Perjalanan Awal Nabi Muhammad ﷺ: Dari Kelahiran hingga Masa Kanak-Kanak

Mempelajari sirah Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar mengingat nama, tempat, dan urutan peristiwa. Sirah membantu kita memahami keadaan yang melatarbelakangi perkataan, tindakan, serta keteladanan beliau.

Melalui sirah, kehidupan Rasulullah ﷺ seolah hadir sebagai sebuah kisah yang utuh. Kita tidak hanya mengetahui apa yang beliau lakukan, tetapi juga memahami kapan, mengapa, dan dalam keadaan seperti apa beliau melakukannya. Dengan demikian, ajaran beliau dapat dipahami dan diterapkan secara lebih tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Inilah salah satu pesan utama dalam episode pertama seri Journey with the Prophet ﷺ yang diselenggarakan oleh CelebrateMercy. Kajian tersebut membahas silsilah, kelahiran, dan masa kanak-kanak Nabi Muhammad ﷺ, sekaligus mengajak umat Islam mengambil pelajaran dari setiap fase kehidupan beliau.

Sirah yang Menyentuh Hati

Dalam pengantar kajian, Imam Zaid Shakir menjelaskan bahwa hadis terkadang dipelajari secara terpisah dari peristiwa yang melatarbelakanginya. Sirah membantu memberikan gambaran yang lebih lengkap karena menghadirkan perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad ﷺ dalam rangkaian kehidupan beliau.

Mempelajari sirah juga bukan hanya kegiatan untuk menambah pengetahuan. Sirah dapat menjadi jalan untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Dalam kajian tersebut, Mufti Hussain Kamani menggambarkan sirah seperti sebuah foto seseorang yang sangat kita cintai. Ketika melihat foto orang yang telah meninggal, kita biasanya berhenti sejenak. Kita mengenang kebaikannya, mengingat kebersamaan dengannya, serta menyadari pengaruhnya dalam kehidupan kita.

Demikian pula ketika mempelajari kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Kita diajak berhenti dari kesibukan, lalu menyediakan waktu untuk mengenal, mengingat, dan menghayati kehidupan beliau.

Berasal dari Keluarga yang Terhormat

Nabi Muhammad ﷺ lahir dari keluarga terhormat di tengah masyarakat Quraisy. Ayah beliau bernama Abdullah bin Abdul Muthalib, sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahab.

Kakek beliau, Abdul Muthalib, merupakan salah seorang pemimpin Quraisy yang disegani. Ia mempunyai tanggung jawab besar dalam mengurus berbagai kepentingan masyarakat Makkah.

Salah satu peristiwa penting dalam kehidupan Abdul Muthalib adalah ditemukannya kembali sumur Zamzam yang telah lama tertutup. Menurut kisah sirah, Abdul Muthalib memperoleh petunjuk melalui mimpi untuk menggali kembali sumur tersebut.

Dengan bantuan yang terbatas, ia melaksanakan tugas itu dengan penuh kesungguhan. Air Zamzam kemudian kembali menjadi sumber air penting bagi penduduk Makkah dan para peziarah yang datang ke Ka'bah.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa suatu amal baik dapat menghasilkan manfaat yang jauh melampaui usia pelakunya. Seseorang mungkin tidak sempat menyaksikan seluruh hasil dari kebaikannya. Namun, manfaat amal tersebut dapat dirasakan oleh anak, cucu, dan generasi setelahnya.

Lahir pada Tahun Gajah

Nabi Muhammad ﷺ dilahirkan di Makkah pada hari Senin, pada tahun yang dikenal sebagai Tahun Gajah. Tahun tersebut dikaitkan dengan peristiwa penyerangan terhadap Ka'bah oleh pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah.

Abrahah dikisahkan ingin menghancurkan Ka'bah agar masyarakat Arab mengalihkan perhatian dan kunjungan mereka ke bangunan yang didirikannya di Yaman. Akan tetapi, Allah melindungi Ka'bah. Peristiwa tersebut diabadikan dalam Surah Al-Fil.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai tanggal pasti kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian menyebut 8 Rabiulawal, sedangkan pendapat yang paling dikenal di tengah masyarakat menyebut 12 Rabiulawal. Meskipun tanggalnya diperselisihkan, para ulama sepakat bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin.

Rasulullah ﷺ kemudian terbiasa berpuasa pada hari Senin. Ketika ditanya mengenai alasannya, beliau menjelaskan bahwa hari Senin merupakan hari kelahirannya dan hari ketika wahyu diturunkan kepadanya.

Nama Muhammad berarti orang yang banyak dipuji. Nama tersebut belum banyak digunakan di kalangan masyarakat Arab pada masa itu. Dalam perjalanan sejarah, nama Muhammad menjadi salah satu nama yang paling dikenal dan dicintai oleh umat Islam di berbagai penjuru dunia.

Menjadi Yatim Sebelum Dilahirkan

Nabi Muhammad ﷺ telah kehilangan ayahnya sebelum beliau dilahirkan. Abdullah meninggal dunia ketika Aminah sedang mengandung.

Keadaan ini membuat Muhammad kecil menjadi anak yatim sejak lahir. Ketika para perempuan dari perkampungan sekitar Makkah datang untuk mencari bayi yang akan mereka susui, sebagian dari mereka enggan memilih Muhammad kecil. Mereka memperkirakan tidak akan memperoleh imbalan yang cukup karena ayah beliau telah meninggal.

Namun, seorang perempuan bernama Halimah as-Sa'diyah akhirnya bersedia membawa dan merawat beliau. Keputusan itu pada awalnya terlihat seperti pilihan terakhir. Akan tetapi, menurut kisah sirah, keluarga Halimah kemudian merasakan banyak keberkahan setelah membawa Muhammad kecil ke rumah mereka.

Halimah yang sebelumnya kesulitan memberikan air susu mulai mampu menyusui. Hewan ternak keluarganya juga dikisahkan pulang dalam keadaan kenyang dan menghasilkan susu yang lebih banyak.

Kisah Halimah mengajarkan bahwa menolong orang yang lemah dan mengambil tanggung jawab yang diabaikan orang lain dapat menjadi pintu datangnya kebaikan. Manusia mungkin hanya melihat beban, sedangkan Allah dapat menghadirkan keberkahan melalui beban tersebut.

Pelajaran ini tetap relevan dalam kehidupan sekarang. Anak yatim, orang lanjut usia, keluarga yang sedang mengalami kesulitan, serta orang-orang yang terlupakan membutuhkan perhatian. Bantuan yang diberikan dengan ikhlas dapat menjadi amal yang manfaatnya tidak pernah kita perkirakan sebelumnya.

Peristiwa Pembelahan Dada

Ketika berada dalam pengasuhan Halimah, Nabi Muhammad ﷺ mengalami peristiwa yang dalam tradisi sirah dikenal sebagai pembelahan dada.

Dikisahkan bahwa Malaikat Jibril mendatangi beliau ketika sedang bermain. Dada beliau dibuka, kemudian hatinya dibersihkan menggunakan air Zamzam. Peristiwa tersebut dipahami sebagai salah satu bentuk pemeliharaan dan penghormatan Allah kepada calon nabi dan rasul-Nya.

Halimah merasa sangat khawatir setelah mengetahui kejadian itu. Karena merasa bertanggung jawab atas keselamatan anak yang dipercayakan kepadanya, ia membawa Muhammad kecil kembali kepada Aminah di Makkah.

Aminah menerima putranya dengan keyakinan bahwa Allah akan melindunginya. Ia kemudian kembali mengasuh Muhammad kecil dengan penuh kasih sayang.

Kehilangan Ibu pada Usia Enam Tahun

Ketika Nabi Muhammad ﷺ berusia sekitar enam tahun, Aminah mengajak beliau mengunjungi keluarga di Madinah. Dalam perjalanan pulang menuju Makkah, Aminah jatuh sakit dan meninggal dunia di sebuah tempat bernama Abwa.

