Minggu, 16 Juni 2019

Arbai'in Nawawi Hadits ke-19 - Ustadz Suriani Jiddy, Lc (3)



Tingkatan takdir ada 4 menurut Syaikh Utsaimin yaitu:

1.       Ilmu – Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang terjadi baik sesuatu yang tidak ada permulaannya dan sesuatu yang tidak ada akhirnya.

2.       Kitaabah (penulisan) – Apa yang Allah ketahui itu ditetapkan dalam suatu catatan lengkap di Lauhul Mahfudz. Sesungguhnya Allah menulis takdir semua makhluk 50.000 tahun sebelum dia menciptakan langit dan bumi.

3.       Semua yang terjadi di alam ini, tidak terjadi kecuali dengan izin Allah SWT.

4.       Amal perbuatan makhluk adalah diciptakan oleh Allah SWT.

Bantahan bagi orang yang menyalahkan takdir.

Allah menurunkan syariat untuk kemaslahatan hamba-Nya.

Buah beriman kepada takdir:

Tawakal kepada Allah ketika mengerjakan sebab.

Kita kenyang karena kita makan. Rasa haus hilang karena kita minum. Kita sembuh karena berobat. 

Tawakal adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah SWT. La haula wala quwwata illa billah. Tidak ada kekuatan selain daripada Allah SWT. Persoalan kita adalah karena kita merasa memiliki. Allah SWT berfirman: berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah dia mengatakan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya). Diri kita dari kepala sampai kaki adalah milik Allah SWT. Tawakal adalah berserah diri kepada Allah SWT.

Budak itu tidak bebas berbuat. Semua yang akan dia lakukan harus seizin majikannya. Bahkan pikirannya pun harus sejalan dengan pikiran majikannya. Kita ini adalah “abdun” (hamba) Allah SWT.

Contoh sebab:

Berusaha, untuk mencari rezeki. Rezeki bisa berbentuk uang dan materi. Kita tidak boleh bersandar pada usaha. Maksudnya, kalau kita sudah berusaha keras, seoptimal mungkin, tapi belum mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tidak bersedih karena kita sudah berusaha. Usaha itu adalah sebab. Kalau ada orang yang bersandar pada sebab, takutnya ketika dia sudah berusaha sedemikian rupa kemudian tidak dapat, dia akan menggerutu. Allah meminta kita berusaha, bukan hasilnya.

Berobat untuk kesembuhan. Yang menyembuhkan penyakit bukan obat, bukan dokter, bukan usaha itu sendiri. Meskipun kita sudah berusaha dan tidak sembuh, semuanya bernilai di sisi Allah SWT.

Perjuangan untuk meraih kemenangan. Perjuangan untuk mendapatkan kebenaran. Katakanlah kebenaran telah datang, kebatilan pasti tumbang. Sesungguhnya kebatilan pasti akan tumbang. Kebatilan tidak akan tumbang begitu saja. Perjuangan adalah usaha.  Bila Allah belum memberikan kemenangan maka perjuangan itu tidak akan sia-sia, tetap bernilai disisi Allah SWT.

Rajin belajar untuk mendapatkan ilmu. Kemampuan menyerap ilmu satu orang dengan orang yang lain berbeda-beda. Ada santri yang rajin belajar tapi tidak bisa-bisa. Ada yang tidak rajin belajar, tapi cepat menangkap pelajaran. Kita belajar menghapalkan pelajaran, disamping kita ada teman yang dikaruniai menghapal dengan mendengar. Kita yang susah-sudah mendengar belum tentu hapal. Dalam bahasa tarbiyah adalah malakah tarbiyah atau kemampuan belajar.

Termasuk do’a. Do’a itu adalah salah satu sebab. Apakah semua do’a yang kita panjatkan akan langsung Allah kabulkan? Tidak.

Ada tiga kemungkinan dari do’a:

Pertama. Allah SWT akan memberikan apa yang kita inginkan.
Kedua. Allah tidak memberikan apa yang kita minta, tapi memberi apa yang lebih baik.
Ketiga, Allah tidak kabulkan apa yang kita minta, tidak diganti, tapi disimpan untuk diakhirat.

Allah tidak menuntut hasil, tapi usaha. Teruslah berdo’a karena do’a akan bermanfaat disisi Allah SWT.

Buah dari tawakal yang kedua adalah agar orang tidak mengagumi dirnya.

Mengagumi diri sendiri akan menghasilkan sikap takabur. Takabur adalah sifat Iblis. Iblis itu suka menentang dan sombong.

Bila apa yang kita usahakan tercapai, biasanya kita takabur. Contoh manusia sombong adalah Qarun. Ketika ditanya darimana dia mendapatkan harta yang begitu banyak? Dia menjawab: Harta yang banyak itu aku dapatkan karena ilmu yang aku miliki (jerih payahku, tetes keringatku). Ini sikap sombong.

Bandingkan dengan Nabi Sulaiman yang Allah berikan kekayaan yang lebih banyak dari Qarun. Allah limpahkan juga kepadanya kekuasaan yang rakyatnya bukan saja manusia, tapi juga jin dan binatang. Beliau mengatakan bahwa ini adalah karunia Tuhanku. Beda dengan ucapan Qarun.
Dalam Surat Al-Alaq, Allah berfirman: Sesungguhnya manusia itu bersikap menjadi seorang diktator (tiran), berlaku sewenang-wenang ketika dia merasa mampu. Orang yang sombong merasa mampu. Kekuasaan kita dibatasi oleh banyak hal, diantaranya waktu. Paling lama seumur hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!