Sinergi Muhammadiyah Kapuas: 73 Warga Terbantu dalam Bakti Kesehatan Jilid 2

Gambar
  Kuala KAPUAS  – Semangat kemanusiaan dan gotong royong mewarnai pelaksanaan Pengobatan Masal dan Sunatan Masal Jilid 2 yang digelar di Kabupaten Kapuas pada Senin (12/1/2026). Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi solid antara Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU), Kesejahteraan Sosial, Lazismu, MDMC, serta seluruh Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah. Luar biasanya, seluruh pendanaan acara ini bersumber dari donasi warga dan para simpatisan, yang menunjukkan kemandirian serta kepedulian sosial yang kuat di tengah masyarakat. ​Suasana di lokasi kegiatan tampak sangat hidup dengan antusiasme warga yang hadir sejak pagi hari. Berdasarkan data panitia, sebanyak 58 peserta berhasil mendapatkan layanan pengobatan gratis dan 15 anak mengikuti prosesi sunatan masal. Kehadiran mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin turut memberikan warna tersendiri; para mahasiswa ini terjun langsung membantu pelayanan medis serta memb...

Suheir Barghouthi: Sang Ibu Baja dari Palestina

 


Di tengah penderitaan panjang rakyat Palestina, nama Suheir Barghouthi, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Um Asef, bersinar sebagai simbol keteguhan, kasih sayang, dan keberanian. Dalam episode keempat Freedom Breakers yang tayang 8 Juli 2025, kisah hidupnya disampaikan secara mendalam—sebuah narasi yang menggambarkan kekuatan perempuan Palestina yang hidup di bawah bayang-bayang penjajahan.

Suheir bukan hanya istri dari Omar Barghouthi, pejuang yang divonis seumur hidup oleh Israel dan dibebaskan melalui pertukaran tawanan. Ia adalah ibu dari Asem, yang kini menjalani hukuman penjara seumur hidup, dan Saleh, putranya yang gugur sebagai syuhada dan hingga kini jasadnya masih ditahan oleh Israel. Suheir sendiri telah mengalami tiga kali penahanan, terakhir dibebaskan melalui kesepakatan pertukaran tawanan tahun 2024.

Ia menghidupi peran sebagai istri, ibu, dan nenek dalam suasana penindasan, kehilangan, dan ketidakpastian. Namun ketegarannya tak pernah pudar. Suheir membesarkan anak-anaknya tanpa menunjukkan air mata. Ia menjadi tiang penyangga keluarga ketika sang suami ditahan. "Jika engkau roboh, kita semua akan roboh," kenang Suheir akan kata-kata mertuanya.

Kisah Suheir tak hanya tentang kesedihan. Ia adalah cerminan cinta yang menguatkan perjuangan. Cinta terhadap Abu Asef, yang sejak awal memberitahunya bahwa pernikahan ini akan mengantarkannya ke jalan yang sulit. Cinta yang membawanya tetap berdiri, bahkan ketika anaknya gugur dan rumahnya dihancurkan.

Suheir juga menyuarakan realitas kelam penjara Israel setelah 7 Oktober: penurunan standar perlakuan terhadap perempuan, penghinaan fisik, makanan tak layak, dan pembatasan kunjungan. Namun ia dan sesama perempuan tahanan tetap menjaga semangat melalui kebersamaan, saling merawat, dan berbagi cerita di balik jeruji.

"Bukan kami yang menanam kebencian di hati anak-anak," kata Suheir kepada perwira Israel yang pernah menghancurkan senjata mainan milik anaknya. "Tindakan kalianlah yang mengisi hati mereka dengan duka dan perlawanan."

Dalam keterbatasan, Suheir menyampaikan harapan. Harapan agar putranya Asem dibebaskan. Harapan bahwa semua pengorbanan ini bermakna dalam perjuangan membebaskan Palestina. Dan harapan bahwa setiap ibu yang kehilangan anak akan tetap berdiri, dengan kekuatan sabar dan doa.

Kisah Suheir Barghouthi adalah kisah Palestina itu sendiri—penuh luka, namun tak pernah kehilangan makna dan martabat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas