The Salahuddin Generation (Ep. 7): — “Makam Nabi ﷺ Hampir Digali”: Saat Pilar Kepemimpinan Runtuh, Umat Terbelah… Lalu Disatukan oleh Ancaman yang Tak Terbayangkan

Gambar
 Ketika Nur ad-Din Zengi wafat, umat tidak hanya kehilangan seorang pemimpin—umat kehilangan paku penyangga yang menjaga persatuan. Dalam kekosongan itu, yang muncul bukan ketenangan, tetapi ketakutan, propaganda, transaksi harga diri , dan pecahnya loyalitas kota-kota Muslim. Namun episode ini menunjukkan satu ironi sejarah: ancaman paling keji justru menjadi pemantik persatuan terbesar. Sebab ketika sebuah rencana “mustahil” muncul—menggali makam Rasulullah ﷺ—dunia Islam tersadar: kalau bukan sekarang bersatu, kapan lagi? Ringkasan Per Segmen (dengan penanda waktu) 1) Wafatnya Nur ad-Din: Salahuddin Shock, Lalu Mengirim “Surat Persatuan” (0:00–3:52) Kabar wafat Nur ad-Din justru datang dari musuh. Salahuddin terguncang: Kalau benar wafat, mengapa ia tidak mendengar dari kaum Muslimin? Apakah ini rumor, tipu daya, atau tanda masalah besar? Respons Salahuddin bukan panik—tapi cepat dan terukur : ia mengirim surat ke kota-kota Syam, menekankan bahwa saat musibah jus...

Pengukuhan PMR Madya dan Wira Madrasah Khazanaturrahmah 2017

Anggota PMR Madya dan Wira di Langgar Khazanaturrahmah
Pada hari Sabtu, 14 Oktober 2017 bertempat di Madrasah Khazanaturrahmah dimulai kegiatan Pengukuhan Palang Merah Remaja Tingkat Madya dan Wira. Setelah kegiatan pembukaan di halaman sekolah dilaksanakan shalat Ashar berjama'ah di langgar sekolah. Setelah itu dimulai materi tentang Sejarah Palang Merah yang dilaksanakan di langgar tersebut. Menurut Bapak Rahmad Fauzan Akhyari, S.Pd.I (Pembina PMR) kegiatan ini merupakan kegiatan ketiga sejak tahun 2015. Kegiatan ini dibantu oleh dua orang anggota Korps Sukarela (KSR) yaitu Bapak Putra dan Bapak Yamin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas