Ketika Membaca Al-Qur’an, Pertanyaan Terpenting Adalah: Apakah Saya Juga Melakukannya?

 


Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca sebagai kisah masa lalu. Kita merasa sedang membaca sejarah tentang orang-orang terdahulu: Fir‘aun, Qarun, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, atau Bani Israil. Tetapi semakin kita merenung, semakin terasa bahwa Al-Qur’an tidak hanya sedang mengajak kita menengok masa lalu. Al-Qur’an sedang menghadapkan cermin ke wajah kita sendiri.

Salah satu ayat yang sangat kuat untuk direnungkan adalah firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 4:

“Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Ia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sungguh, ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat ini menceritakan kekejaman Fir‘aun terhadap Bani Israil. Tetapi bila kita berhenti hanya pada sejarahnya, kita mungkin kehilangan pesan terdalamnya. Sebab Al-Qur’an tidak hanya memperkenalkan nama Fir‘aun sebagai tokoh masa lalu, tetapi juga membongkar pola kezaliman yang dapat berulang pada siapa pun, kapan pun, dan di mana pun.

Fir‘aun bukan sekadar nama seseorang. Fir‘aun adalah simbol dari kekuasaan yang merasa dirinya tinggi di atas manusia lain. Ia merasa berhak menentukan siapa yang kuat dan siapa yang harus dilemahkan. Ia memecah masyarakat menjadi kelompok-kelompok. Ia menindas satu golongan. Bahkan ia menyerang anak-anak, yaitu masa depan sebuah kaum.

Di sinilah ayat ini menjadi sangat hidup. Ia tidak hanya bertanya, “Siapa Fir‘aun pada zaman Nabi Musa?” Tetapi juga bertanya, “Apakah ada sifat Fir‘aun dalam diriku, dalam keluargaku, dalam lembagaku, dalam masyarakatku, atau dalam kekuasaan yang aku dukung?”

Beberapa waktu lalu, sebuah transkrip konferensi pers internasional tentang anak-anak dalam konflik membuat saya kembali teringat kepada ayat ini. Dalam transkrip tersebut, terdapat tuduhan berat tentang pembunuhan dan pelukaan anak-anak secara luas dan sistematis, dengan angka yang sangat menyayat hati. Transkrip itu juga menyebut bahwa penargetan anak-anak dipandang sebagai serangan terhadap masa depan, identitas, dan keberlanjutan sebuah masyarakat.

Tentu, dalam membicarakan peristiwa kontemporer, kita perlu berhati-hati. Kita tidak boleh gegabah menuduh semua orang dari suatu agama, etnis, bangsa, atau negara sebagai pelaku kezaliman. Kritik moral harus diarahkan kepada kebijakan, tindakan, struktur kekuasaan, dan pola ketidakadilan; bukan kepada identitas SARA. Dalam setiap bangsa selalu ada orang-orang yang membela keadilan, sebagaimana dalam setiap umat juga selalu ada orang-orang yang tergelincir kepada kezaliman.

Tetapi kehati-hatian tidak boleh membuat hati kita tumpul. Bila anak-anak menjadi korban, bila kelompok lemah diperlakukan seolah tidak memiliki martabat, bila manusia dibuat terpecah agar mudah dikendalikan, dan bila kekuasaan merasa kebal dari pertanggungjawaban, maka Al-Qur’an memberi kita bahasa moral untuk menyebutnya: itu adalah pola Fir‘auniyah.

Dalam transkrip tersebut, ada bagian yang menyinggung budaya impunitas, yaitu keadaan ketika orang merasa bebas melakukan tindakan berat tanpa takut dihukum. Seorang komisioner mempertanyakan bagaimana sebuah budaya militer dapat membuat tentara merasa bebas bertindak “with total impunity”. Dalam bahasa Al-Qur’an, ini sangat dekat dengan makna “عَلَا hwa penargetan anak-anak dipandang sebagai serangan terhadap masa depan, identitas, dan keberlanjutan sebuah masyarakat.

Tentu, dalam membicarakan peristiwa kontemporer, kita perlu berhati-hati. Kita tidak boleh gegabah menuduh semua orang dari suatu agama, etnis, bangsa, atau negara sebagai pelaku kezaliman. Kritik moral harus diarahkan kepada kebijakan, tindakan, struktur kekuasaan, dan pola ketidakadilan; bukan kepada identitas SARA. Dalam setiap bangsa selalu ada orang-orang yang membela keadilan, sebagaimana dalam setiap umat juga selalu ada orang-orang yang tergelincir kepada kezaliman.

Tetapi kehati-hatian tidak boleh membuat hati kita tumpul. Bila anak-anak menjadi korban, bila kelompok lemah diperlakukan seolah tidak memiliki martabat, bila manusia dibuat terpecah agar mudah dikendalikan, dan bila kekuasaan merasa kebal dari pertanggungjawaban, maka Al-Qur’an memberi kita bahasa moral untuk menyebutnya: itu adalah pola Fir‘auniyah.

