Film Dokumenter American Doctor Rekam Perjuangan Tenaga Medis di Tengah Krisis Gaza

Gambar
INFORMASI KAPUAS – Sebuah film dokumenter baru berjudul American Doctor mengangkat perjuangan para dokter yang bekerja di tengah rusaknya layanan kesehatan dan membeludaknya jumlah pasien di Jalur Gaza. Film tersebut mengikuti perjalanan tiga dokter asal Amerika Serikat yang menjadi sukarelawan di sejumlah rumah sakit di wilayah itu. Dokumenter ini menampilkan dokter bedah ortopedi Mark Perlmutter dari Carolina Utara, dokter bedah trauma Feroze Sidhwa dari California, serta dokter instalasi gawat darurat Thaer Ahmad dari Chicago. Ahmad merupakan seorang warga Amerika keturunan Palestina. Dalam wawancara bersama program berita Democracy Now! , sutradara film American Doctor , Poh Si Teng, menjelaskan bahwa film tersebut dibuat untuk memperlihatkan dampak perang melalui sudut pandang tenaga kesehatan. Film itu juga merekam kegiatan staf medis Palestina yang tetap merawat pasien dalam keadaan serba terbatas. Menurut pejabat Palestina sebagaimana dikutip dalam program tersebut, sekitar 1...

Kereta Rel Listrik (KRL) pada jam sibuk masih seperti dulu

Pada saat sampai di Pasar Minggu pada hari Rabu, 25 April 2018, admin ingin merasakan kembali bagaimana rasanya naik Kereta Rel Listrik (KRL) dari Pasar Minggu ke Depok. Admin ke loket untuk membeli Tiket Harian Berjaminan. Tarif perjalanan kereta cukup murah yaitu Rp 3.500 untuk 25 km pertama dan tambahan Rp 1.000 untuk 10 kilometer selanjutnya.

Setelah itu admin pergi ke pintu masuk. Waktu menempelkan tiket ke pintu masuk, kok nggak mau, sama penumpang lain dibantu untuk pindah ke pintu sampingnya dan bisa. Setelah itu admin menunggu di peron arah kereta api ke Bogor.

Waktu menunggu admin ngobrol dengan penumpang yang mau ke Bogor, dia orang asli Riau. Wah kami bercerita tentang sejarah orang melayu dan kaitannya dengan orang Minang. Sayang tak lama kemudian keretanya datang. Teman bicara admin tidak ikut naik karena keretanya sangat penuh.

Waktu admin masuk, penumpang sangat padat. Jadi ingat waktu masa SMA dan kuliah dulu (1986-1996) waktu sering bolak-balik dari Depok ke Bukit Duri dan Salemba. Waktu itu penumpangnya juga penuh seperti ini, cuma bedanya, sekarang tidak ada lagi orang yang naik ke atas kereta. Tidak ada lagi orang yang bergelantungan di pintu masuk. Sekarang keretanya sudah ber-AC dan tidak ada pedagang asongan.

Yang tidak berubah adalah padatnya penumpang. Meskipun frekuensi kereta sudah ditambah, tapi kepadatan kereta pada jam pulang kantor tetap sama. Kalau kita mau keluar, maka kita harus menerobos barisan manusia itu pelan-pelan sambil bilang permisi karena mau turun. Kalau dulu kita keringatan, sekarang tidak lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)