Memahami Hadis tentang Perempuan Penghuni Neraka: Pentingnya Membaca Konteks

Gambar
Hadis yang menyebut perempuan sebagai mayoritas penghuni neraka sering menimbulkan pertanyaan. Apalagi, dalam riwayat yang sama, terdapat ungkapan yang lazim diterjemahkan sebagai “kurang akal dan agama”. Jika dibaca sepintas, ungkapan tersebut dapat menimbulkan kesan bahwa perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Bagaimana memahami hadis ini secara lebih utuh? Dalam program Real Talk dari Yaqeen Institute, Dr. Tesneem Alkiek bersama pembawa acara Cadar Mohamud membahas pertanyaan tersebut. Alkiek menekankan pentingnya memperhatikan konteks hadis, penjelasan yang menyertainya, serta kedudukan perempuan dalam tradisi keilmuan Islam. Pembahasan itu mengajak kita untuk memahami pesan hadis dengan cermat, sekaligus menghindari penggunaannya untuk merendahkan orang lain. Nasihat yang Disertai Jalan Perbaikan Hadis yang dibahas menceritakan Nabi Muhammad saw. mendatangi kelompok perempuan pada hari raya. Beliau mengajak mereka bersedekah dan menyampaikan peringatan tentang neraka. Ketika ...

Kisah dr. Soemarno Sosroatmodjo di Kuala Kapuas


Di Kuala Kapuas mata saya semakin terbuka akan berbagai masalah sosial. Mula-mula saya hendak mendaftarkan diri diri sebagai anggota Parindra di Banjarmasin, tapi ternyata di Kuala Kapuas pun sudah berdiri cabangnya. Jadilah saya anggota Parindra.

Kemampuan saya dibidang kedokteran pun terangsang dan terdorong maju, karena harus menanggulangi berbagai penyakit dengan peralatan yang seadanya. Dr. Vischer sebagai kepala rumah sakit menganggap saya lebih cekatan dari dokter wanita berkebangsaan Jerman yang pernah mewakilinya.

Isteri saya pun mulai terjun ke dalam masyarakat. Ia memulai mengadakan kursus-kursus kepada para wanita Dayak, baik mengenai masalah-masalah kesehatan maupun pemberantasan buta huruf.

Tidak mengherankan jika rumah saya - seperti juga rumah para dokter yang bertugas di kota-kota kecil - selalu didatangi oleh pemuka masyarakat khususnya dan rakyat umumnya, untuk berbagai keperluan. Bukan saja mengenai soal kesehatan, tapi juga masalah-masalah sosial, dan last but not least soal gerakan kebangkitan nasional. Semboyan "Indonesia Berparlemen" sering kami perbincangkan bersama. Sangatlah menguntungkan bahwa dokter-dokter lulusan NIAS kebanyakan ditempatkan di kota-kota terpencil, sehingga pengetahuan dan keterlibatannya dalam gerakan kebangsaan tersebar pula dan tertanam di berbagai sudut dan pelosok tanah air. Para dokter lulusan NIAS itu tidak begitu sukar bergerak di dalam masyarakat rakyat kecil, karena kebanyak mereka berasal dari keluarga pegawai menengah - bukan keluarga kaya - yang sempat menempuh pendidikan di NIAS atas bantuan beasiswa. Latar belakang keluarga yang lebih dekat dengan masyarakat kecil memudahkan mereka bergerak di tempat-tempat yang terpencil juga. Semasa belajar mereka pun sudah tergembleng dalam kancah kemasyarakatan, karena kebanyakan mereka menjadi anggota perhimpunan-perhimpunan pemuda seperti Indonesia Muda, Ansor Nahdhatul Ulama dan kepanduan, yang pada umumnya mempunyai tujuan memajukan bangsa dan mencita-citakan kemerdekaan. Dalam perhimpunan-perhimpunan pemuda itu mereka terlatih menjadi pejuang kemerdekaan yang ber-Tuhan dan memimpin masyarakat.

Di Kuala Kapuas anak ketiga saya, laki-laki, lahir.

Dikutip dari buku " Dari Rimba Raya Ke Jakarta Raya (halaman 232-234)" karangan dr. H. Soemarno Sosroatmodjo


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"