Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

"Speaking English Please" - at School Canteen

Berbagai upaya dilakukan oleh guru bahasa Inggris untuk membiasakan para murid berbahasa Inggris. Salah satu upaya tersebut adalah membiasakan para murid untuk berbahasa Inggris di kantin sekolah. Hal ini dilakukan oleh seorang guru bahasa Inggris honor yang bekerja di SD Negeri 4 Selat Hilir. Jadi para murid yang ingin berbelanja di kantin harus bertanya dalam bahasa Inggris dan penjual pun harus menjawab dalam bahasa Inggris. Namun kadang-kadang kalau ada siswa yang tidak tahu harus mengucapkan apa saat membeli sesuatu, dia hanya mengangkat barang yang akan dibeli, lalu sang penjual menyebutkan harganya dalam bahasa Inggris. Kreativitas ini patut diacungkan jempol.

Komentar

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas