Rabu, 24 Agustus 2016

Surat Al Baqarah, ayat 1-2 (lanjutan)

Oleh: Nouman Ali Khan

"Raib" adalah salah satu kata yang digunakan untuk menggambarkan "keraguan". Kata lain adalah syak, marad, dll. Realitas "raib" adalah seseorang yang memiliki gangguan / goncangan di dalam dirinya. Ada beberapa jenis keraguan: ada yang tidak mengganggu anda dan ada yang mengganggu anda (menyebabkan anda selalu memikirkannya, membuat anda tidak bisa tidur karenanya). Keraguan yang mengganggu anda disebut sebagai "raib".

"Muttaqin" berasal dari kata "wiqaya" yang artinya perlindungan (perlindungan yang berlebihan). Dicontohan seekor kuda perang yang kehilangan sepatu kudanya (yang terbuat dari besi), maka kakinya menjadi sangat sensitif. Hal tersebut membuatnya memilih jalan dengan hati-hati agar tidak melukai kakinya. Kuda yang bersikap demikian dikatakan bahwa dia menunjukkan sikap "takwa". 

Ada beberapa cara untuk melihat Q.S. Al Baqarah ayat 1-2 ini:

  1. Alif Laam Miim, Itulah kitab. Alif laam miim adalah orientasi yang membuat orang bertanya-tanya tentang apa yang diucapkan Rasulullah. Kitab adalah sesuatu yang ditulis. Tidak ada kitab yang ditulis seperti ini. Anda sekarang tidak hanya mendengar seseorang yang sedang bicara, tapi sebenarnya anda sedang mendengar orang yang berbicara dari sebuah "kitab" yang datang dari jauh. 
  2. Alif Laam Mim (mubtada), zaalikal kitaabu (khabar) - Ali laam miim, it's in fact a book. Sebagian ulama menyebut "alif laam mim" sebagai nama Qur'an. Ini menarik karena nama Qur'an ini misterius. Ada hal di dalamnya yang membuat orang rendah hati. Betapapun banyaknya kita belajar, pada akhirnya kita juga tidak mengetahui segala sesuatu. Kelemahan manusia digambarkan Allah dalam ayat berikut ini, "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (Q.S. An Nahl, 16: 78). Ini juga berarti bahwa kita sampai sekarang juga tidak mengetahui apapun. 
  3. Alif laam miim, itu adalah buku yang ditunggu oleh manusia. Ayat ini diturunkan di Madinah yang dihuni oleh orang Yahudi dan Kristen. Mereka memiliki beberapa indikasi bahwa "kitab terakhir" akan turun, mereka menantinya. Ketika Rasulullah membacakan Alif Laam Miim, mereka tahu bahwa pasti ada yang mengajarkannya. Allah menjawab penantian mereka. Ayat berikutnya mengatakan bahwa "tidak ada keraguan di dalamnya". Jadi ini adalah kitab yang mereka nanti-nantikan. Ibnu 'Asyur mengatakan bahwa itu adalah kitab yang sudah dijanjikan sebelumnya. Kitab yang sudah mereka antisipasi kedatangannya. Ahli kitab biasa mengatakan bahwa kalau nabi akhir zaman sudah diturunkan kepada mereka bersama dengan kitabnya, maka mereka akan mendapatkan kemenangan terhadap orang-orang Quraisy. 
Dua prinsip yang menentukan hubungan kita dengan Qur'an
  1. "La raiba fiihi - tidak ada keraguan didalamnya. Bagaimana kita bisa yakin bahwa ini adalah Kitab Allah, karena semua agama mengatakan bahwa kitab mereka adalah Kitab dari Tuhan. Pengikut Musa yakin dengan kenabiannya ketika mereka melihat bagaimana tongkat bisa membelah lautan. Keraguan bisa disingkirkan ketika melihat mu'jizat. Pengikut Isa yakin ketika beliau menjadikan burung yang terbuat dari tanah menjadi burung. Mu'jizat yang bisa dilihat oleh mata, setelah satu generasi, hanya akan menjadi "cerita". Qur'an bukan untuk mata, tapi untuk telinga. Tidak untuk setiap telinga. Semua orang yang melihat mu'jizat akan percaya bahwa itu adalah keajaiban. Tapi tidak semua orang yang baca Qur'an akan tahu bahwa itu adalah mu'jizat, bahkan ada yang makin membencinya. Satu-satunya cara untuk bisa mengetahui Qur'an adalah mu'jizah yaitu dengan jalan menggali di dalamnya, melakukan perenungan terhadap ayat-ayatnya, setelah melakukannya, barulah kita akan tahu bahwa ini adalah kitab dari Allah. Kalau kita hanya melihatnya sekilas, kita tidak akan mendapatkan apa-apa.  Ada seseorang yang mengambil diploma dalam filosofi, dia berusaha untuk mengalahkan Qur'an dengan konsep filosofi. Tapi setelah dua tahun berusaha mendebat Qur'an, akhirnya dia menyadari bahwa ini adalah kitab dari Allah. Allah berfirman,  Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (Q.S. An-Nisaa, 4: 82)
  2. "Hudan lil muttaqin" - petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. "hudan" artinya petunjuk bagi orang yang tersesat. "Hidayah" dalam bahasa Arab berasal dari kata yang mirip dengan "hadya" yang artinya hadiah. Bagi orang yang tersesat di padang pasir, "hadiah" terbaik yang bisa diberikan kepada mereka adalah "petunjuk". Kita selalu mencari petunjuk, sebagaimana kebutuhan kita terhadap air. Dalam Qur'an, Allah menggambarkan "petunjuk" itu dengan "air". Setiap beberapa jam kita memerlukan air. Setiap beberapa jam kita memenuhi kebutuhan hati kita akan petunjuk dengan do'a "ihdinash shiraathal mustaqim" (tunjukilah kami jalan yang lurus). 
Kalau ada generasi muda yang tidak mendapat petunjuk dari Qur'an, berarti masih ada keraguan terhadap Qur'an di  hatinya. 

"La raiba fiihi hudal lil muttaqin" - jika anda ingin menyelamatkan diri sendiri, tidak mungkin Allah tidak akan memberikan anda petunjuk (minuman). 

"Hudal lil muttaqin" - petunjuk dalam ayat ini bukan bersifat potensial, tapi secara aktif memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bertakwa. Jadi kalau anda ada masalah, kemudian anda membuka Al-Qur'an, maka anda akan mendapatkan petunjuk untuk memecahkan masalah tersebut. Hanya anda yang akan bisa merasakan Al-Qur'an tersebut sebagai mu'jizat.

Diterjemahkan dari Muslim Central

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!