Membayangkan Adaptasi Iklim di Kota: Dari “Bangun Infrastruktur” ke “Belajar Bersama”

Gambar
  (Pelajaran dari webinar IMAGINE Adaptation dan ide penerapannya untuk Kabupaten Kapuas) Perubahan iklim bukan lagi cerita masa depan. Kita sudah merasakannya lewat cuaca yang makin tidak menentu, banjir yang datang lebih sering, hari-hari panas yang menyengat, atau musim yang bergeser. Pertanyaannya bukan lagi “apakah perubahan iklim terjadi?”, melainkan: bagaimana kita beradaptasi, dan bagaimana kita tahu adaptasi itu berhasil? Dalam webinar publik yang menandai tahun keempat proyek riset IMAGINE Adaptation (didanai European Research Council), para peneliti dari BC3 (Basque Centre for Climate Change) memaparkan satu gagasan penting: adaptasi tidak bisa dinilai hanya dari daftar target dan angka-angka . Adaptasi harus dipahami sebagai proses sosial—bahkan politik—yang melibatkan nilai, pengalaman, dan pengetahuan lokal. Dan untuk bisa mengevaluasi adaptasi, kita harus lebih dulu membayangkan bersama : adaptasi yang “baik” itu seperti apa bagi warga? Berikut rangkuman gagasan...

Panen Karet Di Depan Rumah

Getah karet yang terdapat di depan rumah
Sejak delapan tahun yang lalu, desa-desa di Lamunti sudah mulai menanam karet. Kegiatan ini adalah salah satu program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh salah satu proyek di daerah lahan gambut ini. Saat ini program ini sudah menampakkan hasilnya. Masyarakat sudah bisa panen karet, bahkan karet yang di tanam di depan rumah mereka pun sudah bisa diproduksi. Karena naik turunnya harga karet, masyarakat selain menanam karet juga menanam sawit di lahan mereka. Masyarakat di Lamunti II B1 ini ikut menjadi plasma dari PT. GAL.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas