Joseph Ana: Dokter yang Mengubah Wajah Pelayanan Kesehatan di Nigeria

Pada hari Minggu, 21 Juni 2026, saat membaca mailing list HIFA – Healthcare Information for All, saya menemukan kiriman dari Mbang Ana berjudul Open Access: Joseph Ana's BMJ Obituary. Tulisan itu memperkenalkan saya kembali pada sosok Dr. Joseph Ndemana Onebieni Ana, seorang dokter dari Afrika yang dikenal aktif berbagi gagasan tentang pelayanan kesehatan, termasuk melalui forum HIFA.

Tulisan yang dimaksud adalah obituari karya Richard Smith di The BMJ, berjudul “Joseph Ana: surgeon and GP who overhauled healthcare in Nigeria”. Artikel tersebut menceritakan perjalanan hidup dan perjuangan Joseph Ana dalam memperbaiki sistem kesehatan di Nigeria, khususnya di Cross River State.

Dokter yang Percaya bahwa Kesehatan Bukan Sekadar Gedung

Joseph Ana bukan hanya seorang dokter bedah dan dokter umum. Ia adalah seorang pembaharu sistem kesehatan. Puncak kiprahnya terjadi pada tahun 2004 ketika ia diangkat menjadi Health Commissioner atau semacam kepala dinas kesehatan di Cross River State, Nigeria.

Saat itu, Gubernur Cross River State, Donald Duke, tertarik pada pandangan Ana yang sederhana tetapi sangat mendalam. Menurut Ana, kedokteran bukan hanya soal gedung dan peralatan, tetapi tentang kasih sayang dan kepedulian.

Pandangan ini terasa sangat penting. Banyak orang sering menilai kemajuan pelayanan kesehatan dari bangunan rumah sakit yang megah, alat canggih, atau proyek fisik yang terlihat. Namun Ana mengingatkan bahwa inti pelayanan kesehatan adalah manusia: pasien yang dilayani dengan hormat, petugas yang bekerja dengan hati, dan sistem yang benar-benar hadir untuk masyarakat.

Tantangan Besar di Cross River State

Ketika Joseph Ana mulai bekerja sebagai pejabat kesehatan, kondisi pelayanan kesehatan di Cross River State sangat memprihatinkan.

Wilayah itu harus melayani lebih dari tiga juta penduduk, tetapi hanya memiliki 72 dokter. Tidak ada psikiater, radiolog, ataupun patolog. Jumlah perawat dan bidan sedikit di atas seribu orang, dan sebagian besar tenaga kesehatan terkonsentrasi di kota.

Masalah kesehatan masyarakat juga sangat berat. Angka kematian ibu sangat tinggi. Angka kematian anak juga mengkhawatirkan. Cakupan imunisasi hanya sekitar seperlima penduduk. Selain itu, prevalensi HIV diperkirakan mencapai 12 persen, meskipun masalah ini sulit dibicarakan secara terbuka karena stigma.

Joseph Ana tidak langsung membuat program di atas meja. Ia memulai dari hal yang sangat mendasar: melihat langsung keadaan di lapangan. Ia mengunjungi satu per satu fasilitas kesehatan di seluruh negara bagian. Dari kunjungan itu, ia menemukan kenyataan yang keras.

Banyak rumah sakit dan klinik hampir kosong karena masyarakat sudah kehilangan kepercayaan kepada layanan kesehatan pemerintah. Tidak ada layanan gawat darurat yang memadai. Gedung-gedung rusak. Air tidak layak minum, bahkan di rumah sakit pendidikan. Jenazah membusuk karena kamar jenazah tidak memiliki pendingin yang baik. Petugas kesehatan kurang terlatih, tidak bersemangat, dan banyak yang sudah sinis terhadap sistem.

Orang kaya memilih berobat ke London. Orang miskin pergi ke pengobat tradisional.

Membangun Ulang Kepercayaan Masyarakat

Melihat kondisi itu, Joseph Ana menyadari bahwa yang perlu diperbaiki bukan hanya satu bagian, melainkan seluruh sistem. Ia kemudian menyusun sebuah rancangan perubahan yang disebut 12 Pillar Clinical Governance Programme atau Program Tata Kelola Klinis 12 Pilar.

Program ini mencakup banyak hal, mulai dari kebijakan kesehatan, pembiayaan, pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan, hingga pemberdayaan pasien. Pendekatannya menyeluruh, bukan tambal sulam.

Ana juga berani mengambil langkah yang tidak selalu populer. Ia bekerja sama dengan dukun beranak atau penolong persalinan tradisional, karena menyadari bahwa merekalah yang selama ini banyak membantu persalinan masyarakat. Ia juga menggandeng imam dan pastor yang dipercaya masyarakat untuk meningkatkan imunisasi dan pemeriksaan HIV.

Di sisi lain, ia menutup rumah sakit swasta milik dokter yang melakukan tindakan di luar kompetensinya. Keputusan ini memicu aksi mogok dokter, tetapi Ana tetap berpegang pada prinsip keselamatan pasien.

