Tarhib Ramadhan 1434 H


Oleh: Ustadz Suriani Jiddy, Lc

Bulan Ramadhan Sebagai Ladang Amal
Ini dapat kita ketahui dari keutamaan bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah: “Hai orang-orang beriman diwajibkan kepada kalian semua berpuasa sebagaimana umat-umat sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Q.S. Al-Baqarah, 2: 183). Orang-orang beriman diseru untuk berpuasa. Allah tidak menyeru selain mereka. Allah tidak menyeru “Ya ayyuhannaas” (wahai sekalian manusia). Maknanya hanya orang-orang beriman yang mendapatkan perintah dari Allah SWT. Karena orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang istimewa, yang memiliki karakteristik yang khas yang tidak dimiliki oleh manusia lainnya. Diantara sifat mereka adalah selalu siap untuk melaksanakan perintah Allah SWT. Apabila diseru untuk melakukan suatu perintah, mereka mengatakan “kami dengar dan kami taat”. Kalau kita lihat manusia dari sisi merespon perintah, ada tiga golongan:
  1. Orang-orang beriman – siap mendengarkan perintah dan siap melaksanakannya – kami dengar dan kami taat
  2. Hanya mau mendengar dan tidak mau taat – kami dengar dan kami tidak akan taat
  3. Sekedar untuk mendengar saja mereka tidak mau. Dalam Q.S. Al-Mulk Allah menyebutkan perkataan orang penghuni neraka, “seandainya saja kami mau mendengar dan kami mau berpikir, niscaya kami tidak akan menjadi penghuni neraka”. Abu Darda’ memberikan nasihat: jadilah kamu orang yang berilmu, kalau tidak bisa jadilah kamu orang yang selalu mempelajari ilmu, kalau tidak bisa juga, paling tidak mendengar, jangan jadi orang yang keempat, berilmu tidak, tidak mau belajar, sekedar mendengar saja mereka tidak mau. Mereka akan binasa.
Orang beriman mengatakan “kami dengar dan kami taat”. Secara logika, kalau perintah itu ditujukan kepada orang yang jelas-jelas tidak mau mengerjakan, untuk apa disuruh. Ciri lain dari orang beriman adalah tidak pernah memilih-milih, mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Tidak seperti Bani Israil: “apakah kamu beriman kepada sebagian al-kitab dan kamu kufur kepada sebagian yang lain?” hal ini terjadi karena memilih. Yang sesuai selera dijalankan, yang tidak sesuai selera ditinggalkan. Sifat yang lain adalah sabar dan syukur. Dalam sebuah hadis: sungguh luar biasa perkara seorang mu’min, sesungguhnya semua urusannya baik. Sifat ini tidak dimiliki kecuali oleh orang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, apabila dia mendapatkan sesuatu yang tidak disukainya, maka dia bersabar. Puasa sangat terkait dengan sabar.

Puasa bukanlah suatu hal yang khusus disyariatkan kepada umat Muhammad, umat terdahulu juga mendapatkan perintah puasa. Dalam ayat ini Allah secara tegas menjelaskan bahwa tujuan disyariatkannya puasa adalah agar menjadi orang-orang yang bertakwa.
Definisi takwa dari Abdullah bin Mas’ud :
  • Hendaklah Allah itu ditaati jangan dimaksiati (taat)
  • Hendaklah Allah selalu diingat jangan dilupakan (zikir)
  • Hendaklah Allah selalu disyukuri jangan diingkari (syukur)
Ali bin Abi Thalib, takwa adalah:
  • Takut kepada Allah
  • Mengamalkan Al-Qur’an
  • Ridho dengan yang sedikit
  •  Mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian
Dalam ayat ini Allah mengatakan “agar kamu bertakwa”. Menggunakan fi’il mudhori’ (simpel present continous tense) – al istimror – terus menerus, “agar kamu selalu bertakwa”. Allah menginginkan kita bertakwa kepada Allah tidak hanya pada bulan Ramadhan, tapi setiap saat. Makna ini tidak dipahami oleh masyarakat kita. Kita lihat amal kebaikan sangat banyak dilakukan pada bulan Ramadhan, contohnya masjid ramai pada bulan Ramadhan. Seiring dengan berakhirnya bulan Ramadhan, keramaian itu juga berakhir. Ketakwaaan ini jangan Cuma pada bulan Ramadhan.

Sabda Rasulullah: barang siapa yang puasa di bulan Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah SWT maka dosa-dosanya yang lalu diampuni Allah SWT. Riwayat lain: barangsiapa qiyamullail karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala dari Allah SWT maka dosa-dosanya yang lalu diampuni Allah SWT. Hadis ini menjanjikan pada orang-orang yang beriman. Orang-orang yang percaya pada janji-janji Allah. Kita secara lisan tidak akan mengingkari, tapi perbuatan kita mencerminkan kita kurang meyakini janji Allah SWT. Itu dibuktikan dengan kurang optimalkan kita memanfaatkan bulan Ramadhan itu. Sikap kita terhadap bulan Ramadhan ini mencerminkan kita kurang meyakini janji Allah.

Rasulullah menjelaskan lagi keutamaan Ramadhan. Dari Abu Hurairah: adalah Rasulullah SAW memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya: Bulan Ramadhan telah tiba, bulan berkah. Allah wajibkan puasa pada bulan itu. Allah buka pintu-pintu surga. Pintu-pintu neraka ditutup. Setan dirantai. Didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapatkannya maka dia tidak mendapatkan kebaikan.

Sebaiknya tarhib Ramadhan ini dilaksanakan pada awal bulan Sya’ban.

Penjelasan Ahmad Kutti agar dapat mengoptimalkan Ramadhan:

  • Memperbanyak puasa pada bulan Sya’ban. Salah satu tujuannya adalah untuk latihan.
  • Memperbanyak membaca Qur’an. Jauh-jauh hari sudah banyak latihan.
Barokah dalam bahasa disebut tambahan. Dalam istilah agama, Barkah artinya nilai tambah yang Allah berikan pada sesuatu yaitu tempat dan waktu. Ada tempat yang Barkah, masjid (Haram, Nabawi, Aqsha). Hari yang Barkah: Jum’at. Bulan yang berkah adalah Ramadhan.

Bulan Ramadhan Sebagai Titik Tolak Perubahan
Ketika Allah  mewajibakan pusat penggemblengan agar menjadi orang bertakwa. Mestinya kita menjadi manusia yang berbeda. Manusia yang baru. Sifat yang sebelumnya tidak kita miliki. Setelah Ramadhan kita memiliki akhlak yang mulia.

Bulan Ramadhan Sebagai Jalan Hidup
Hasan Al-Banna menyebut 10 karakter yang ideal:
1.       Akidah yang baik
2.       Ibadahnya benar
3.       Akhlaknya mulia
4.       Berwawasan luas
5.       Berbadan kuat
6.       Bersungguh-sungguh
7.       Bisa mengatur waktu
8.       Mampu bekerja mandiri, tidak menggantungkan diri pada orang lain
9.       Disiplin
10.   Bermanfaat bagi orang lain

Hadis Rasulullah: manusia yang paling baik adalah manusia yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain.

Ini bisa kita lihat bagaimana penggemblengan kita selama bulan Ramadhan. Bagaimana sepuluh sifat diatas dapat diwujudkan. Ada atau tidak perubahan yang terjadi. Kalau tidak ada perubahan, maka kita kena hadis Rasulullah, kita adalah orang yang tidak mendapatkan kebaikan sama sekali.

Kalau kita katakan Ramadhan sebagai titik tolak perubahan. Sudah berapa Ramadhan kita lalui. Bisa kita lihat masyarakat kita, sudah sejauh mana perubahan yang sudah terjadi. Sudah banyak pembinaan yang kita jalankan, tapi perubahan tidak kita lihat pada masyarakat, apa yang terjadi. Mestinya ibadah apapun yang Allah syariatkan kepada umatnya, mestinya merubah sikap dan perilaku kita. Baik salat, zakat  maupun haji. Contohnya Shalat, mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dimana letak kesalahannya? Di sini para ulama memberikan jawaban: bila ibadah tidak memberi pengaruh positif maka ada 4 hal yang harus diperbaiki:
  1. Aqidah atau keyakinan. Kalau kita memasuki Ramadhan, tapi tidak membersihkan keyakinan kita, pakai jimat, datang ke dukun, masuk Ramadhan, masuk penggemblengan, tidak ada hasilnya karena akidahnya belum dibereskan.
  2. Niat. Apakah kita sudah meniatkan bahwa kita akan melakukan perubahan. Tidak sedikit orang yang salah niat. Alhamdulillah Ramadhan libur, bisa istirahat. Ada makanan yang hanya ada pada bulan Ramadhan. Diluar Ramadhan susah cari kolang-kaling, Ramadhan ada. Ini masalah niat. Kalau niat salah, dijamin, selesai Ramadhan selesai juga masjidnya, yaitu kembali sepi.
  3. Cara. Bagaimana cara kita melakukan ibadah Ramadhan. Apakah sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah. Apakah kita Cuma memuasakan perut dan dibawah perut saja. Kita harus mencontoh Rasulullah dan para sahabat.
  4. Perangkat. Salat wajib tutup aurat.  Perangkat dari mana kita dapatkan. Apakah kita membeli baju ini kita beli dari uang yang halal atau tidak. Apakah dari harta yang baik atau tidak. Cara kita memperoleh makanan dari mana. Haji, uangnya dari mana? Peringatan Rasulullah tentang akhir zaman: akan datang akhir zaman dimana manusia tidak peduli apakah yang dia dapatkan itu dari yang halal atau dari yang tidak halal. Jangan seperti orang-orang materialis: yang haram susah apalagi yang halal. 
Berikut ini adalah videonya:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Surat Al Baqarah, ayat 1-2 (lanjutan)