Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Suhunya lebih atau sama dengan 40 derajat Celcius

 

Saat pulang dari kantor (Kamis, 24 Maret 2022 pukul 15.40), matahari bersinar sangat terik. Ketika keluar dari mobil, kunci mobil saja terasa panas sekali. Saya penasaran, berapa sih suhunya sekarang.

Saya lalu mengambil termometer yang ada di kamar lalu saya letakkan di jemuran yang ada di belakang rumah, langsung berhadapan dengan sinar matahari.

Rupanya suhunya mentok ke angka 40 derajat Celcius. 

Mungkin termometer ini tidak tepat untuk mengukur suhu matahari langsung. Tapi paling tidak saya ada gambaran, rupanya suhunya sangat panas sekali bila terpapar matahari secara langsung.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas