Al-Qur’an, Keserakahan, dan Keadilan Ekonomi

Gambar
Banyak orang memahami bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan di Makkah terutama berbicara tentang keimanan, tauhid, hari akhir, dan penolakan terhadap penyembahan berhala. Sementara itu, aturan-aturan kehidupan dianggap baru banyak diturunkan setelah Nabi Muhammad saw. berhijrah ke Madinah. Pemahaman tersebut tidak sepenuhnya keliru. Namun, apabila ayat-ayat Makkiyah dipelajari lebih dalam, akan terlihat bahwa Al-Qur’an sejak awal juga memberikan perhatian besar terhadap persoalan ekonomi, kekuasaan, kesenjangan sosial, dan keserakahan manusia. Dalam khutbahnya, Nouman Ali Khan menjelaskan bahwa kritik Al-Qur’an pada masa Makkah tidak semata-mata ditujukan kepada seluruh orang yang belum beriman. Banyak kritik tersebut secara khusus diarahkan kepada kelompok elite Quraisy, yaitu orang-orang yang memiliki kekayaan, pengaruh sosial, kekuasaan politik, atau kedudukan keagamaan. Al-Qur’an Mengkritik Elite yang Korup Sebagian besar masyarakat Makkah pada masa itu hidup dalam keadaan sed...

Hikmah dibalik puasa - Muhammad Nashiruddin Al-Albaani

Puasa diwajibkan dalam rangka membuat seorang Muslim semakin dekat kepada Allah dan meningkatkan takwa kepada-Nya. Sebagaimana shalat yang tujuannya tidak hanya melaksanakan rukun dan syaratnya saja, tetapi dia juga harus memperhatikan tujuan dan hikmah mengapa Allah mewajibkan shalat lima waktu kepada mereka, siang dan malam. Allah berfirman dalam Surat Al-Ankabut, 29: 45 yang artinya: "Sesungguhnya, shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar ..." Jadi shalatnya seorang Muslim diterima oleh Allah sesuai dengan seberapa banyak hal tersebut mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Rasulullah SAW merujuk masalah shalat ini dalam hadits sahih, dimana beliau bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba shalat dan tidak ada yang ditulis baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdepalan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, setengah darinya," dan beliau berhenti disana. Hal ini mengindikasikan bahwa shalat yang sempurna sangat sulit dilakukan seorang Muslim. Yang terbaik diantara mereka adalah orang yang dicatat setengah dari shalatnya kemudian sampai sepersepuluhnya.. Itupun kalau shalatnya diterima oleh Allah SWT. 

Terkait dengan puasa Rasulullah SAW bersabda, "Betapa banyak orang yang berpuasa tapi dia tidak mendapatkan kecuali lapar dan dahaga dari puasanya, " Mengapa? Karena dia tidak pernah berhenti dari apa yang dilarang oleh Allah SWT. Dia hanya membatasi dirinya pada apa-apa yang membatalkan puasa secara materi. Jadi dia berpikir bahwa dia sedang berpuasa. Tentang orang yang demikian kita katakan, "Dia berpuasa tapi tidak berpuasa." Dia berpuasa hanya dengan menahan dari dari apa-apa yang membatalkan puasa secara materi tetapi dia tidak berpuasa karena dia tidak menahan dirinya dari apa-apa yang membatalkan puasa secara abstrak. Itulah sebabnya beliau bersabda, "Berapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga dan berapa banyak orang yang shalat tidak mendapatkan apa-apa kecuali kurang tidur dan kelelahan karena shalat."

Kita berharap semoga Allah SWT menginspirasi kita untuk menghindari kedua hal yang membatalkan puasa, yang bersifat materi dan bersifat abstrak. Semoga Allah SWT menginspirasi kita untuk melaksanakan shalat yang diterima oleh-Nya, shalat yang mencegah perbuatan keji dan mungkar. 

Sumber: The Wisdom Behind Fasting

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)