Menyendiri di Akhir Hidup: Pelajaran dari Jepang dan Implikasinya untuk Kapuas

Gambar
  Pendahuluan: Saat membaca salah satu subyek email dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health – Global Health Now yang berjudul “Dying Alone in Japan”, saya langsung membuka email tersebut dan mencari tautan untuk membaca artikelnya. Rupanya artikel ini dari The Guardian ( Life at the heart of Japan’s lonely deaths epidemic: ‘I would be lying if I said I wasn’t worried’ | Japan | The Guardian ). Sedih juga membacanya, bagaimana begitu banyak orang tua di Jepang yang meninggal dalam keadaan tidak ditemani oleh siapa pun. Bahkan ada yang tetangganya baru mengetahui yang bersangkutan meninggal setelah lima bulan. Hal ini mengingatkan penulis saat tinggal di barak di Kelvin Grove Road, Brisbane, Australia. Di samping barak yang penulis tempati, ada seorang nenek. Setiap hari nenek tersebut dikunjungi oleh seorang kakek yang sering mengetuk pintu kamarnya, kemudian menanyakan bagaimana kabarnya. Setelah penulis baca-baca tentang kehidupan di Australia, ternyata kakek tersebut mel

Souvenir karya Christianto Setiawan

Kerajinan Tangan karya Christianto Setiawan
Souvenir diatas diproduksi oleh Cristianto Setiawan, warga Kelurahan Pulau Telo, Kecamatan Selat. Beliau sudah memproduksi berbagai macam souvenir buatan tangan seperti gantungan kunci, bros, jepit rambut, bando dan lain-lain. Semuanya ini dijual dengan harga yang terjangkau. Beliau menerima pembuatan souvenir untuk acara pernikahan (minimal dipesan satu bulan sebelumnya), ulang tahun dan lain-lain. Bila anda berminat untuk memesan atau ingin mengetahui lebih lanjut tentang produk ini dapat menghubungi Christianto Setiawan pada HP 0852488688555.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Laki-laki adalah "qawwam" bagi perempuan