninggikan suara dihadapkan Rasulullah. Rasulullah berkata: Tidak layak bila suara ditinggikan dihadapanku. Keduanya langsung diam.

Tujuan ujian:

Untuk melihat apakah tindakan kita sama dengan apa yang kita yakini.

Waktu terjadi ujian, harusnya membuat kita kembali kepada Allah SWT. Ujian harus membuat hati kita lembut.

Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Menyembah Allah diwaktu terjadi ujian akan mendapatkan pahala hijrah kepadaku.

Hampir tidak mungkin saudara kita di Rohingya, Syiria untuk menyembah Allah. Dalam kondisi tersebut, mereka mendapatkan ketenangan dari Allah saat beribadah.

Bila berita buruk sampai kepada Rasulullah, maka beliau akan bersegera untuk shalat.

Dalam Sahih Bukhari, ketika Rasulullah terbangun di tengah malam, beliau membulatkan jempol dan telunjuknya dan mengatakan: lubang sebesar ini telah terbuka bagi Ya’juj dan Ma’juj. Bangunkan yang tidur, sehingga mereka bisa shalat.

Ibadah yang utama saat terjadi ujian adalah do’a.

Mengapa mereka tidak berdo’a kepada kami ketika mereka merasakan ujian kami. Hal itu terjadi karena hati mereka menjadi keras.

Saat terjadi ujian, sangat bijak bila kita memberitahu manusia tentang tujuan dari ujian tersebut. Seringkali bila terjadi ujian, kita emosi dan kita tidak berpikir dengan jernih. Inilah yang membedakan orang yang bijak dengan orang yang bodoh. Ini yang membedakan ulama dengan orang biasa.

Ulama tahu ketika ujian datang. Ketika ujian berakhir, semua orang tahu bahwa ini adalah ujian.
Saat terjadi ujian, perlu menemui orang yang bijak dan ulama.

Kisah Qarun dalam Surat Al-Qashash:

( 76 )   Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri".

( 79 )   Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar".
( 80 )   Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar".

( 81 )   Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

( 82 )   Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)".

Saat terjadi ujian, jangan biarkan emosi berbicara.

Kita harus mencari ulama yang sesuai dengan masalah kita.

Ada orang yang terlalu mengidolakan ulama dan menganggapnya dia tahu semuanya.

Umar melihat Ubay bin Ka’ab berjalan di pasar dan dikelilingi oleh penggemarnya. Umar mengambil tongkat dan memukulnya. Ubay berkata: Apa yang sudah saya lakukan? Umar berkata: Wahai Ubay, ini adalah ujian bagi yang mengikuti dan ujian bagi yang diikuti.

Bagaimana dengan orang yang memiliki follower jutaan di media sosial.

Ketika orang yang dipuja berbuat kesalahan akan dianggap sebagai kesalahan Islam.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan: Bila Imam Bukhari tidak pernah ada, agama Islam tetap akan bertahan.

Meskipun kita berkhidmat kepada Islam. Islam tidak memerlukan kita.

Ulama yang sebenarnya adalah orang yang takut kepada Allah SWT.

Ulama ini tidak hanya ilmu agama. Ulama tidak dilatih dalam terapi, ilmu sosial, mereka bukan psikologis. Saya tidak pernah belajar konseling. Saya tidak menerima konseling dan terapi.

Hikmah dari ujian:

Allah tidak menyukai keburukan (fasad – evil) tapi Allah menyukai kebaikan yang akan memerangi keburukan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Barangsiapa yang menyambungkan silaturahim lebih baik dari berjihad di jalan Allah
Setan yang memutuskan hubungan. Allah berfirman:

dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Al-Anfal, 8: 63)

Ketika terjadi ujian jangan jadi orang yang memotong dan memutuskan hubungan, tapi jadilah orang yang menggabungkan dan menyatukan.

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (Q.S. An-Nisaa, 4: 114)

Rasulullah bersabda: Tidak berbohong kecuali dalam tiga hal: (1) mendamaikan antara manusia ...
Ali dan Muawiyah saling mengirim utusan untuk perdamaian.

Do’a yang dibaca saat mendapat ujian: Allahummahdini limakhtulifa fiihi minal haqqi biiznih – Ya Allah tunjuki aku menghadapi perbedaan diantara manusia.

Bisa jadi kita menganggap kita benar padahal kita salah.

Jangan bersikap emosional, kembali kepada Allah, bertanya kepada ulama dan pemimpin, berdo’a untuk petunjuk, lakukan rekonsiliasi bila memungkinkan,

Selalu berdo’a kepada Allah: Allahumma allif baina qulubina ...

1 komentar:

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!