The Salahuddin Generation (Serial 1) Bangkit dari Masa Tergelap: “The Rise of the Assassins” dan Awal Lahirnya Generasi Salahuddin

 

Ada kalanya kita merasa hidup di masa paling buruk dalam sejarah umat: perpecahan, pengkhianatan, musuh yang mengepung, dan rasa putus asa yang sulit dipadamkan. Dalam pembuka serial The Salahuddin Generation, Dr. Hassan Elwan justru mengajak kita “mundur” ke masa yang jauh lebih gelap—untuk membuktikan satu hal: umat pernah jatuh lebih parah, dan pernah bangkit dengan lebih mulia.

Episode perdana ini berjudul “The Rise of the Assassins” (tayang perdana 6 Desember 2025) dan menjadi fondasi narasi besar: Salahuddin bukan “pahlawan tunggal”, melainkan buah dari sebuah generasi—generasi yang dibentuk oleh krisis, lalu dipulihkan melalui ilmu, lembaga, dan keteguhan iman.


1) Bukan “Salahuddin dulu”, tapi “luka besar sebelum Salahuddin”

Alih-alih memulai cerita dari kelahiran sang tokoh, Dr. Hassan Elwan menegaskan: tantangan terbesar generasi Salahuddin bukan semata pasukan Salib, melainkan korupsi dan kerusakan internal—dari penguasa hingga masyarakat. Karena itu, jendela sejarah dibuka satu abad sebelum Salahuddin: saat pusat kekhalifahan melemah, otoritas terpecah, dan ketertiban runtuh.

Gambaran yang muncul bukan romantisasi “masa lalu yang indah”, tetapi potret pahit: konflik sektarian, kekacauan sosial, dan rapuhnya kontrol politik.

Pelajaran pertama: kebangkitan tidak dimulai dari “musuh luar”, tetapi dari pembenahan rumah sendiri.


2) Munculnya ancaman ideologis: “kerajaan” yang membawa akidah baru

Episode ini menyoroti kemunculan kekuatan baru yang bukan sekadar lawan politik, tetapi juga gerakan ideologis: penyebaran Ismailiyah (dalam narasi Dr. Hassan Elwan), yang membangun pengaruh dengan simbol-simbol kedekatan kepada Ahlul Bait untuk meraih simpati umat.

Dalam ceritanya, ancaman itu berbahaya karena:

  • membangun legitimasi agama untuk kekuasaan,

  • mengubah aturan-aturan syariat,

  • dan menciptakan kebingungan di tengah umat—bukan hanya di medan perang, tapi di ruang pikiran.

Pelajaran kedua: ketika akidah dan pemahaman umat diguncang, dampaknya bisa lebih lama daripada kalah perang.


3) Luka yang mengguncang dunia Islam: peristiwa Qaramita dan Hajar Aswad

Salah satu bagian paling mengguncang adalah kisah Qaramita yang menyerang Makkah dan membawa pergi Hajar Aswad, sehingga Ka’bah dikisahkan “tanpa Hajar Aswad” selama bertahun-tahun dalam narasi episode ini. Dr. Hassan Elwan menggunakan kejadian ini sebagai simbol: betapa parahnya masa itu—bahkan kesucian Tanah Haram pun ternoda oleh ekstremisme.

Di titik ini, penonton diajak merenung: “Kalau umat pernah melewati masa seperti itu, mengapa kita menganggap mustahil untuk pulih hari ini?”


4) Kairo, pusat baru, dan perang gagasan

Episode juga menyinggung berdirinya Kairo dan perluasan pengaruh gerakan tersebut ke berbagai wilayah, termasuk pembangunan institusi yang diarahkan untuk menyebarkan ideologi. Intinya jelas: pertarungan yang terjadi bukan cuma perebutan tanah—melainkan perebutan cara berpikir.

Pelajaran ketiga: siapa pun yang menguasai pendidikan dan narasi, berpeluang membentuk generasi.


5) Titik balik: Seljuk dan hadirnya seorang negarawan-visioner, Nizam al-Mulk

Harapan mulai menyala ketika episode memperkenalkan kebangkitan kekuatan Seljuk dan figur kunci: Nizam al-Mulk—seorang wazir yang digambarkan saleh, dermawan, disiplin ibadah, sekaligus visioner. Tetapi kontribusi terbesarnya bukan sekadar strategi politik.

Ia membaca masalah dengan tepat:

musuh tidak hanya berupa pasukan, tapi juga kebingungan umat.

Maka langkah besarnya adalah membangun institusi pendidikan: Nizamiyya schools—sekolah-sekolah yang didukung wakaf dan beasiswa, mengangkat martabat ulama, menguatkan pemahaman Sunni, dan menyiapkan kader untuk masa depan.

Pelajaran keempat: peradaban pulih bukan hanya karena pedang, tapi karena kurikulum.


6) Imam al-Ghazali: membalas dua ancaman dengan ilmu

Di titik ini, episode membawa kita pada figur raksasa ilmu: Imam al-Ghazali, yang dalam narasi episode digambarkan tumbuh melalui ekosistem pendidikan yang dibangun Nizam al-Mulk. Ia tampil sebagai jawaban intelektual terhadap dua tantangan besar:

  1. penyimpangan ideologis,

  2. dan arus filsafat yang mengunggulkan rasio di atas wahyu.

Dr. Hassan Elwan menekankan peran karya-karya ilmiah sebagai “benteng” umat—bahwa membangun generasi butuh tokoh yang bukan hanya saleh, tetapi juga mampu merumuskan jawaban yang jernih terhadap kerancuan zaman.


7) “Order of the Assassins”: teror sebagai strategi, dan target pertamanya

Puncak episode adalah kemunculan kelompok Assassin, yang menebar ketakutan lewat pembunuhan publik dan infiltrasi sosial. Kisah yang paling menancap adalah tragedi terbunuhnya Nizam al-Mulk—digambarkan sebagai salah satu korban awal dari strategi teror yang menyasar pemimpin kunci.

Dari sini, episode menyampaikan benang merah: ketika sosok pemersatu disingkirkan, perpecahan mudah kembali merajalela—dan itulah lanskap yang kelak menjadi latar sebelum Perang Salib dan sebelum tampilnya Salahuddin.

Pelajaran kelima: musuh paling berbahaya sering kali menarget “simpul”—orang-orang yang mengikat umat.


Penutup: Kalau dulu bisa pulih, hari ini pun bisa

Episode 1 ditutup dengan pesan penguat: umat pernah pulih dari jurang yang lebih gelap. Maka harapan bukan ilusi; harapan adalah ingatan sejarah. Dan yang paling penting: kebangkitan bukan kerja satu “superhero”, tetapi kerja sebuah generasi yang terdidik, terhubung, dan bergerak bersama.


Sumber utama 

  • Dr. Hassan Elwan, “The Rise of the Assassins | The Salahuddin Generation | Ep. 1”, Yaqeen Institute (tayang perdana 6 Desember 2025).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas