BAPENA PPNI & DPD PPNI KABUPATEN KAPUAS GERAK CEPAT: BAGIKAN MASKER DAN EDUKASI MASYARAKAT TANGGULANGI DAMPAK ASAP KARHUTLA

Gambar
    KUALA KAPUAS – Menyikapi memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, Badan Penanggulangan Bencana (BAPENA) PPNI bersama Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PPNI Kabupaten Kapuas turun langsung ke tengah masyarakat melaksanakan kegiatan pembagian masker serta penyuluhan kesehatan pencegahan gangguan pernapasan, Sabtu, 19 September 2026.   Kegiatan ini menyasar wilayah-wilayah yang mencatat kualitas udara paling buruk, antara lain Kecamatan Selat, Sei Tatas, Melati, serta kawasan pemukiman padat lainnya. Ratusan masker telah dibagikan secara cuma-cuma kepada warga, mulai dari pedagang pasar, pelajar, hingga warga di lingkungan pemukiman.   Ketua BAPENA PPNI Kabupaten Kapuas, Muhammad Hipni, S.Kep., Ners., MH, menyampaikan bahwa langkah ini merupakan respons cepat organisasi atas kondisi darurat lingkungan yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.   “Karhutla bukan sekadar ...

Penelitian TB di Kabupaten Kapuas (2002)

STUDI KUALITATIF MOTIVASI KERJA TENAGA PELAKSANA PROGRAM TB PARU TERHADAP PELAKSANAAN STRATEGI DOTS DI PUSKESMAS RUJUKAN MIKROSKOPIS (PRM) KABUPATEN KAPUAS PROPINSI KALIMANTAN TENGAH - Diponegoro University | Institutional Repository (UNDIP-IR)


Berikut ini adalah sebagian dari abstraknya:

Penelitian ini melalui pendekatan studi kualitatif pada tenaga pelaksana program TB Paru di 5 PRM Kabupaten Kapuas dengan jumlah responden 10 orang (total populasi), menggunakan dua metode yaitu Diskusi Kelompok Terarah dan Wawancara Mendalam yang dilaksanakan dari tanggal 11-20 April 2002. Hasil penelitian menunjukan bahwa tenaga pelaksana mempunyai tugas rangkap untuk program kusta, imunisasi, rabies. Untuk program TB Paru tidak mempunyai Surat Keputusan (SK). Yang memotivasi responden bekerja karena status sebagai PNS, ada pensiun. Tenaga pelaksana mempunyai harapan terhadap diklat agar dapat mengetahui perkembangan program dan dapat infonnasi baru, menginginkan adanya penghargaan kerja, insentif khusus program TB Paru , memerlukan pembinaan melalui supervisi baik oleh wasor kabupaten maupun pimpinan puskesmas dan adanya hubungan kerj a yang baik, komunikasi dan keterbulcaan antara atasan dengan bawahan. Tenaga pelaksana program tidak mempunyai SK, belum ada pembinaan oleh wasor maupun pimpinan puskesmas, tidak ada insentif. Oleh karena itu disarankan adanya SK sebagai legitimasi, tersedia insentif, m engikutsertakan petugas yang belum mendapat pelatihan, melengkapi fasilatas sarana di PRM dan jika ada peralatan yang rusak segera diganti.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)