Minggu, 14 Mei 2017

Seruan untuk orang beriman - Ustadz Suriani Jiddy, Lc


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Q.S. Al Baqarah, 2: 183)

Allah memulai ayat ini dengan “Hai orang-orang yang beriman”. Ini adalah seruan Ar-Rahman kepada orang-orang yang beriman.

Syaikh Abu Bakar Al Jazairy – ulama kelahiran Aljazair yang tinggal di Madinah, salah seorang pengajar di Masjid Nabawi, menulis sebuah kitab yang berjudul “Seruan-seruan Allah SWT kepada orang-orang beriman”. Dalam kitab ini beliau mengumpulkan ayat-ayat yang dimulai dengan “Hai orang-orang yang beriman”. Jumlahnya tidak kurang dari 94 ayat.

Seruan pertama dalam Qur’an – adab terhadap Rasulullah SAW:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): "Raa'ina", tetapi katakanlah: "Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih. (Q.S. Al Baqarah, 2: 104)

Seruan terakhir dalam Qur’an –

Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu". (Q.S. At Tahrim, 66: 8)

Seruan taubat ini tidak ditujukan kepada orang-orang yang jahat, tapi justru ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Setiap manusia punya potensi yang sangat besar untuk melakukan kesalahan. Sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah yang bertaubat.

Makna “Ya ayyuhalladziina amanu”

Ini adalah seruan Allah SWT kepada orang-orang yang beriman. Allah SWT menyuruh mereka dengan panggilan iman. Karena orang yang beriman itu adalah orang yang hidup dengan imannya. Dalam pandangan Qur’an, orang yang tidak beriman itu tidak dianggap sebagai orang yang hidup. Patokan kehidupan itu bukan berjalan; makan; berfungsinya jantung, paru-paru; tapi iman.

Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Q.S. Al Baqarah, 2: 171)

Orang kafir itu dianggap tuli, bisu dan buta karena mereka tidak berakal. Orang beriman itu mendengar, berbicara dan melihat. Kemenangan dalam Qur’an, standarnya bukan dunia tapi akhirat. Siapa saja yang dimasukkan dalam surga dan dijauhkan dari neraka adalah orang yang sukses. Kuncinya mau mendengar dan mau berpikir.

Sesalan orang-orang kafir dalam neraka:

Dan mereka berkata: "Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala". (Q.S. Al Mulk, 67: 10)

Ketahuilah orang yang membaca panggilan ini, sesungguhnya Allah SWT ketika menyeru orang-orang yang beriman, tujuannya tidak lain Allah ingin memerintahkan mereka pada sesuatu yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan. Dan melarang mereka dari hal-hal itu yang didalamnya ada kebinasaan atau kehancuran.

Abdullah bin Mas’ud – kalau anda mendengar Allah berfirman „Hai orang-orang yang beriman“ maka pasanglah telingamu karena didalamnya ada kebaikan yang akan diperintahkan atau keburukan yang dilarang oleh Allah SWT.

Termasuk larangan memilih orang kafir sebagai pemimpin:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. Al Maidah, 5: 51)

Beliau memberi judul bab-nya: Haramnya menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai awliya. Awliya berasal dari kata wali yang artinya, penolong, teman dekat. Wali berasalah dari kata walaayah (teman dekat, penolong, sahabat setia), wilayah (kekuasaan).

Ketika Allah memerintahkan orang-orang untuk berpuasa agar mereka berbahagia di dunia dan di akhirat. Termasuk ketika memilih pemimpin yang beriman, agar kita hidup bahagia. Hal ini juga menghindarkan mereka daripada kehancuran.

Sifat orang yang beriman – merealisasikan tujuan penciptaan.

Allah SWT tidak menciptakan alam semesta ini dengan kesia-siaan. Ada aliran yang meyakini bahwa setelah menciptakan alam semesta, Allah meninggalkannya. Inilah awal dari sekularisme.
Rasul diutus kepada manusia agar mereka mengetahui tujuan hidupnya.

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Q.S. Al Bayyinah, 98: 5)


Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Q.S. Adz-Dzariyat, 51: 56)