Dalam transkrip tersebut, ada bagian yang menyinggung budaya impunitas, yaitu keadaan ketika orang merasa bebas melakukan tindakan berat tanpa takut dihukum. Seorang komisioner mempertanyakan bagaimana sebuah budaya militer dapat membuat tentara merasa bebas bertindak “with total impunity”. Dalam bahasa Al-Qur’an, ini sangat dekat dengan makna “عَلَا فِى الْاَرْضِ” — meninggikan diri di bumi. Bukan sekadar sombong dalam hati, tetapi merasa berada di atas hukum, di atas moral, dan di atas nyawa manusia lain.

Namun artikel ini tidak ditulis untuk menunjuk satu bangsa lalu berkata, “Merekalah Fir‘aun.” Artikel ini justru ingin mengajak kita lebih jujur: jangan-jangan setiap kali membaca kisah Fir‘aun, kita terlalu cepat merasa berada di pihak Nabi Musa. Padahal pertanyaan yang lebih mendidik adalah: “Apakah saya pernah bersikap seperti Fir‘aun dalam skala kecil?”

Ketika seorang pejabat menggunakan jabatan untuk menekan bawahan, adakah bayangan Fir‘aun di sana?

Ketika seorang pemimpin memecah orang-orang agar kekuasaannya aman, adakah pola Fir‘aun di sana?

Ketika orang kuat mempermalukan orang lemah, adakah kesombongan Fir‘aun di sana?

Ketika keluarga, organisasi, lembaga, atau negara membiarkan anak-anak menjadi korban dari ambisi orang dewasa, adakah kerusakan Fir‘aun di sana?

Ketika kita merasa kelompok kita selalu benar dan kelompok lain selalu salah, adakah benih Fir‘aun tumbuh diam-diam di hati kita?

Inilah cara Al-Qur’an mendidik jiwa. Ia tidak membiarkan kita membaca kisah orang zalim hanya untuk membenci mereka. Ia mengajak kita mengenali akar kezaliman agar kita tidak menirunya.

Dahulu Bani Israil menjadi korban Fir‘aun. Mereka dilemahkan, direndahkan, dan anak-anak mereka dibunuh. Tetapi sejarah manusia mengajarkan bahwa korban kezaliman tidak otomatis kebal dari mengulangi kezaliman. Siapa pun yang memiliki kuasa, lalu kehilangan rasa takut kepada Allah, dapat tergelincir menjadi seperti pihak yang dulu ia benci.

Itulah sebabnya identitas saja tidak cukup. Mengaku sebagai umat beragama tidak cukup. Mengaku sebagai pembela kebenaran tidak cukup. Mengaku sebagai korban sejarah juga tidak cukup. Yang menentukan adalah apakah kita berlaku adil ketika memiliki kekuasaan.

Al-Qur’an berkali-kali mengajarkan bahwa kemuliaan tidak diwariskan tanpa syarat. Kemuliaan dijaga dengan iman, keadilan, kasih sayang, amanah, dan keberpihakan kepada yang lemah. Jika nilai-nilai itu hilang, maka seseorang atau sebuah kelompok bisa saja membawa nama agama, tetapi menjalankan watak kekuasaan yang jauh dari petunjuk Allah.

Karena itu, Surah Al-Qashash ayat 4 seharusnya menjadi cermin bagi semua orang. Bagi pemimpin, agar tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat menindas. Bagi masyarakat, agar tidak mudah dipecah belah. Bagi orang tua, agar menjaga anak-anak dari ambisi orang dewasa. Bagi umat beragama, agar tidak menjadikan identitas sebagai alasan untuk merendahkan manusia lain.

Pertanyaan terpenting ketika membaca ayat tentang Fir‘aun bukan hanya, “Siapa Fir‘aun hari ini?”

Pertanyaan yang lebih menyelamatkan adalah:

“Apakah ada sifat Fir‘aun dalam diriku?”

Sebab bisa jadi Fir‘aun tidak selalu hadir dalam bentuk istana megah dan pasukan besar. Kadang ia hadir dalam hati yang merasa paling benar. Dalam lidah yang merendahkan orang lain. Dalam jabatan yang digunakan untuk menekan. Dalam kebijakan yang mengabaikan anak-anak. Dalam keberanian melakukan salah karena merasa tidak akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka tadabbur ayat ini membawa kita kepada doa yang sangat pribadi:

Ya Allah, jangan jadikan kami seperti Fir‘aun ketika kami kuat. Jangan jadikan kami pemecah belah ketika kami memimpin. Jangan jadikan kami penindas ketika kami memiliki kuasa. Dan jangan jadikan kami tuli terhadap tangisan anak-anak dan orang-orang lemah.

Al-Qur’an bukan hanya kitab untuk membenarkan posisi kita. Al-Qur’an adalah kitab yang mengoreksi kita.

Dan mungkin, tanda seseorang benar-benar membaca Al-Qur’an bukan ketika ia semakin pandai menunjuk kesalahan orang lain, tetapi ketika ia semakin takut menemukan kesalahan yang sama dalam dirinya sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)