Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Mengapa Orang Kaya Bisa Berhenti Merokok, Sedangkan Orang Miskin Tidak

Perokok yang lebih miskin sulit untuk berhenti merokok karena:

  1. Perokok yang memiliki penghasilan yang lebih sedikit akan menghirup lebih lama dan lebih dalam untuk setiap rokok dibandingkan dengan orang yang lebih kaya. Hal ini memperkuat ketagihan mereka dan membuatnya lebih sulit untuk kembali ke semangat untuk berhenti.
  2. Karena rokok cenderung memisahkan dimana orang bekerja dan hidup, perokok yang lebih miskin seringkali harus berusaha berhenti merokok dilingkungan dimana orang-orang masih merokok, tetapi perokok yang lebih kaya biasanya tidak. Dokter terakhir di rumah sakit yang masih merokok akan menghadapi ketidaksetujuan sosial dari teman-temannya karena merokok dan menerima persetujuan sosial dari individu yang sama untuk berhenti; perokok yang lebih miskin justru menghadapi kondisi sebaliknya.
  3. Meskipun orang yang memiliki penghasilan lebih rendah sudah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, mereka masih tertinggal dibandingkan dengan orang kelas menengah dalam akses mereka terhadap terapi berhenti merokok yang efektif. Mereka juga menghadapi tantangan dalam mengakses pelayanan terhadap masalah mental mereka (misalnya depresi) yang membuat berhenti merokok lebih sulit. 

Sumber: Washington Post


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"