Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sejarah

Menyendiri di Akhir Hidup: Pelajaran dari Jepang dan Implikasinya untuk Kapuas

Gambar
  Pendahuluan: Saat membaca salah satu subyek email dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health – Global Health Now yang berjudul “Dying Alone in Japan”, saya langsung membuka email tersebut dan mencari tautan untuk membaca artikelnya. Rupanya artikel ini dari The Guardian ( Life at the heart of Japan’s lonely deaths epidemic: ‘I would be lying if I said I wasn’t worried’ | Japan | The Guardian ). Sedih juga membacanya, bagaimana begitu banyak orang tua di Jepang yang meninggal dalam keadaan tidak ditemani oleh siapa pun. Bahkan ada yang tetangganya baru mengetahui yang bersangkutan meninggal setelah lima bulan. Hal ini mengingatkan penulis saat tinggal di barak di Kelvin Grove Road, Brisbane, Australia. Di samping barak yang penulis tempati, ada seorang nenek. Setiap hari nenek tersebut dikunjungi oleh seorang kakek yang sering mengetuk pintu kamarnya, kemudian menanyakan bagaimana kabarnya. Setelah penulis baca-baca tentang kehidupan di Australia, ternyata kakek tersebut mel

Dua anak di ruang anak-anak rumah sakit di Kuala Kapuas terlihat dengan cahaya lilin Natal

Gambar
  Foto di atas diambil di rumah sakit yang dibangun oleh Basel Mission di Kelurahan Barimba, Kecamatan Kapuas Hilir, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Foto ini diperkirakan diambil diantara tahun 1936 - 1943 oleh dr. Carl Matheus Vischer .  Reference: B-30.68.086 Citation: Reference: BMA B-30.68.086 Title: "Zwei Kinder i. Kindersaal des Spitals i. Kwala Kapuas beim Schein der Weihnachtskerzen (Text siehe R├╝ckseite [=annotations]. " Creator: Vischer, Mattheus Karl [Mr] Date: 01.01.1936-31.12.1943 Vischer, Mattheus Karl [Mr], “Zwei Kinder i. Kindersaal des Spitals i. Kwala Kapuas beim Schein der Weihnachtskerzen (Text siehe R├╝ckseite [=annotations]. ,” BMArchives, accessed November 16, 2023, https://www.bmarchives.org/items/show/53781 .

Muslimah lebih dulu mendapatkan kebebasan politiknya dibandingkan wanita-wanita Amerika

Want to see the AP's analysis/coverage from 100 years ago about the ratification of the 19th Amendment? Fascinating history below https://t.co/291VQyMymY — Josh Hoffner (@JoshHoffner) August 17, 2020 Amerika Serikat baru memberikan hak kepada para wanita untuk memberikan suara dalam pemilu pada tanggal 18 Agustus 1920 (100 tahun yang lalu).  Islam, sejak awal sudah melibatkan wanita dalam dunia perpolitikan. Hal ini dapat kita lihat dalam peristiwa Bai'at Aqabah Kedua  (622 M) dimana ada dua orang wanita yang dilibatkan dalam kegiatan tersebut. Dalam kegiatan tersebut mereka berjanji untuk: Untuk mendengar dan taat, baik dalam perkara yang mereka sukai maupun yang mereka benci. Untuk berinfak baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Untuk beramar ma’ruf nahi munkar. Agar mereka tidak terpengaruh celaan orang-orang yang mencela di jalan Allah. Agar mereka melindungi Muhammad sebagaimana mereka melindungi wanita­-wanita dan anak-anak mereka sendiri.

Jalan-jalan ke Rumah Sakit Kuala Kapuas yang dibangun oleh Basel Mission

Gambar
Pada hari Jum'at, 26 April 2019, admin menyempatkan diri kembali untuk mampir ke Rumah Sakit Kuala Kapuas yang lama. Bangunan yang ada di pinggir jalan beberapa tahun yang lalu sudah tidak ada lagi. Sekarang di lokasi tersebut sudah ditumbuhi dengan padi.  Admin menelusuri ke dalam, meliput bangunan yang tersisa, mengobrol dengan Bapak Jack Risman yang menempati bekas rumah sakit tersebut. Beliau lebih banyak tahu tentang perjalanan Basel Mission di Kapuas. Semoga pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten memberi perhatian untuk perbaikan situs bersejarah ini. Rumah sakit ini dibangun oleh Basel Mission atas masukan dari dr. Vischer. Diresmikan pada tahun 1931.

Bangsal anak dari waktu ke waktu (1938 - 2010)

Gambar
Bangsal anak tahun 1938 Bangsal anak tahun 2001 Bangsal anak tahun 2010 Bangsal anak ini merupakan bagian dari Rumah Sakit Kuala Kapuas yang dibangun oleh Basel Mission. Rumah sakit ini terletak di Desa Barimba, Kecamatan Kapuas Hilir, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.

"Sister House" dari waktu ke waktu (1932 - 2010)

Gambar
Sister house (1932) Sister house (1934) Sister house (2001) Guest house (2010) "Sister house" ini berada di Kelurahan Barimba, Kecamatan Kapuas Timur, dekat dengan bekas bangsal anak Rumah Sakit Kuala Kapuas yang dibangun oleh Basel Mission.

Rumah Eropa tampak depan (Foto Koleksi Bernhard Vischer)

Gambar
Rumah Eropa (Dokter, Perawat, 3 Eropa. Krankenzimmer ) tampak depan. Disampingnya ada rumah dokter. Rumah ini terletak di pinggir Sungai Kapuas Murung. Foto ini dimuat seizin Bernhard Vischer

Bangunan luar rumah Eropa (Foto Koleksi Bernhard Vischer)

Gambar
Foto diatas adalah salah satu bangunan yang ada dikomplek Rumah Sakit Kuala Kapuas yang ada di daerah Barimba yang selesai dibangun pada tahun 1931. Foto dimuat atas izin dari Bernhard Vischer

Poliklinik pendahuluan (Foto koleksi Bernhard Vischer)

Gambar
Foto diatas adalah poliklinik pendahuluan yang dibangun oleh Basel Mission. Poliklinik ini dikelola oleh dr. Carl Matheus Vischer. Di depan poliklinik ini disediakan ruang tunggu sederhana yang terbuat dari kayu. Poliklinik yang dibangun pada tahun 1927 ini berada di Barimba. (Sekarang kelurahan ini berada di Kecamatan Kapuas Hilir, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Foto diatas dimuat seizin Bernhard Vischer.

Peta Kuala Kapuas tempo dulu (Koleksi Foto Bernhard Vischer)

Gambar
Peta diatas menggambarkan peta tempo dulu. Di peta ini tampak berbagai sungai yang ada di Kuala Kapuas dan sekitarnya. Sampai sekarang ada beberapa sungai yang namanya bertahan sampai sekarang, tapi ada yang sudah tidak dikenal lagi nama tersebut. Misalnya S. Barania. Sungai ini melewati Jalan Kapten Pierre Tendean, Jalan Ahmad Yani, Jalan Melati, Jalan Teratai dan Jalan Mawar. Sebagian masyarakat menyebut sungai ini sebagai Sungai Gereja karena melewati Gereja Sinta. 

Staf RS Kuala Kapuas (Foto koleksi Bernhard Vischer)

Gambar
Foto diatas menggambarkan staf rumah sakit Kuala Kapuas pada tahun 1929: Duduk, dari kiri ke kanan: B. Vischer-Mylius, Dr. Carl Matheus Vischer dan Suster Maria Horsch Berdiri di belakang, dari kiri ke kanan: Roben Pahu dan istrinya, Nisia Sungan. Izin pemuatan foto ini diberikan oleh Bernhard Vischer.

Masjid Al-Wardah, dulu dan kini

Gambar
Masjid Al-Wardah Januari 2016 Masjid Al-Wardah 29 November 2017 Bila kita menuju ke Palingkau dari Kuala Kapuas, maka ketika melewati Desa Mawar Mekar, Kecamatan Pulau Petak, Kabupaten Kapuas, Kalteng, maka kita akan kagum dengan adanya sebuah masjid yang cukup megah. Pada mulanya masjid ini sangat sederhana dan terbuat dari kayu. Sekarang masjid ini berdiri dengan megah. Masjid ini sudah mengantisipasi kenaikan badan jalan, sehingga lantai masjinya pun dibuat lebih tinggi dari jalan raya.  Mengingat WC dan tempat wudhu'nya masih sangat sederhana, mudah-mudahan dalam waktu dekat, kedua termpat tersebut bisa diperbaiki.  Karpet bertuliskan Masjid Al Wardah - Desa Mawar Mekar Kuala Kapuas Bagian dalam masjidnya cukup menarik, ada karpet yang bertuliskan nama masjid dan desa dimana masjid tersebut berada. 

GPU Manggatang Tarung Dulu dan Kini

Gambar
GPU Manggatang Tarung Tahun 2009 GPU Manggatang Tarung Tahun 2017 Kedua foto diatas menggambarkan bagaimana suramnya GPU Manggatang Tarung saat ini. Sayang memang kondisi pencahayaan pada kedua foto tersebut berbeda. Namun secara kasat mata kita bisa melihat bahwa cat dari GPU Manggatang Tarung sudah pudar. Karena bangunan ini terbuat dari kayu, maka kondisinya sudah banyak menurun. Apakah ini kelak akan menjadi bangunan yang dimusiumkan sebagaimana rumah betang Sei Pasah?

Hikayat Dayak Ngaju yang dikumpulkan oleh dr. A.H. Klokke

dr. A.H. Klokke bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit Kuala Kapuas dari tahun 1949 - 1959. Saat bekerja tersebut beliau diperkenalkan dengan hikayat Dayak Ngaju. Buku ini berisi 20 hikayat yang diceritakan oleh Rev. Munte Saha. Adapun hikayat-hikayat tersebut adalah: Saritan sangumang intu utus Dayak Ngaju Sangumang dengan maharadja manaharep pengadilan Hatalla Maharadja manakau pakasem sungket Sangumang Narai buku Sangumang dia tau saondau dengan bapae Sangumang hamburung Sangumang manak indue Sangumang mandup Sangumang mamisi Sangumang mamuar badjanji Sangumang haban Sangumang dengan pahari idje tato Koran Saritan Bapa Paloi Bapa Paloi maneser kolok badjang Bapa Paloi mandjual kelep Bapa Paloi tempe hundjun tarok enjuh Bapa Paloi manakau pakasem Indu Paloi Bapa Paloi pahuni Bapa Paloi meton kolok badjang hundjun tunggul Bapa Paloi manjahokan arep hung rumbak luntung Bapa Paloi tolak manetes Bapa Paloi dengan Tato Gerasi Bapa Paloi manganjau riwut

Foto Kuala Kapuas Tahun 1944

Gambar
Foto diatas berasal dari  Museum Volkenkunde (National Museum of Ethnology) yang diunggah ke Wikimedia, sehingga bisa diakses oleh masyarakat umum. Judul dari foto ini adalah: Aankomst voor inspectie voor de zendingsziekenzaal te Kualakapuas, Borneo (Kedatangan inspeksi misi rumah sakit ke Kuala Kapuas, Kalimantan)

Mit Boot und Stethoskop (Dengan perahu dan stetoskop)

Gambar
Sampul buku "Mit Boot und Stethoskop" Buku ini ditulis oleh Marianne Dubach-Vischer, anak perempuan dari pasangan Mattheus dan Betsy Vischer-Mylius. Buku ini diterbitkan oleh Friedrich Reinhardt Verlag Basel pada tahun 1998. Pada bagian awal buku ini menceritakan tentang pasangan diatas kemudian berlanjut mengenai pengalaman mereka selama menjadi dokter misionaris di Banjarmasin, Kuala Kapuas dan bagian lain dari Kalimantan Tengah. Buku ini merupakan kumpulan dari surat-surat yang ditulis oleh pasangan diatas. Dari buku inilah kita bisa mengetahui sedikit banyak sejarah Kuala Kapuas dari kaca mata seorang dokter dan istrinya. Pada bagian kedua dari buku ada rincian yang sangat menarik mengenai pelayanan penderita kusta di Kabulat; tabel jumlah penyakit dan operasi yang dilakukan selama di Kuala Kapuas; jumlah pasien di poliklinik Kuala Kapuas; daftar perjalanan dr. Vischer sebagai dokter dan misionaris; ikhtisar konstruksi; lokasi dimana misi dijalankan di Kalimantan;

Kesan dr. Soemarno Sosroatmodjo terhadap dr. Vischer

Gambar
dr. Soemarno Sosroatmodjo dr.  Mattheus Carl Vischer Ia dokter yang sangat trampil dan menimbulkan kesan bahwa ia dapat mengatasi kesukaran dan memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Dalam improvisasi ia sangat matang. Kalau tidak ada instrumen, ia membuat sendiri bersama dengan tukang-tukang suku Dayak yang telah terlatih olehnya. Sikap kemasyarakatannya sangat mendalam, sehingga dicintai oleh penduduk Kuala Kapuas. Rumah sakit Zending di Kuala Kapuas merupakan satu-satunya rumah sakit yang lengkap. Saya banyak belajar dari dr. Vischer yang memimpin rumah sakit itu. Dikutip dari buku " Dari Rimba Raya Ke Jakarta Raya (halaman 253)" karangan dr. H. Soemarno Sosroatmodjo

Mengenal Dubach-Vischer Marianne

Gambar
The doctor's children in Kuala Kapuas Mungkin banyak yang bertanya-tanya siapa beliau. Beliau adalah anak dari dr. Vischer  yang pernah menjadi direktur RS Kuala Kapuas pada tahun 1930-an. Beliau lahir tahun 1926 di Basel, Swiss. Kemudian pada tahun 1927 mengikuti ayahnya yang menjadi dokter misionaris di Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Setelah itu dia tinggal bersama neneknya di Basel Swiss. Dia berhenti kuliah kedokteran karena menikah. Sebagai ketua asosiasi "Leonhard Home" dan the "Basler Women's Association", yang dia pimpin setiap sepuluh tahun, dia mengkampanyekan masalah wanita dan anak-anak. Beliau adalah anggota pengurus Protestant Women's Federation pada tahun 1980 dan dipilih sebagai Grand Council of the Canton of Basel-Stadt sampai tahun 1992. Beliau menulis dua buah buku yang berisi pengalaman orang tuanya dan pengalamannya selama tinggal di Kuala Kapuas dan Basel: Mit Boot und Stetoskop Zwischen Basel und Borneo Sumber: Fred

Kisah dr. Soemarno Sosroatmodjo di Kuala Kapuas

Gambar
Di Kuala Kapuas mata saya semakin terbuka akan berbagai masalah sosial. Mula-mula saya hendak mendaftarkan diri diri sebagai anggota Parindra di Banjarmasin, tapi ternyata di Kuala Kapuas pun sudah berdiri cabangnya. Jadilah saya anggota Parindra. Kemampuan saya dibidang kedokteran pun terangsang dan terdorong maju, karena harus menanggulangi berbagai penyakit dengan peralatan yang seadanya. Dr. Vischer sebagai kepala rumah sakit menganggap saya lebih cekatan dari dokter wanita berkebangsaan Jerman yang pernah mewakilinya. Isteri saya pun mulai terjun ke dalam masyarakat. Ia memulai mengadakan kursus-kursus kepada para wanita Dayak, baik mengenai masalah-masalah kesehatan maupun pemberantasan buta huruf. Tidak mengherankan jika rumah saya - seperti juga rumah para dokter yang bertugas di kota-kota kecil - selalu didatangi oleh pemuka masyarakat khususnya dan rakyat umumnya, untuk berbagai keperluan. Bukan saja mengenai soal kesehatan, tapi juga masalah-masalah sosial, dan las

Sungai Menjadi Jalan

Gambar
Menurut keterangan orang-orang tua, jalan Ahmad Yani ini dulunya adalah sungai kecil. Dengan kerjasama antara ABRI dan masyarakat, sungai kecil ini dirintis menjadi jalan dan akhirnya menjadi jalan utama di Kuala Kapuas.

Sejarah Singkat SMAN 1 Kapuas Tengah

Gambar
Bapak Kresen Siman menyampaikan sejarah SMAN 1 Kapuas Tengah SMAN 1 Kapuas Tengah dibangun pada tahun 1990. Sekolah ini dibangun diatas tanah hibah seluas 3 hektar. SMAN ini pada awalnya menerima siswa dari Kapuas Hulu, Kapuas Tengah dan Timpah. Bapak Bungsu Purba adalah kepala sekolah pertama. Dan kepala sekolah saat ini adalah Bapak Duis Mihing. Sejarah singkat ini disampaikan oleh Bapak Kresen Siman, tokoh masyarakat Pujon.

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Laki-laki adalah "qawwam" bagi perempuan