Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Dunia mulai mendukung Palestina

 Ketika ketika masih kecil, saya pernah membaca novel tentang perjuangan orang Yahudi untuk bisa mendirikan negara Israel. Waktu itu niatnya cuma ingin belajar bahasa Inggris dengan membaca novel.

Tapi setelah banyak membaca tentang kegigihan bangsa Yahudi mendirikan negara Israel, barulah saya menyadari bahwa itu adalah bagian dari propaganda Israel. Jadi upaya untuk mendirikan negara Israel ditempuh dengan berbagai macam cara, mulai dari diplomasi sampai melakukan kekerasan.

Setelah mereka mendeklarasikan kemerdekaannya, maka mereka mulai melakukan hal-hal dapat membenarkan berbagai kekerasan yang mereka lakukan. Pada mulanya mereka berhasil membuat gerakan perlawanan PLO sebagai organisasi teroris. Tapi kemudian PLO diakui sebagai perwakilan dari Palestina. Ketika PLO bisa dibungkam, maka muncullah Hamas.

Saat ini Hamas dan sayap militernya disebut sebagai organisasi teroris, kelak hal ini pun akan berubah. 

Upaya yang mereka lakukan agar opini terhadap Israel selalu bersifat positif sejauh ini cukup berhasil. Namun dengan adanya media sosial dan berbagai media online lainnya, maka makin sulit bagi Israel untuk menyembunyikan kejahatan yang sudah mereka lakukan bagi masyarakat Palestina. 

Gerakan "The Boycott, Divestment, Sanctions (BDS)" berhasil menarik simpati dari negara-negara Barat. Hal ini sangat merepotkan lobi-lobi Israel di luar negeri.

Sekarang sudah banyak buku dan novel yang ditulis tentang Palestina. Sudah banyak film dokumenter yang dibuat tentang Palestina. Sudah banyak syair atau puisi yang dibuat tentang Palestina. 

Sudah banyak gerakan mahasiswa di berbagai negara Barat  yang mendukung Palestina. Namun perlu waktu yang cukup lama lagi untuk membuat gerakan ini betul-betul punya kekuatan untuk bisa menekan Amerika Serikat sebagai pendukung utama Israel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"