Jumat, 25 Oktober 2019

Yusuf berdakwah di penjara - Dr. Hisham Al-Awadi

Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang diantara keduanya: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur". Dan yang lainnya berkata: "Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebahagiannya dimakan burung". Berikanlah kepada kami ta'birnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (mena'birkan mimpi). (Q.S. Yusuf, 12: 36)

Yusuf tidak dimasukkan ke dalam sel yang sendirian. Dia bisa bergaul dengan orang lain. Allah mengkhususkan dua orang pemuda ini karena terkait dengan pembebasannya dan tafsir mimpi. 

Mengapa Yusuf lebih banyak bicara di penjara?


Di dalam penjara kita melihat Yusuf lebih banyak bicara. Ketika bersama dengan saudaranya, dia banyak diam. Ketika bersama dengan Bapaknya dia hanya bicara singkat karena dia sedang dalam tahap mendengar dan belajar. Ketika dia menjadi budak, dia diam karena dia tidak ingin kembali ke Palestina. Di istana, dia bicara singkat karena dia sangat sibuk. 

Ada yang mengatakan bahwa sekarang dia bicara karena dia adalah seorang Nabi. Jadi sekarang merupakan tugas baginya untuk bicara. Alasan lain adalah kondisi di penjara lebih kondusif baginya untuk bicara dibandingkan dengan kondisi di istana. 

Di istana, tuannya sibuk. Istri tuannya berusaha untuk merayunya, sehingga tidak pas baginya untuk mengajak mereka kepada Allah. 

Di penjara, orang-orangnya ada yang depresi, ada yang akan digantung pada hari berikutnya, orang-orangnya lebih bisa menerima, umur mereka rata-rata sama, orang yang mungkin juga merupakan budak sebagaimana dirinya, dan berbagai kondisi yang membuat mereka mudah menerima dakwah. 

Dakwah memang merupakan kewajiban, tapi kita harus melihat kondisi kapan dakwah itu tepat untuk disampaikan. Kadang-kadang orang tidak akan mendengar tapi melihat, pada saat seperti itu anda bertindak. Kadang-kadang orang tidak akan mendengar, tapi mereka akan membaca, maka anda menulis. Kadang-kadang orang tidak mau mendengar karena mereka marah, misalnya 9/11 maka pada waktu itu anda diam dan setelah situasinya mereda barulah anda berbicara. 

Apa yang membuat kedua orang pemuda itu datang ke Yusuf?

Kedua pemuda itu sudah memperhatikan Yusuf sejak lama. 

Ingat kisah Yusuf yang menceritakan mimpinya kepada ayahnya (Ya'qub). Dia mengenal ayahnya, dia mempercayai ayahnya, dia mencintai ayahnya. Itulah sebabnya dia menceritakan mimpinya kepada ayahnya. 

Anda tidak akan pergi ke jalan, kemudian menceritakan mimpi anda kepada orang yang anda temui di jalan. 

Kedua pemuda tersebut memperhatikan Yusuf, berinteraksi dengannya dalam kehidupan sehari-hari. Setelah merasa yakin dengan kepribadiannya, maka mereka mempercayakan penafsiran mimpi itu kepadanya. 

Da'wah harus diawali dengan membangun kepercayaan dengan masyarakat dimana kita tinggal didalamnya. Saya tidak akan bisa mengajak masyarakat pada Islam kalau saya dianggap sebagai seorang teroris. Karena secara psikologis orang tidak ingin mendengar saya. Saya harus menunjukkan bahwa saya adalah orang yang memiliki perhatian kepada masyarakat, saya adalah orang yang menginginkan kebaikan bagi masyarakat, saya bukan teroris, saya tidak menganjurkan penggunaan kekerasan, itu semua perlu waktu.

Yusuf tidak melakukannya dengan membuat pamflet dan menyebarkan dibawah pintu sel tahanan. Beliau tidak banyak bicara. Beliau berbuat. Itulah sebabnya, pada akhirnya mereka mengatakan:

... kami melihat engkau sebagai orang yang baik. (Q.S. Yusuf, 12: 36)

Mereka tidak bilang bahwa beliau adalah orang yang tampan, orang yang enak untuk dilihat. Sekarang mereka melihat beliau dari sudut pandang yang bukan dari aspek keindahan. Mereka melihat pada perilaku, kesopanan, dan keterusterangan. 

Yusuf tidak hanya orang yang rajin ibadah, tapi beliau adalah orang yang disukai, mudah bersosialisasi, yang berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai macam agama. Yusuf akan mengunjungi orang-orang yang depresi. Beliau berusaha untuk menenangkan mereka dan menyembuhkan mereka. Kalau ada tahanan yang sakit, beliau akan mengunjunginya. Yusuf membangun rasa hormat. Rasa hormat ditunjukkan oleh kedatangan kedua pemuda yang mengakui bahwa beliau adalah orang yang baik. 

Menjadi Muslim yang rajin ibadah saja hanya akan memberi manfaat kepada diri sendiri. Kita juga harus membangun kepribadian yang menyenangkan, kepribadian yang ramah, yang pada akhirnya akan dihormati oleh masyarakat, baik mereka Yahudi, Kristen, Hindu, Budha, bahkan Atheis. 

Itulah sebabnya Rasulullah bersabda:

Jika seseorang melamar, kemudian kamu senang dengan agama dan akhlaknya, nikahkan anak perempuanmu dengannya. 

