Bakti Sosial Kesehatan Meriahkan HUT RI ke-81 di Desa Saka Batur

Gambar
    KAPUAS HILIR – Semangat kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 diwujudkan dalam bentuk nyata melalui kegiatan Bakti Sosial Kecamatan Kapuas Hilir bersama UPT Puskesmas Barimba. Kegiatan yang berlangsung di Desa Saka Batur ini mendapat dukungan penuh dari berbagai organisasi profesi kesehatan di Kabupaten Kapuas, meliputi IDI, PDGI, IAI, IBI, PPNI, PTGMI, PERSAGI, hingga PATELKI. Kegiatan ini mengusung tema “Dengan Semangat Kemerdekaan Melayani Untuk Indonesia Sehat”, sebagai bukti pengabdian tenaga kesehatan bagi masyarakat.   Kegiatan bakti sosial ini berjalan sangat antusias dengan melayani total 96 warga yang menjalani pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis. Selain itu, tim medis juga melaksanakan khitanan massal bagi 10 anak warga setempat. Berbagai layanan kesehatan disiapkan secara lengkap mulai dari pemeriksaan fisik, konsultasi medis, pemberian obat-obatan, hingga tindakan medis dasar yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap warga yang hadir.   Ac...

Buruh di Perkebunan Sawit atau Penyadap Karet ?

Bapak Batato, mantan Kepala Desa Mantangai Hulu
Ketika admin berbincang dengan Bapak Batato, mantan Kepala Desa Mantangai Hulu, Kecamatan Mantangai, beliau menceritakan bahwa dulu ketika Bupati menganjurkan untuk menerima tawaran untuk menjadikan sebagian wilayah Desa Mantangai Hulu sebagai bagian dari perkebunan sawit, beliau tegas-tegas menolak. Beliau mengatakan bahwa kalau diwilayahnya ada perkebunan sawit dan hal itu harus mengorbankan kebun-kebun karet yang mereka miliki, maka mereka akan menjadi buruh. Kalau mereka nanti sudah tua, maka tidak mungkin mereka akan terus menerus menjadi buruh. Sedangkan dengan menyadap karena, mereka bisa mendapatkan penghasilan yang lebih besar. Mereka bisa menabung untuk masa depannya.

Pemikiran tersebut terdengar sangat menarik dan sebagian besar masyarakat di Kecamatan Mantangai ini benar-benar harus mencari alternatif pekerjaan selain menebang pohon sebagai mata pencaharian mereka. Sampai saat ini yang membuat mereka tetap bertahan adalah karena mereka masih bisa menyadap karet. Kalau  kita berjalan mulai dari Mantangai Hilir sampai Mantangai Hulu, aroma karet yang diapungkan diatas air sangat menyengat, menandakan bahwa masih banyak masyarakat yang menyadap karet.

Kegiatan menyadap karet ini juga tidak terlalu lama, mereka berangkat setelah shalat Subuh, kemudian sekitar jam 10 atau jam 11 pagi sudah kembali ke rumah.

Sebenarnya ketika perusahaan sawit bisa mengembangkan plasma, maka sebenarnya pendapatan masyarakatpun juga bisa meningkat. Namun sayangnya untuk masalah ini, admin masih belum banyak memiliki informasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)