Ketika Seorang Perempuan Yahudi Berdiri Membela Palestina

Gambar
Di tengah perdebatan yang semakin panas mengenai Palestina, ada satu kesaksian yang menarik perhatian dunia. Bukan karena disampaikan dengan suara lantang atau penuh kemarahan, melainkan karena ketenangan, kejernihan berpikir, dan keberanian moral yang ditunjukkan oleh seorang perempuan muda Yahudi bernama Yasmine Johnson . Saya menyaksikan kesaksiannya dalam sidang Royal Commission into Anti-Semitism and Social Cohesion di Australia. Selama hampir satu jam, ia menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tajam mengenai pandangannya tentang Palestina, Zionisme, kebebasan berpendapat, hingga tuduhan antisemitisme. Namun yang membuat saya benar-benar kagum bukanlah semata-mata isi argumennya, melainkan cara ia menyampaikannya. Tidak terlihat emosi yang meledak-ledak. Tidak ada nada marah. Tidak pula usaha menyerang lawan bicara secara pribadi. Sebaliknya, ia menjawab hampir setiap pertanyaan dengan tenang, sistematis, dan konsisten. Seorang Yahudi yang Memisahkan Agama dan Negara Yasmine Johns...

Dunia mulai mendukung Palestina

 Ketika ketika masih kecil, saya pernah membaca novel tentang perjuangan orang Yahudi untuk bisa mendirikan negara Israel. Waktu itu niatnya cuma ingin belajar bahasa Inggris dengan membaca novel.

Tapi setelah banyak membaca tentang kegigihan bangsa Yahudi mendirikan negara Israel, barulah saya menyadari bahwa itu adalah bagian dari propaganda Israel. Jadi upaya untuk mendirikan negara Israel ditempuh dengan berbagai macam cara, mulai dari diplomasi sampai melakukan kekerasan.

Setelah mereka mendeklarasikan kemerdekaannya, maka mereka mulai melakukan hal-hal dapat membenarkan berbagai kekerasan yang mereka lakukan. Pada mulanya mereka berhasil membuat gerakan perlawanan PLO sebagai organisasi teroris. Tapi kemudian PLO diakui sebagai perwakilan dari Palestina. Ketika PLO bisa dibungkam, maka muncullah Hamas.

Saat ini Hamas dan sayap militernya disebut sebagai organisasi teroris, kelak hal ini pun akan berubah. 

Upaya yang mereka lakukan agar opini terhadap Israel selalu bersifat positif sejauh ini cukup berhasil. Namun dengan adanya media sosial dan berbagai media online lainnya, maka makin sulit bagi Israel untuk menyembunyikan kejahatan yang sudah mereka lakukan bagi masyarakat Palestina. 

Gerakan "The Boycott, Divestment, Sanctions (BDS)" berhasil menarik simpati dari negara-negara Barat. Hal ini sangat merepotkan lobi-lobi Israel di luar negeri.

Sekarang sudah banyak buku dan novel yang ditulis tentang Palestina. Sudah banyak film dokumenter yang dibuat tentang Palestina. Sudah banyak syair atau puisi yang dibuat tentang Palestina. 

Sudah banyak gerakan mahasiswa di berbagai negara Barat  yang mendukung Palestina. Namun perlu waktu yang cukup lama lagi untuk membuat gerakan ini betul-betul punya kekuatan untuk bisa menekan Amerika Serikat sebagai pendukung utama Israel.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)