The Salahuddin Generation (Ep. 7): — “Makam Nabi ﷺ Hampir Digali”: Saat Pilar Kepemimpinan Runtuh, Umat Terbelah… Lalu Disatukan oleh Ancaman yang Tak Terbayangkan

Gambar
 Ketika Nur ad-Din Zengi wafat, umat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin—umat kehilangan paku penyangga yang menjaga persatuan. Dalam kekosongan itu, yang muncul bukan ketenangan, tetapi ketakutan, propaganda, transaksi harga diri , dan pecahnya loyalitas kota-kota Muslim. Namun episode ini menunjukkan satu ironi sejarah: ancaman paling keji justru menjadi pemantik persatuan terbesar. Sebab ketika sebuah rencana “mustahil” muncul—menggali makam Rasulullah ﷺ—dunia Islam tersadar: kalau bukan sekarang bersatu, kapan lagi? Ringkasan Per Segmen (dengan penanda waktu) 1) Wafatnya Nur ad-Din: Salahuddin Shock, Lalu Mengirim “Surat Persatuan” (0:00–3:52) Kabar wafat Nur ad-Din justru datang dari musuh. Salahuddin terguncang: Kalau benar wafat, mengapa ia tidak mendengar dari kaum Muslimin? Apakah ini rumor, tipu daya, atau tanda masalah besar? Respons Salahuddin bukan panik—tapi cepat dan terukur : ia mengirim surat ke kota-kota Syam, menekankan bahwa saat musibah jus...

Lagu Isen Mulang oleh Paduan Suara SMAN 1 Kuala Kapuas


Lagu ini dibawakan oleh Paduan Suara SMAN 1 Kuala Kapuas pada saat pengibaran bendera dalam rangka peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-66 tanggal 17 Agustus 2011 bertempat di Stadion Panunjung Tarung, Kuala Kapuas.

ISEN MULANG
(Oleh: A.B. Sandan)

Mamut menteng ureh utusku Isen Mulang jete penyangku
Gatang yoh gatang sewut sarita, tanndak ain tatuto
O Pahari kawan balinga, mina ama bakas tabela
Tanjung miar imbing lenge has miar Itah handiai
 Lahap toh lahap wei, has toh lahap-lahap miar maju wei
Lahap toh lahap wei, Isen Mulang puna akan Penyangku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas