Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Manfaat Puasa Ramadhan

Oleh : Ustadz Munir (Ikatan Da'i Indonesia Palangka Raya)

Motivasi ukhrawi lebih besar daripada motivasi duniawi
Kenikmatan dunia bukan disebut ni'mah tapi mata' (sesuatu yang dimiliki oleh manusia, tapi pada suatu saat, sedikit demi sedikit akan berkurang). Sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri yang shalih. Istri kalau sudah berumur 60 tahun sudah tidak cantik lagi. Puasa mengajarkan bahwa dunia itu harus digunakan seperlunya. Bukan berarti kita tidak perlu dunia. Kita tidak boleh mengesampingkan dunia. Kenikmatan dunia harus kita gunakan untuk mendapatkan kenikmatan di akhirat. Karena kita hidup di dunia, tabiat dunia harus kita pahami. Pada masa tabi'in, shalat fardhunya tidak dimasjid, mereka akan ditengok oleh mereka yang shalat jama'ah, kenapa dia tidak shalat berjama'ah, dengan kata lain dita'ziahi. Rasulullah pada bulan puasa lebih banyak bersedekah (seperti angin berhembus). 

Kepedulian terhadap masyarakat
Kepedulian sosial sudah mulai luntur. Di kota, kalau ada yang kecopetan, banyak yang ingin cari selamat. Kita kurang peduli dengan lingkugan. Ketika kita bersama-sama resikonya memang lebih banyak. Kok kehidupan individu sudah dimulai sejak sekarang, padahal itu harusnya terjadi saat hari kiamat dan hari hisab. Kalau kita individual, berarti kita hidup dalam suasana seolah-olah kita sudah meninggal. 




Komentar

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"