Webinar Tarhib Ramadhan 1447 H - Ramadhan Recharge Iman, Cinta, Peduli dan Kolaborasi
Awalnya saya cukup terkesan. Ketika saya mengarahkan peta ke wilayah Kuala Kapuas, tampilannya terlihat rapi dan informatif. Dari situ muncul rasa penasaran: kalau di ibu kota kabupaten terlihat lumayan detail, apakah wilayah yang lebih jauh seperti Sei Pinang (ibu kota Kecamatan Sei Pinang) juga bisa terlihat sedetail itu?
Untuk memastikan titik yang benar, saya membuka Google Maps dan mencari “Sei Pinang, Mandau Talawang, Kabupaten Kapuas”. Setelah menemukan posisinya, saya mencocokkan wilayah tersebut dengan tampilan di Peta GIS Kalteng.
Link lokasi Sei Pinang di Google Maps:
https://www.google.com/maps/place/Sei+Pinang,+Mandau+Talawang,+Kabupaten+Kapuas,+Kalimantan+Tengah/@-0.7936978,114.0475106,2801m/data=!3m1!1e3!4m6!3m5!1s0x2dfec91b5ebfc12f:0xf4cebdd8845fff65!8m2!3d-0.775245!4d113.9774369!16s%2Fg%2F1hc0gnz2d?authuser=0&entry=ttu&g_ep=EgoyMDI2MDEyOC4wIKXMDSoASAFQAw%3D%3D
Setelah titiknya terasa “klik”, barulah saya lakukan perbandingan tampilan satelitnya.
Setelah saya bandingkan, ternyata bukan citranya yang jauh berbeda. Kualitas tampilan satelit di Peta GIS Kalteng dan Google Maps sama-sama belum terlalu detail untuk melihat wilayah kecil seperti Sei Pinang. Bedanya, di Google Maps sudah ada banyak titik lokasi dan nama tempat yang ditambahkan oleh pengguna (Local Guides) maupun dikelola oleh Google. Kehadiran titik-titik ini membuat kita lebih mudah mengenali lokasi, walaupun citra satelitnya sendiri tidak lebih tajam.
Namun ini bukan berarti Peta GIS Kalteng tidak bermanfaat. Sebaliknya, untuk kebutuhan pemetaan tematik (misalnya tata ruang, batas wilayah, layer perencanaan, dan informasi GIS lainnya), platform seperti ini sangat potensial.
Di titik ini saya sempat berpikir: “Mengapa Provinsi Kalimantan Tengah tidak membuat peta sendiri dengan memanfaatkan satelit, agar kualitas citranya bisa lebih baik?”
Lalu saya ingat, hal seperti itu bukan pekerjaan murah. Mengelola citra satelit beresolusi tinggi butuh biaya besar—mulai dari pengadaan data, lisensi, pengolahan, penyimpanan, hingga pembaruan berkala. Belum lagi tenaga ahli dan infrastruktur yang memadai.
Tetapi kalau dilihat dari sisi investasi jangka panjang, upaya meningkatkan kualitas data spasial sebenarnya bisa sangat berharga. Peta yang tajam dan akurat tidak hanya “enak dipandang”, tapi juga berdampak langsung pada banyak hal, misalnya:
Perencanaan wilayah dan pembangunan yang lebih presisi
Mitigasi bencana (banjir, kebakaran lahan) berbasis data yang lebih baik
Pelayanan publik (akses jalan, fasilitas, titik layanan) lebih terukur
Pengawasan dan evaluasi program di lapangan lebih cepat dan efisien
Dengan kata lain, peta bukan sekadar gambar—peta adalah alat pengambil keputusan.
Awalnya saya hanya ingin mencari background virtual untuk rapat online. Tapi dari percobaan sederhana itu, saya jadi melihat bahwa pemetaan digital daerah punya tantangan tersendiri—terutama soal kualitas citra dan pembaruan data.
Semoga ke depan, platform seperti Peta GIS Kalteng bisa terus berkembang, baik dari sisi fitur maupun kualitas data. Karena semakin baik peta yang kita punya, semakin mudah pula kita memahami wilayah kita sendiri—dari Lupak Dalam sampai Sei Pinang.
Tautan Peta GIS Kalteng: https://peta.simtaru.kalteng.go.id/
Komentar
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!