Jumat, 12 Agustus 2011

Arnoud H. Klokke - Dokter Pemerintah RI 1949-1959

Dr. Klokke dan timnya berjalan selama 12 jam dari Sei Hanyu ke Kuala Kurun dengan membawa tas yang berisi obat-obatan, tahun 1952 (With courtesy from Borneo Research Council)
Arnoud H. Klokke belajar Ilmu Kedokteran di Universitas Leiden. Tahun 1948 dia menyelesaikan pendidikannya, yang terputus karena peperangan. Sesudah perang, Belanda mencoba mengembalikan kolonialisasinya terhadap Indonesia. Karena dia tidak ingin terlibat dengan tujuan ini, Klokke mendaftarkan diri ke Misi dari the Dutch Reformed Church untuk melakukan pelayanan medis di Indonesia. Karena peraturan Belanda mengharuskan setiap misionaris yang masuk ke Indonesia harus sebagai pegawai Dutch East Indies, Klokke memasuki Indonesia sebagai pegawai Belanda. Sesudah kemerdekaan Indonesia (menurut versi Belanda, Desember 1949) dia secara otomatis terdaftar sebagai pegawai negeri di Indonesia.


Dia datang ke tempat tugasnya di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah, pada bulan Juni 1949. Dia ditunjuk sebagai Petugas Medis Kabupaten (District Medical Officer) pada saat penyerahan kekuasaan ke Indonesia belum berlangsung. Dia ditugaskan di sana oleh pemerintah Belanda yang menyangka bahwa daerah tersebut berada dalam kekuasaan Belanda. Tapi hal itu segera menjadi jelas bahwa kenyataannya berbeda, karena bagian dari Kalimantan ini sudah berada dibawa kekuasaan angkatan bersenjata revolusioner.

Kabupaten ini, Kabupaten Kapuas, seukuran Belanda. Penduduknya tersebar di sepanjang sungai-sungai utama yaitu Kapuas dan Kahayan, beserta anak-anak sungainya yaitu Rungan, Manuhing dan Miri. Klokke memimpin rumah sakit di Kuala Kapuas, yang juga berfungsi sebagai markas bagi 10 pos pembantu di sepanjang sungai ini.

Rumah sakit misi dibangun pada tahun 1931 oleh Misi Basel dan sesudah kemerdekaan dijadikan rumah sakit pemerintah. Kemudian, ketika dokter kedua datang untuk mengelola rumah sakit, Klokke dipercaya untuk melaksanakan Kampanye Nasional Anti-Yaws dikabupatennya, dimana prevalensi yang tercatat diatas 20%. Tugas ini mengharuskannya untuk melakukan perjalan berbulan-bulan: di daerah hilir dengan menggunakan klotok, ke daerah hulu dimana ketinggian air sangat dangkal, dengan menggunakan longboat dan kearah hulu lagi dimana dasar sungai sudah berbatu dan dangkal dengan longboat yang didorong dengan  tongkat kayu. Seringnya perjalanan ke daerah terpencil dari kabupaten ini sangat baik untuk kontak sosial. Pada tahun 1952 di Pangkuh (Kahayan bagian hilir) Klokke diangkat saudara oleh dua keluarga Dayak Ngaju dengan ritual adat "hatundi daha". Ritual ini, meminum minuman keras yang dicampur dengan setetes darah dari masing-masing orang yang diambil dari bahu menciptakan persaudaraan diantara orang yang tidak memiliki hubungan keluarga.

Tahun 1954 Klokke melaksanakan penelitian kedua bagi Markas Pusat Kampanye Anti-Yaws di Jogjakarta. Disinilah dia mendapatkan gelar doktor (Ph.D) di Universitas Gajah Mada berdasarkan penelitian epidemiologi dan serologi dari yaws pada rumah tangga di Jawa Tengah. Tahun 1955 dia kembali ke Kalimantan.

Perjalanan di Kalimantan tidak hanya berarti tugas medis. Hal ini memberikan pemahaman terhadap konteks budaya dari masyarakat. Saat berada di rumah-rumah pedesaan, dimana dia menginap, dia dapat mendengarkan nyanyian ritual dari para wanita, menganyam rotan dimalam hari dengan menggunakan lampu minyak. Dia dapat menghargai anyaman bamu atau anyaman rotan yang sangat berseni. Dia mendengar kisah pahlawan Sangumang dan Bapa Paloi, yang diceritakan dalam kegelapan di depan kapal bermotor oleh anggota tim. Di daratan kadang-kadang perlu berjalan melintasi satu sungai ke sungai lain. Foto diatas menunjukkan Klokke bersama dengan timnya berjalan selama dua belas jam dari Sungai Hanyu ke Kuala Kurun, sambil membawa tas yang berisi obat-obatan. Dia ingat saat mencapai tujuannya di sore hari saat lonceng gereja biasanya berbunyi. Sebagaimana lonceng yang sama juga berdentang untuk mengumumkan kematian orang desa, sebagian orang yang sudah berobat dengan dokter, berjalan dengan penuh kesulitan berpikir bahwa suara lonceng mengumumkan kematiannya.

Tugasnya di Indonesia berakhir tahun 1959, karena adanya konfrontasi antara negaranya dan Indonesia terhadap Papua Barat.

Lebih dari setengah karirnya di Indonesia dijalaninya bersama istrinya, dokter Ada Coster. Ada hal yang sangat membantu bagi istrinya, dimana ibunya, seorang orientalis, secara tidak sengaja menyiapkan putrinya untuk hidup di Kalimantan dengan memperlihatkan kepadanya gambar-gambar dari buku yang dikarang oleh Nieuwenhuis (1907), Quer durch Borneo, ketika dia sedang menderita sakit saat masih kecil.

Sumber: Traditional Medicine Among The Ngaju Dayak In Central Kalimantan (The 1935 writings of a former Ngaju Dayak priest), edited and translated by A.H. Klokke.