Dalam hadits ini Rasulullah membedakan antara agama dan akhlak. Akhlak adalah apa yang akan didapatkan oleh istri dari suaminya, bukan agamanya. Memang seharusnya ada hubungan, tapi tidak selalu yang satu berkorelasi dengan yang lain. 

Ada kisah nyata dimana seorang istri mengeluhkan suaminya yang relijius tapi pelit. Dia tidak mau membelikan istrinya es krim, Mc Donald. Ketika istrinya minta dibelikan celana panjang, suaminya bilang menunggu kalau ada "sale" (obral). Sang istri mengeluh pada ibunya. Ibunya bicara pada suaminya. Suaminya mengatakan kepada istrinya: Ingat, dulu waktu saya melamar, kamu menanyakan kepada saya tentang agama saya. Saya sampaikan kepada kamu bahwa saya shalat, saya puasa dan saya pergi haji. Kamu tidak menanyakan akhlak saya. Kalau kamu tanya, maka saya akan jawab bahwa saya pelit. Tapi kamu tidak pernah bertanya. 

Pernikahan tidak hanya urusan jenggot dan hijab. Hijab tidak akan ada di tempat tidur atau di dapur. Yang ada di dapur adalah teriakan anak-anak, popok yang tersebar dimana-mana di rumah. Pernikahan memang baik, tapi anda harus dilatih tentangnya. 

Yusuf berkata: "Tidak disampaikan kepada kamu berdua makanan yang akan diberikan kepadamu melainkan aku telah dapat menerangkan jenis makanan itu, sebelum makanan itu sampai kepadamu ... (Q.S. Yusuf, 12: 37)

Nabi Yusuf menunjukkan pada mereka bahwa beliau bisa menafsirkan berbagai macam hal. Beliau berusaha untuk memberi kesan kepada mereka, beliau ingin membangun kepercayaan mereka. Di Mesir pada saat itu, jabatan elit disana adalah penafsir mimpi, penyembuh, politisi, dan ekonomis. 

Bagi Yusuf, menafsirkan mimpi bukan hal yang besar. Beliau mengupayakan untuk bisa menarik perhatian mereka, sehingga mereka siap untuk mendengarkan. Beliau membangun suasana konsentrasi dan suasana menghargai. 

Beliau menyampaikan bahwa kemampuan yang beliau miliki, bukan karena beliau sekolah di universitas terkenal, bukan karena saya tampan, bukan karena saya anak ...... Kemampuan yang saya miliki ini diberikan oleh Allah. 

... Yang demikian itu adalah sebagian dari apa yang diajarkan kepadaku oleh Tuhanku. Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. (Q.S. Yusuf, 12: 37)

Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya'qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). (Q.S. Yusuf, 12: 38)

Mengapa beliau tidak menyampaikan masalah ini kepada para wanita, kepada al-aziz, kepada saudaranya, kepada orang yang mengangkatnya dari sumur? Beliau memang sudah memiliki pengetahuan tersebut, tapi kurang bijaksana bagi beliau untuk menyampaikannya pada saat itu. 

Jadi disini kita bisa membedakan antara pengetahuan dan kebijaksanaan. Antara tahu dengan sesuatu dan kapan harus menyampaikannya. Beliau menyampaikan hal-hal prinsip dalam agama. Beliau tidak menjelek-jelekkan kondisi sebelumnya. Beliau berkonsentrasi pada Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya dan lain-lain. 

Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? (Q.S. Yusuf, 12: 39)

Beliau bertanya kepada mereka berdua. Dengan menggunakan kata "wahai sahabatku" maka beliau menunjukkan bahwa mereka memiliki latar belakang yang sama yaitu sama-sama penghuni penjara. 

Kita perlu pendekatan Yusuf ketika berhadapan dengan masyarakat. Dia tahu berbagai jawaban dan kapan menjawabnya pada konteks tertentu. 

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (Q.S. Yusuf, 12: 40)

Setelah itu, barulah beliau menafsirkan mimpi:

Hai kedua penghuni penjara: "Adapun salah seorang diantara kamu berdua, akan memberi minuman tuannya dengan khamar; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kamu berdua menanyakannya (kepadaku)". (Q.S. Yusuf, 12: 41)

Apakah orang yang akan dihukum mati itu menjadi Muslim? Sebagian ahli tafsir mengatakan ia masuk Islam. Ahli tafsir yang lain mengatakan bahwa keduanya masuk Islam. Ahli tafsir terbaik mengatakan bahwa kita tidak tahu. Allah ingin mengatakan kepada kita bahwa ajakan kepada Islam adalah prinsip, apapun konsekuensi dan hasilnya. Bukan urusan anda apakah mereka beriman atau tidak. Itu ditangan Allah. Anda hanya diminta untuk mengajak mereka. 

Rasulullah berusaha untuk mengislamkan pamannya, tapi pamannya tidak mau. Jadi kita memberi pelayanan kepada orang lain tanpa syarat. Beliau tidak mensyaratkan mereka untuk masuk Islam sebelum menginterpretasikan mimpi mereka. 

Nabi Yusuf menjadikan dirinya sebagai orang yang harus memberikan kontribusi bagi negeri Mesir dengan menafsirkan mimpi dari mereka yang memerlukannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!