Menariknya, meskipun sering mengambil keputusan keras, Ana tetap mendapat pengakuan. Ia tiga kali menerima penghargaan keunggulan dari Nigerian Medical Association.

Hasil yang Nyata

Perubahan yang dilakukan Joseph Ana membawa hasil besar. Selama masa kepemimpinannya, angka kematian ibu dan anak menurun. Cakupan imunisasi meningkat hingga 84 persen. Angka HIV juga turun hingga separuh.

Berbagai perbaikan penting terjadi. Cross River State memiliki layanan ambulans tingkat negara bagian, yang disebut sebagai yang pertama di Nigeria. Klinik layanan primer dibangun di berbagai wilayah. Apotek tidak lagi sering kehabisan obat. Perlahan-lahan, masyarakat kembali percaya kepada sistem kesehatan publik.

Bagi Joseph Ana, kesehatan masyarakat bukan hanya urusan dokter dan rumah sakit. Ia melihat kesehatan sebagai bagian dari demokrasi, tata kelola pemerintahan yang baik, dan pembangunan. Dengan kata lain, rakyat yang sehat adalah modal penting bagi kemajuan sebuah daerah.

Seorang Pekerja Keras yang Tidak Mudah Menyerah

Di balik kiprah besarnya, Joseph Ana digambarkan sebagai pribadi yang hangat, penuh semangat, dan tidak mudah menyerah. Ia memiliki iman Kristen yang kuat, menyapa orang dengan senyum dan pelukan, serta dikenal sebagai sosok yang lucu, pekerja keras, dan dermawan.

Istrinya, Arit, menggambarkan Ana sebagai seorang pekerja keras yang luar biasa. Bahkan ketika sedang sakit di rumah sakit, ia tetap bekerja. Ketika diminta beristirahat, Ana menjawab kurang lebih, “Kalau saya istirahat sekarang, apa yang akan saya lakukan ketika saya sudah meninggal?”

Kalimat itu menggambarkan betapa besar rasa tanggung jawabnya terhadap pekerjaan dan masyarakat.

Jejak Panjang untuk Afrika dan Dunia

Pengalaman Joseph Ana sebagai pejabat kesehatan kemudian dituangkan dalam buku Whole System Change of Failing Health Systems dan dalam konsep 12 Pillar Clinical Governance Programme. Melalui HRI Global, lembaga yang ia dirikan, program pendidikannya diajarkan di lima benua, termasuk di 16 negara Afrika.

Ana juga terus memberi nasihat kepada berbagai negara bagian di Nigeria tentang cara memperbaiki sistem kesehatan. Bahkan ketika sedang sakit menjelang akhir hidupnya, ia masih memberikan masukan dari tempat tidur rumah sakit.

Sebelum meninggal, ia juga sempat ditunjuk dalam National Taskforce on Clinical Governance and Patient Safety di Nigeria.

Pelajaran untuk Kita

Kisah Joseph Ana memberi banyak pelajaran bagi siapa saja yang bekerja di bidang pelayanan publik, termasuk kesehatan.

Pertama, perubahan besar harus dimulai dari pemahaman nyata terhadap masalah. Ana tidak hanya menerima laporan, tetapi turun langsung mengunjungi fasilitas kesehatan.

Kedua, membangun sistem kesehatan tidak cukup dengan membangun gedung. Yang lebih penting adalah memperbaiki tata kelola, meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, memastikan ketersediaan obat, memperkuat layanan primer, dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.

Ketiga, pemimpin kesehatan harus berani mengambil keputusan, termasuk keputusan yang tidak populer, selama tujuannya adalah keselamatan pasien dan kepentingan masyarakat.

Keempat, pendekatan kesehatan harus menghargai realitas sosial masyarakat. Ana tidak memusuhi penolong persalinan tradisional, tetapi merangkul mereka. Ia juga menggandeng tokoh agama karena memahami bahwa masyarakat mendengarkan orang-orang yang mereka percaya.

Kisah Joseph Ana menunjukkan bahwa perubahan sistem kesehatan yang gagal bukanlah hal mustahil. Dengan kepemimpinan yang kuat, keberanian, kepedulian, dan kerja lapangan yang sungguh-sungguh, pelayanan kesehatan dapat dibangkitkan kembali.

Dr. Joseph Ndemana Onebieni Ana lahir pada tahun 1952 dan meninggal dunia pada 3 April 2026 karena kanker primer yang tidak teridentifikasi. Ia meninggalkan warisan besar, bukan hanya bagi Nigeria, tetapi juga bagi siapa saja yang percaya bahwa pelayanan kesehatan yang baik adalah hak setiap manusia.

Sumber:
Smith R. Joseph Ana: surgeon and GP who overhauled healthcare in Nigeria. BMJ 2026;393:s953. doi:10.1136/bmj.s953. Published 28 May 2026. Ringkasan awal diperoleh dari kiriman Mbang Ana di mailing list HIFA – Healthcare Information for All berjudul Open Access: Joseph Ana's BMJ Obituary.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas