Navigating Integrity Zone Development: A Hospital's Journey

Gambar
 This storyboard chronicles the efforts of a medical services head tasked with understanding and implementing an integrity zone at RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo Hospital. Over one evening, they delve into the self-assessment form required for the integrity zone's development, consulting ChatGPT for clarification on complex issues and drafting essential documents. By morning, they are ready to lead a staff assembly, outlining the steps necessary to foster a culture of integrity within the hospital. On April 17, 2024, the director of RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo assigned the head of medical services to attend a socialization meeting for the integrity zone development. Searching for foundational documents for the integrity zone at night, finding the self-assessment form. Exploring the self-assessment questions, using ChatGPT to understand the complicated parts. Asking ChatGPT for advice on: Team Decree (SK Tim Kerja), Work Plan (Rencana Kerja), Change Agents (Agen Perubahan),

Kebersamaan Itu Indah


Oleh: Guru Parhani

Kebersamaan itu indah. Membangun kebersamaan tidak mudah. Lebih sulit lagi untuk mempertahankan kebersamaan itu agar tetap ada sepanjang masa. Kebersamaan merupakan modal bagi kita. Oleh sebab itu sebuah kebersamaan yang sudah ada mari kita jaga dan kita pelihara bersama-sama agar dengan kebersamaan ini masyarakat lebih baik disegala bidang.

Kehidupan kita ditengah masyarakat bila kita tidak mau bersama-sama, masyarakat tersebut tidak akan maju. Tetapi apabila kebersamaan itu ada dan dipelihara, akan terangkat kehidupan masyarakatnya. Tetapi bila sesuatu itu ringan, tidak akan berjalan. Walaupun berat tapi kalau diangkat bersama-sama akan terangkat. Inilah kebersamaan.  Kebersamaan ini penting kita jaga ditengah masyarakat kita agar masyarakat lebih baik.
Kehidupan di tengah masyarakat diumpamakan lima jari. Kalau mau bekerjasama, maka akan terangkat. Kalau tidak mau bekerja sama tidak akan terangkat.

Pertama: jari tengah (orang alabio bilang tunjuk hantu), dimasyarakat adalah orang-orang tua kita yang harus kita muliakan, nasehatnya kita dengar, pak haji. Beruntung ditengah masyarakat ada orang tua, tidak ramai. Kalau masih banyak orang tua, bisa berbagi pengalaman. Orang tua banyak pengalaman karena umurnya panjang, mereka mengalami sendiri sejarah tersebut. Mereka harus kita muliakan. Sayidina Ali hendak berangkat shalat Subuh, beliau sudah terlambat ke masjid, hendak berangkat shalat Subuh. Ditengah jalan bertemu orang tua yang sedang berjalan dengan tongkat. Sayidina Ali tidak mau mendahului, meskipun orang tua itu orang Yahudi. Padahal beliau sudah terlambat untuk shalat berjama’ah. Ketika beliau masuk masjid, Nabi dan para sahabat sudah rukuk.

Begitu kita sempat mendapatkan rukuk, maka kita masih mendapatkan raka’at pertama, meskipun tidak membaca Fatihah.

Begitulah hormatnya Sayidina Ali kepada orang tua. Letak jari tengah agak tinggi. Orang tua harus dimuliakan. Kalau kita berjalan, terkadang naik, mendatar dan menurun. Kalau naik gunung, naikkan kepala, kalau mendatar, luruskan pandangan, kalau menurun, turunkan kepala kita. Ketika menghadapi orang tua, hormati mereka. Dikala sedang mendatar, luruskan pandangan. Dikala kita berhadapan dengan orang yang sebaya dengan kita, kita hargai. Ketika menurun, kita berhadapan dengan orang yang lebih muda dari kita, kita harus pandai menyayangi. Hormat kepada yang tua, menghargai yang sebaya dan saying kepada yang muda.

Jari telunjuk: disini adalah para alim ulama kita. Guru Thalib, Pak Ramli, mereka ini orang yang sering memberikan petunjuk. Fatwa-fatwanya kita dengar, taati, kita sambut. Inilah para guru-guru kita.

Jari manis: adalah anak-anak muda/remaja. Ini harapan kita. Mereka kelihatan manis, mereka menjadi harapan kita dimasa depan. Kalau anda ingin melihat keadaan bangsa kita pada masa depan, maka lihatlah remaja pada masa itu. Bila remaja hancur maka masa depan akan suram. Generasi tua akan diganti dengan dengan generasi muda. Tanamkan keimanan kepada pemuda, agar kelak dihari tua mereka menjadi orang tua yang beriman, berpengalaman dan bisa membina masyarakat.

Jari kelingking: ini adalah anak-anak. Acara apapun kalau tidak ada anak-anak tidak ramai. Walaupun dia ingusan sekarang, bisa jadi presiden dia nanti. Mereka perlu diajak.

Ibu jari: kaum wanita. Disamping, kelihatannya rendah, tapi memiliki peran yang besar. Dia ambil andil yang besar dalam kehidupan. Dalam acara ini kalau tidak ada wanita, tidak makan. Minum, mengangkat cangkir tanpa ibu jari tidak bisa. Tidak beristri, tidak ramai. Wanita menjadi penentu keberhasilan dalam masyarakat. Ibu yang dapat menjangkau semuanya. Pandai mengayomi. Kena rayuan wanita bisa luluh.
Sebuah kebersamaan dalam masyarakat ini penting kita jaga baik-baik. Tanpa ada kebersamaan kita tidak akan maju dan tidak akan baik. Cita-cita tidak akan tercapai. Dalam rumah tangga kalau tidak ada kebersamaan akan kacau.

Supaya kebersamaan bisa terjaga:
1.      
      Kerjakanlah shalat berjama’ah, karena shalat jama’ah ini akan membentuk kebersamaan. Apabila masyarakat mau memakmurkan langgar/masjid, kebersamaan di masyarakat itu akan menyatukan hati-hati mereka. Bila hati disatukan Allah, tidak ada percekcokan dalam masyarakat. Kita harus melihat realita yang ada. Kita mayoritas, tapi mengapa yang banyak ini dianggap orang lemah. Kita banyak meninggalkan shalat jama’ah, sehingga hati-hati tidak disatukan oleh Allah SWT. Bila hati sudah disatukan, ini modal besar. Shalat jama’ah ini enak, imam yang lelah. Pahala shalat jama’ah adalah apa yang dilakukan oleh imam. Sering-sering berjama’ah membuat kita hapal bacaan shalat. Makmurkan masjid dengan melaksanakan shalat berjama’ah.
2.      
      Silaturahim. Saling berkunjung. Nabi menyuruh silaturahim. Orang yang memutuskan silaturahim dimurkai Allah. Shalat jama’ah bisa membantu silaturahim. Rasulullah paling sibuk tapi beliau sempat mengunjungi para sahabatnya. Bila silaturahim dilaksanakan, perselisihan kecil akan hilang. Bila silaturahim, kesalahpahaman bisa dicarikan titik temunya, sehingga persilisihan akan hilang. Silaturahim harus mencari waktu yang tepat.

3.       Makan bersama. Makan bersama, keberkahan Allah akan turun. Makan bersama akan menjaga kebersamaan. Makan orang Arab dengan menggunakan piring besar. Dalam rumah tangga bila jarang makan bersama, anak-anak mudah bertengkar. Kalau siang tidak bisa makan bersama, usahakan malam hari. Disitu barakah akan turun. Rasulullah makan bersama Aisyah, sepiring berdua, minum segelas berdua, mandi berdua. Bila suami istri berantem, bila makan sepiring berdua, berantemnya berhenti.

Ada tiga hal yang perlu dihindari:
1.      
      Sifat hasad (dengki). Ini paling fatal dalam merusak kebersamaan. Dalam masyarakat bila ada yang hasad, dia akan jadi provokator. Orang hasad, tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat. Menari diatas penderitaan orang lain. Bila orang lain mendapatkan nikmat, kita diharapkan untuk ikut merasa gembira.

2.       Penyakit sombong (takabur). Karena orang yang sombong, keras kepala. Tidak mau menerima nasihat dari orang. Orang lain dianggap salah terus. Ingat apa yang Tuhan berikan kepada kita hanya titipan, hakikatnya bukan milik kita.

Sifat tamak (serakah/rakus), tidak mau berbagi. Tidak mau tahu dengan nasib penderitaan orang lain. Orang yang serakah, ganas daripada binatang. Manusia tamak rakus, aspal bisa dimakan. Semua ini Allah yang memberikan. Semua nikmat diatur oleh Allah SWT.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Laki-laki adalah "qawwam" bagi perempuan