The Salahuddin Generation (Ep. 10): Salahuddin vs Richard the Lionheart — Menang Tanpa Menjadi Monster

Gambar
Jika Ep. 9 mengajarkan bahwa kemenangan memanggil serangan balik, maka Ep. 10 memperlihatkan sesuatu yang lebih berat: uji moral ketika perang menjadi sangat kejam . Di episode ini, Salahuddin diuji bukan hanya oleh pasukan Eropa yang semakin besar, tetapi oleh: pemimpin Muslim yang sibuk soal gelar , keputusan pahit ketika kota jatuh, pengkhianatan yang memicu pembantaian, dan godaan terbesar bagi seorang pejuang: menjadi seperti musuhnya. Salahuddin menolak itu. Dan justru di situlah salah satu “kemenangan” terbesarnya. 1) Raja-raja yang Bersumpah Mematahkan Salahuddin Ancaman besar datang dari dua arah: Pasukan Salib di Acre (Akka) yang tak kunjung selesai. Frederick Barbarossa yang mendarat di Asia Minor, dengan pasukan besar menuju Syam. Narasi menggambarkan fanatisme mereka: sampai bersumpah tidur dengan baju zirah, bahkan menghukum orang yang “berbuat dosa” karena menganggap kekalahan mereka akibat kesalahan moral mereka sendiri. Namun yang mengua...

dr. Kenedi Sembiring Kunjungi Kapuas

Belum banyak orang yang mengenal dr. Kenedi Sembiring. Mungkin hal ini disebabkan karena beliau bekerja di pedalaman Kapuas yaitu sebagai dokter pertama di Puskesmas Danau Rawah. Beliau mulai bertugas di puskesmas tersebut dari tahun 1997-2000. Untuk mencapai Danau Rawah pada saat itu tidak bisa melalui jalan darat sebagaimana sekarang. Saat itu beliau harus menggunakan speedboat atau menggunakan klotok dari Tumbang Muroi ke Danau Rawah.

Keterpencilan Danau Rawah membuat dr. Kenedi terpacu untuk mempelajari bahasa setempat. Dalam waktu singkat beliau sudah terbiasa berbicara menggunakan bahasa Dayak. Hal tersebut mau tidak mau harus beliau lakukan karena bahasa masyarakat sekitar adalah bahasa Dayak.

Semangat beliau untuk menolong pasien ditunjukkan dengan kesungguhan beliau menangani pasien. Beliau pernah naik klotok dari Danau Rawah ke Mantangai mendampingi pasien untuk dirujuk ke Kuala Kapuas.

Keterpencilan dalam melaksanakan tugas tidak membuat beliau menjadi patah semangat. Beliau justru berusaha untuk bisa menikmati keberadaan beliau di sana dengan terlibat dalam berbagai aktivitas masyarakat di sana. Beliau menikmati mengunjungi dusun-dusun terpencil yang ada di danau rawah yang harus ditempuh dalam waktu berjam-jam menggunakan klotok.

Setelah menyelesaikan PTT di Kapuas, beliau diterima sebagai Pegawai Negeri Sipil di Jayapura. Beliau sempat mengabdi selama beberapa tahun di Puskesmas sebelum kemudian mendapatkan promosi untuk masuk ke Dinas Kesehatan Jayapura. Sekarang beliau bertugas sebagai staf di Bina Upaya Kesehatan Rujukan di Kementerian Kesehatan RI.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas