The Salahuddin Generation (Serial 2) Perang Salib Pertama: Mengapa yang Runtuh Duluan Justru Kita?

Gambar
  Dalam Episode 2, Dr. Hassan Elwan mengajukan tesis yang “menyakitkan” tetapi penting: Yerusalem tidak jatuh pertama kali karena pasukan Salib lebih kuat atau lebih banyak—melainkan karena sesuatu di internal dunia Muslim sudah runtuh terlebih dahulu. Episode ini menelusuri Perang Salib Pertama dari mobilisasi Eropa, Nicaea, Dorylaeum, Antioch, Ma‘arra, hingga pembantaian Yerusalem tahun 1099—lalu menutupnya dengan pertanyaan tajam: mengapa orang-orang yang tulus terus kalah? 1) Kekuatan Paus dan mesin mobilisasi Eropa Dr. Hassan membuka dengan menjelaskan konteks Eropa abad pertengahan: meski terpecah secara politik, ada satu figur yang sangat dominan, yakni Paus —dipandang sebagai “otoritas tertinggi” yang ditaati, bahkan oleh para penguasa. Dari sinilah Perang Salib dipantik melalui seruan Paus Urban II di Clermont: gabungan retorika agama + janji keuntungan duniawi (tanah subur, harta, “milk and honey”). Intinya: mereka tidak hanya “marah”—mereka terorganisasi . 2) ...

Kamu berbuat baik adalah untuk dirimu sendiri

Ayat diatas secara lengkapnya berbunyi:

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri ... (Q.S Al Isra, 17: 7)

Hal ini dapat dilihat dalam kisah nyata berikut ini.

Ketika sepasang dokter (suami istri) baru datang ke Kuala Kapuas, mereka menginap di rumah teman sejawat mereka yang sudah lebih dulu bertugas di sana. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, anak dari teman sejawat yang memberikan penginapan tersebut kembali ke Kuala Kapuas. Kali ini sebagai dokter internsip. Istri dari pasangan dokter tadi sekarang sudah menjadi pimpinan tertinggi di Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas. Tahun ini dinas kesehatan sudah menyiapkan dana untuk 21 orang dokter internsip yang akan datang ke Kuala Kapuas. Rupanya yang datang cuma 6 orang. Dari dana tersebut, dinas kesehatan dapat menyediakan penginapan ber-AC bagi para dokter internsip tersebut.

Jadi bila lebih dari dua puluh tahun yang lalu sepasang dokter tersebut menginap di kamar biasa, sekarang mereka bisa menyediakan kamar ber-AC bagi anak dari teman sejawat yang pernah memberikan kepada mereka penginapan dahulu.

Semoga kisah nyata ini memberi semangat kepada kita bahwa sesungguhnya kebaikan yang kita lakukan untuk orang lain, bukanlah hanya bermanfaat untuk orang lain saja, tapi juga akan bermanfaat bagi diri kita sendiri baik di kehidupan dunia maupun di kehidupan akhirat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas