Sabtu, 28 September 2019

Jalan Istiqamah (1) - Ustadz Suriani Jiddy, Lc

Masih dalam pembahasan Arba'in Nawawi ke-21



  • Menuntut Ilmu
Syaikh Muhammad Hassan: tidak ada suatu amal ibadahpun di zaman ini yang lebih besar keutamaannya daripada menuntut ilmu dan menyebarluaskan ilmu.

Syaikh Yusuf Qardhawi dalam buku Rasul dan Ilmu: dan tidak diragukan lagi bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu agama, sebab dengan ilmu agama itu manusia mengenal akan dirinya, mengenal akan tuhannya, manusia mengetahui tujuan hidupnya, mengungkap jalan hidupnya, dia mengetahui hak dan kewajibannya sebagai seorang hamba dan ilmu-ilmu lainnya, setiap ilmu yang dapat membimbing manusia pada kebenaran, atau mendekatkan manusia pada kebaikan, atau dapat memberi kemaslahatan atau hakikat yang dapat mencegah manusia dari kerusakan. 

Dalam ilmu agama yang paling utama adalah ilmu tauhid atau ilmu akidah.

Wasiat Abu Darda': jadilah engkau orang yang berilmu atau orang yang senantiasa mencari ilmu atau paling tidak orang yang paling suka mendengarkan ilmu. Jangan jadi orang yang keempat yaitu tidak berilmu, tidak menuntut ilmu dan tidak mendengar ilmu, dia akan binasa. 

Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memfaqihkannya (mengerti) dalam agama. Orang yang Allah tidak kehendaki kebaikan padanya, maka dia tidak mengerti agama. 

Fiqih dalam agama: 
  1. Orang yang mengenal dirinya. Pepatah: celakalah orang yang tidak mengenal kadar dirinya. Contohnya adalah Fir'aun yang mengaku dirinya Tuhan. Fir'aun di luar Mesir akan bermunculan. Celakanya mereka tidak mengenal kalau dirinya Fir'aun. "Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa dia diciptakan dari nutfah, kemudian dia menjadi penentang yang nyata?"
  2. Orang yang mengenal siapa Tuhannya. Tidak sedikit manusia yang menuhankan jabatan, uang, dunia, makhluk? Itulah sebabnya mengenal Allah sangat penting. 
  3. Mengenal agama. Tidak semua orang yang berbicara saya Muslim mengerti agama. KTP-nya Islam tapi tidak mengenal agama. Kita sampai pada zaman dimana manusia tidak mengenal Islam kecuali namanya. Dalam seminar kesalahpahaman Barat terhadap Islam, disebutkan bahwa salah satu penyebabnya adalah kesalahpahaman kaum Muslimin terhadap agamanya. 
  4. Mengenal tujuan hidupnya. Ada yang menganggap bahwa tujuan hidup mereka cuma berfoya-foya, melampiaskan nafsu, melampiaskan syahwat. Orang yang fikih dalam agama mengenal ayat Allah yang berbunyi: "Tidaklah aku ciptakan jin manusia kecuali untuk beribadah kepadaku"
  5. Mengenal kewajibannya sebagai seorang hamba. Dia tidak hanya menuntut hak. Hai Mu'adz tahukah engkau apakah hak Allah yang harus ditunaikan hamba dan hak hamba yang wajib ditunaikan Allah. Hak Allah terhadap hamba adalah tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. 
  6. Mengenal kebenaran dan kebatilan. Tidak ada kebenaran yang relatif. Ada syubhat dalam perkataan bahwa hanya Allah yang mengenal kebenaran. Kebenaran itu juga diketahui oleh manusia melalui firman Allah yang disampaikan oleh rasulnya. Ya Allah perlihatkanlah kepada kami bahwa kebenaran itu adalah benar dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. ...
  7. Mengenal jalan Allah dan jalan setan. Dalam Shalat kita membaca Al-Fatihah. Kita membaca: Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu adalah jalan orang-orang yang engkau beri nikmat kepadanya yaitu para Nabi, para Shiddiqin, para syuhada dan orang-orang yang shalih. Jadi ada jalan para Nabi dan jalan orang biasa (Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin). Manusia yang berada di garis terdepan dalam golongan Shiddiqin, Syuhada dan Shalihin adalah para sahabat. 
Ibnu Mas'ud - mengapa para sahabat menjadi manusia terbaik. Kalau mau mencontoh, maka contohlah mereka karena mereka sudah mati. Mereka adalah generasi terbaik dari umatnya. Karena para sahabat adalah mereka hatinya paling bersih, ilmu palingnya paling dalam, taqallubnya paling sedikit, Allah memilih mereka untuk menyertai Nabi untuk mendirikan agamnya, ikutlilah langkah mereka, berpegang teguhlah kalian dengan akhlak dan pribadi mereka, karena mereka berada di jalan Allah. 

  • Bergaul dengan orang-orang yang shalih
Ada sahabat yang seperti obat - diperlukan seperlunya. Ada sahabat yang seperti makanan, yang senantiasa diperlukan.

Secara bahasa shalih artinya baik. Dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Secara istilah, shalih adalah orang yang menunaikan hak Allah dan hak manusia. Jadi tidak ada istilah kafir dan shalih. Kafir pasti tidak shalih. 

Jangan terjebak dengan paham dualisme yang memisahkan antara jiwa dan raga (fisik dan ruh). Mereka mengatakan fisiknya bisa berbuat maksiat tapi hatinya baik seperti koruptor yang dermawan, PSK yang shalih. Nggak apa-apa pakaiannya seadanya, yang penting artinya bersih. Ini semua tidak benar. Tidak mungkin orang musyrik disebut shalih karena dia menyekutukan Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!