Kehilangan ini tentu sangat berat bagi seorang anak berusia enam tahun. Sebelumnya beliau telah kehilangan ayah, dan kini beliau harus kehilangan ibu yang selama ini merawatnya.

Ummu Aiman, yang juga dikenal dengan nama Barakah, mendampingi Muhammad kecil dalam perjalanan kembali ke Makkah. Ia kemudian mempunyai kedudukan istimewa dalam kehidupan Rasulullah ﷺ dan dipandang sebagai salah seorang perempuan yang berperan seperti seorang ibu bagi beliau.

Bertahun-tahun kemudian, ketika telah menjadi rasul, Nabi Muhammad ﷺ pernah mengunjungi makam ibunya. Beliau menangis, dan orang-orang yang berada di sekitarnya turut menangis.

Peristiwa itu mengajarkan bahwa kesedihan bukan tanda lemahnya iman. Menangis karena mengingat orang yang dicintai merupakan sesuatu yang manusiawi. Bahkan manusia paling mulia pun merasakan kehilangan dan meneteskan air mata.

Namun, Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan agar kesedihan tidak membuat seseorang kehilangan kendali. Hati boleh berduka dan mata boleh menangis, tetapi lisan tetap dijaga agar tidak mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan keimanan.

Berpindah dari Satu Pengasuhan ke Pengasuhan Lain

Setelah ibunya meninggal, Nabi Muhammad ﷺ diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Sang kakek sangat menyayangi cucunya. Ia sering mengajak Muhammad kecil duduk di dekatnya dalam pertemuan para pemimpin Quraisy.

Akan tetapi, kebersamaan itu hanya berlangsung sekitar dua tahun. Abdul Muthalib meninggal ketika Nabi Muhammad ﷺ berusia sekitar delapan tahun.

Setelah itu, pengasuhan beliau dilanjutkan oleh pamannya, Abu Thalib. Meskipun kehidupan masa kecil beliau dipenuhi kehilangan, selalu ada orang yang dihadirkan Allah untuk mencintai, melindungi, dan merawatnya.

Di sinilah terlihat salah satu pelajaran berharga dari masa kanak-kanak Rasulullah ﷺ. Kehadiran orang yang menyayangi dapat memberikan kekuatan kepada seorang anak yang sedang menghadapi kesulitan.

Kasih sayang membuat seseorang merasa berharga. Perhatian yang tulus dapat menumbuhkan harapan dan memberi keberanian untuk melanjutkan kehidupan.

Pelajaran untuk Kehidupan Kita

Masa kecil Nabi Muhammad ﷺ memperlihatkan bahwa seseorang dapat melewati kehilangan tanpa kehilangan harapan. Beliau lahir sebagai anak yatim, kehilangan ibu pada usia enam tahun, kemudian kehilangan kakek yang mengasuhnya dua tahun setelah itu.

Namun, di setiap tahapan kehidupannya, Allah menghadirkan orang-orang yang memberikan perlindungan dan kasih sayang.

Dari perjalanan tersebut, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, kebaikan tidak pernah sia-sia, meskipun hasilnya belum terlihat. Kedua, menolong anak yatim dan orang yang lemah dapat menjadi sumber keberkahan. Ketiga, kesedihan adalah bagian dari kehidupan dan tidak selalu menunjukkan kelemahan iman. Keempat, kasih sayang dapat menjadi kekuatan besar bagi orang yang sedang menghadapi kesulitan.

Mempelajari sirah pada akhirnya bukan hanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada masa lalu. Tujuan yang lebih penting adalah menjadikan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ sebagai sumber tuntunan bagi kehidupan kita hari ini.

Semakin mengenal beliau, semakin besar peluang kita untuk mencintai dan meneladani akhlaknya. Melalui kepedulian, kesabaran, kasih sayang, dan keteguhan hati, nilai-nilai dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ dapat terus dihidupkan dalam keluarga dan masyarakat.

Artikel ini disarikan dari transkrip otomatis episode pertama “Journey with the Prophet ﷺ: His Birth & Childhood” yang ditayangkan oleh CelebrateMercy. Beberapa kisah sirah memiliki perbedaan riwayat dan penilaian di kalangan ulama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)