Menyendiri di Akhir Hidup: Pelajaran dari Jepang dan Implikasinya untuk Kapuas

Gambar
  Pendahuluan: Saat membaca salah satu subyek email dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health – Global Health Now yang berjudul “Dying Alone in Japan”, saya langsung membuka email tersebut dan mencari tautan untuk membaca artikelnya. Rupanya artikel ini dari The Guardian ( Life at the heart of Japan’s lonely deaths epidemic: ‘I would be lying if I said I wasn’t worried’ | Japan | The Guardian ). Sedih juga membacanya, bagaimana begitu banyak orang tua di Jepang yang meninggal dalam keadaan tidak ditemani oleh siapa pun. Bahkan ada yang tetangganya baru mengetahui yang bersangkutan meninggal setelah lima bulan. Hal ini mengingatkan penulis saat tinggal di barak di Kelvin Grove Road, Brisbane, Australia. Di samping barak yang penulis tempati, ada seorang nenek. Setiap hari nenek tersebut dikunjungi oleh seorang kakek yang sering mengetuk pintu kamarnya, kemudian menanyakan bagaimana kabarnya. Setelah penulis baca-baca tentang kehidupan di Australia, ternyata kakek tersebut mel

Perpisahan dengan dr. Abiyoso

dr. Abiyoso (berdiri kiri) menerima bingkisan dari IDI Cabang Kapuas
Pada hari Senin, 22 Februari 2016 bertempat di Rumah Makan Eli Rahmawati dilaksanakan perpisahan para dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kapuas dengan dr. Abiyoso. Dokter Abiyoso sudah banyak berkiprah di Kabupaten Kapuas dengan menjadi dokter di Puskesmas Sei Hanyo, RSUD dr. H. Soemarno Sosroatmodjo dan Puskesmas Basarang. Selama bertugas di Puskesmas Basarang beliau mengkampanyekan BASNO (Buang Air Besar Sembarangan Nol). Dokter Abiyoso akan melanjutkan karir di Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia di Jalan Percetakan Negara, Jakarta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Laki-laki adalah "qawwam" bagi perempuan