Ingin Memengaruhi Seseorang? Bukan Menggurui Jawabannya, Tapi Mendengarkan

Gambar
  Dalam hidup, kita seringkali ingin orang lain memahami dan menerima sudut pandang kita. Entah itu dengan pasangan, teman, atau rekan kerja. Ketika dihadapkan pada perbedaan pendapat mengenai sesuatu yang kita anggap penting, insting pertama kita biasanya adalah berusaha sekuat tenaga mempertahankan posisi kita. Kita merasa perlu untuk menjelaskan argumen kita sejelas mungkin. Namun, pernahkah Anda sadar bahwa semakin kuat Anda memegang pendapat, semakin sempit pula ruang percakapan yang ada? Diskusi yang seharusnya menjadi ajang eksplorasi ide berubah menjadi ajang saling melindungi ego. Begitu seseorang merasa diserang dan masuk ke mode bertahan, akan sangat sulit untuk mencapai kemajuan apa pun. Kekuatan dari Merasa Didengarkan Ternyata, ada cara lain yang lebih efektif. Cara tercepat untuk memengaruhi seseorang bukanlah dengan menggurui, melainkan dengan mendengarkan. Sebuah studi pada tahun 2017 oleh para peneliti Guy Itzchakov, Avraham Kluger, dan Dotan Castro membuktikan ha...

Kereta Rel Listrik (KRL) pada jam sibuk masih seperti dulu

Pada saat sampai di Pasar Minggu pada hari Rabu, 25 April 2018, admin ingin merasakan kembali bagaimana rasanya naik Kereta Rel Listrik (KRL) dari Pasar Minggu ke Depok. Admin ke loket untuk membeli Tiket Harian Berjaminan. Tarif perjalanan kereta cukup murah yaitu Rp 3.500 untuk 25 km pertama dan tambahan Rp 1.000 untuk 10 kilometer selanjutnya.

Setelah itu admin pergi ke pintu masuk. Waktu menempelkan tiket ke pintu masuk, kok nggak mau, sama penumpang lain dibantu untuk pindah ke pintu sampingnya dan bisa. Setelah itu admin menunggu di peron arah kereta api ke Bogor.

Waktu menunggu admin ngobrol dengan penumpang yang mau ke Bogor, dia orang asli Riau. Wah kami bercerita tentang sejarah orang melayu dan kaitannya dengan orang Minang. Sayang tak lama kemudian keretanya datang. Teman bicara admin tidak ikut naik karena keretanya sangat penuh.

Waktu admin masuk, penumpang sangat padat. Jadi ingat waktu masa SMA dan kuliah dulu (1986-1996) waktu sering bolak-balik dari Depok ke Bukit Duri dan Salemba. Waktu itu penumpangnya juga penuh seperti ini, cuma bedanya, sekarang tidak ada lagi orang yang naik ke atas kereta. Tidak ada lagi orang yang bergelantungan di pintu masuk. Sekarang keretanya sudah ber-AC dan tidak ada pedagang asongan.

Yang tidak berubah adalah padatnya penumpang. Meskipun frekuensi kereta sudah ditambah, tapi kepadatan kereta pada jam pulang kantor tetap sama. Kalau kita mau keluar, maka kita harus menerobos barisan manusia itu pelan-pelan sambil bilang permisi karena mau turun. Kalau dulu kita keringatan, sekarang tidak lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas