The Salahuddin Generation (Ep. 11): Salahuddin’s Legacy — Warisan Terbesar Bukan Tahta, Bukan Kota, Bahkan Bukan Yerusalem

Gambar
Ia mengalahkan para raja. Ia membebaskan Yerusalem. Ia mematahkan Perang Salib Ketiga. Tetapi pada akhirnya—apa yang paling ia takutkan? Apa yang paling ia rindukan? Dan apa yang paling ia titipkan? Episode penutup ini menjawab dengan kalimat yang menohok: yang paling besar dalam pandangan Salahuddin bukanlah kota, bukan kejayaan, bahkan bukan Yerusalem sebagai “trofi” sejarah. Yang paling besar adalah Allah , dan segala yang selain-Nya hanyalah jalan. 1) Mars Terakhir Menuju Yerusalem: “Tidak Ada Lagi yang Datang Menolong” Setelah bertahun-tahun perang, pasukan Frank akhirnya mencoba mengambil “hadiah utama”: Yerusalem . Salahuddin tahu, ini bukan sekadar pertempuran biasa. Maka ia mengumpulkan tentara dan berkata tegas: kalian adalah tentara Islam hari ini, darah, harta, dan keluarga kaum Muslim bergantung pada kalian, tidak ada Muslim lain yang akan datang menolong, ini amanah yang Allah letakkan di pundak kalian. Pidato ini bukan untuk membakar emosi semata, t...

TPA Masjid At-Taqwa

Suasana sesudah shalat Ashar berjama'ah
TPA ini dipimpin oleh Bapak Subhan bersama dengan 9 orang guru laki-laki dan perempuan. TPA ini sudah berdiri sejak 15 tahun yang lalu. Saat ini jumlah santri yang terdaftar sebanyak 165 orang. Iuran bulanannya adalah Rp 15.000 per anak. Pelajaran di TPA ini dilangsungkan dengan dua gelombang, gelombang pertama klasikal Qur'an dan gelombang kedua klasikan Iqra'. TPA ini dimulai jam 13.30 WIB sampai sesudah shalat Ashar. Para santri dilatih untuk mengerjakan shalat berjama'ah di masjid At-Taqwa. Yang disayangkan justru sikap para orang tua yang menjemput para santri ini. Mereka bukannya ikut shalat Ashar berjama'ah, malah menunggu diluar masjid sambil ngobrol dengan para orang tua yang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas