Kamis, 05 September 2019

Catatan Tafsir Nouman Ali Khan tentang Surat Al-Baqarah ayat 130



وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 130)

مِلَّةِ – jika ada cenderung, condong atau tertambat pada sesuatu

Saya mulai dari bagian terakhir : وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِين - dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. Allah berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (Q.S. An-Nisaa, 4: 69)

Allah membagi orang yang diberi nikmat itu ke dalam empat kelompok:
1.      Nabi
2.      Shiddiiqiin
3.      Syuhada
4.      Orang-orang yang saleh

Dalam daftar ini, orang-orang saleh berada dalam urutan terakhir. Ibrahim adalah ulul azmi, namanya sering diulang-ulang dalam Qur’an, beliau merupakan orang tua bagi kaum Muslimin, mengapa beliau disebut sebagai orang-orang saleh, bukan masuk dari kalangan Nabi? Hal ini karena beliau ingin bersama dengan keturunannya.

Pada ayat 129, Allah menyebutkan tentang karakteristik Rasul yang akan diutus pada akhir zaman. Kemudian pada ayat 130, Allah tidak menyebutkan bahwa barang siapa yang berpaling dari ajaran Nabi tersebut maka .... Tapi Allah memberi ungkapan alternatif yaitu:

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ - Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim

Ayat sebelumnya tidak bicara tentang agama Ibrahim, tapi tentang Rasulullah SAW. Jadi Allah ingin mengatakan bahwa apa yang Rasulullah SAW bawa adalah agama Ibrahim. Jadi siapa yang benci kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW sama artinya dia benci kepada agama Ibrahim.

Jadi ketika Bani Israil membenci apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW sama artinya dia benci kepada agama Ibrahim. Mereka yang membenci agama Ibrahim adalah:

إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ - melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri,

Kata bodoh bukan pertama kali muncul. Kata ini pertama kali muncul pada ayat:

أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ - ... "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" ... (Q.S. Al-Baqarah, 2: 13)

Ucapan ini diucapkan oleh orang-orang munafik dan Bani Israil. Jadi ayat ini mengingatkan kembali mereka akan apa yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Kata ini muncul kembali ketika membicarakan masalah pemindahan kiblat:
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ - Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata ... (Q.S. Al-Baqarah, 2: 142)

سُّفَهَاءُ – artinya light (ringan). Mudah menerima pendapat yang satu, kemudian menerima pendapat yang lain tanpa banyak berpikir. Teguh, kritis dan mengambil kesimpulan serta tidak berpindah kepada kesimpulan lain kecuali ada bukti yang jelas, ini adalah lawan dari bodoh.

Impulsive consumer adalah terjemah bahasa Arab klasik untuk سُّفَهَاءُ

Bentuk lain سُّفَهَاءُ – adalah menganggap diri lemah, tidak berdaya

Arti lain adalah meletakkan diri dalam kegelapan dan menolak untuk berpikir. Takut berpikir, takut belajar. Orang Yahudi mempercayai Rabi secara membabi buta (taqlid buta).

Ada yang menterjemahkan “sufaha” dengan menghancurkan diri sendiri karena kurang berpikir, baik didunia maupun di akhirat.

Ibrahim mengajarkan “basic decency”. Kita kembali ke normal. Ketika biasa minum soda, pepsi, maka minum air mineral jadi aneh.

Kalau kita makan yang tidak alami, maka enaknya segera dirasakan, tapi efek sampingnya belakangan.

وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا - dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia

Selama ini Bani Israil merasa bahwa mereka adalah umat pilihan. Allah mengingatkan bahwa mereka jadi umat pilihan karena mengikuti Ibrahim, sebagaimana yang disampaikan oleh Yusuf ketika di dalam penjara:

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ . Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub ... (Q.S. Yusuf, 12: 38)

Karena Ibrahim banyak ujiannya, maka Allah mengajarkan bahwa setiap ujian adalah pelajaran. Itulah sebabnya “ibtila” artinya ujian dan nikmat pada saat bersamaan. Ibrahim mendapat ujian yang luar biasa dan beliau mendapat karunia yang luar biasa juga.

Itulah sebabnya umat ini banyak mendapat ujian. Karena orang yang dipilih akan diuji.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 155)

Kata memilih dalam bahasa Arab selain “istifa” adalah “ijtiba” atau “ikhtiyar”. “Istifa” berasal dari kata “shafwa” yang artinya suci. “Istifa” dapat berarti seseorang itu dipilih karena kesucian yang dimilikinya. Bisa juga berarti pilihan tersebut tidak dipengaruhi oleh orang lain. Misalnya kita memilih sendiri baju dan lain-lain.

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ - Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari malaikat dan dari manusia; (Q.S. Al-Hajj, 22: 75)

Kalau Allah memilih Ibrahim, mengapa kamu meributkan ketika Allah memilih Muhammad SAW.

َلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ  - dalam bentuk lampau, karena memang ini terjadi pada masa lalu. Kemudian ُ فِي الدُّنْيَا mengapa di dunia? Karena Allah ingin agar umat manusia mengambil pelajaran dari apa yang dilakukan oleh Ibrahim selama hidup di dunia. Pelajaran berharga dari Ibrahim adalah: Hidup ini adalah ujian.

وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ - dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh

Jadi orang-orang yang lulus dari ujian dalam kehidupan dunia maka akan bersama dengan orang-orang saleh di akhirat.

Kalimat ini dalam bentuk “jumlah ismiyah” yang menggambarkan bahwa ketentuan ini bersifat permanen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!