Palestina di PBB: Kami Hanya Ingin Hidup, Tanpa Harus Terus Menjadi Korban

Gambar
  Informasi Kapuas — Ada harapan yang begitu sederhana dalam pidato perwakilan Palestina di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa: dapat hidup dengan bebas di tanah sendiri, membesarkan anak tanpa ketakutan, dan menyambut hari esok dengan rasa aman. Pesan itu disampaikan Majed Bamya, Wakil Perwakilan Tetap Palestina untuk PBB. Dalam pidatonya, ia menyerukan perlindungan bagi rakyat Palestina dan mempertanyakan mengapa komitmen mereka terhadap perdamaian terus dituntut ketika keselamatan mereka sendiri belum terjamin. Laporan Anadolu . Mengutip penyair Palestina Mahmoud Darwish, Bamya membuka pidatonya dengan kalimat yang menyimpan kepedihan sekaligus keteguhan. Dalam terjemahan bahasa Indonesia: “Kami menderita penyakit yang tak tersembuhkan bernama harapan. Harapan akan pembebasan dan kemerdekaan. Harapan akan kehidupan normal, ketika kami tidak harus menjadi pahlawan ataupun korban.” Kalimat itu mengajak kita melihat Palestina melalui kehidupan orang-orangnya. Ada keluarga ya...

Kereta Rel Listrik (KRL) pada jam sibuk masih seperti dulu

Pada saat sampai di Pasar Minggu pada hari Rabu, 25 April 2018, admin ingin merasakan kembali bagaimana rasanya naik Kereta Rel Listrik (KRL) dari Pasar Minggu ke Depok. Admin ke loket untuk membeli Tiket Harian Berjaminan. Tarif perjalanan kereta cukup murah yaitu Rp 3.500 untuk 25 km pertama dan tambahan Rp 1.000 untuk 10 kilometer selanjutnya.

Setelah itu admin pergi ke pintu masuk. Waktu menempelkan tiket ke pintu masuk, kok nggak mau, sama penumpang lain dibantu untuk pindah ke pintu sampingnya dan bisa. Setelah itu admin menunggu di peron arah kereta api ke Bogor.

Waktu menunggu admin ngobrol dengan penumpang yang mau ke Bogor, dia orang asli Riau. Wah kami bercerita tentang sejarah orang melayu dan kaitannya dengan orang Minang. Sayang tak lama kemudian keretanya datang. Teman bicara admin tidak ikut naik karena keretanya sangat penuh.

Waktu admin masuk, penumpang sangat padat. Jadi ingat waktu masa SMA dan kuliah dulu (1986-1996) waktu sering bolak-balik dari Depok ke Bukit Duri dan Salemba. Waktu itu penumpangnya juga penuh seperti ini, cuma bedanya, sekarang tidak ada lagi orang yang naik ke atas kereta. Tidak ada lagi orang yang bergelantungan di pintu masuk. Sekarang keretanya sudah ber-AC dan tidak ada pedagang asongan.

Yang tidak berubah adalah padatnya penumpang. Meskipun frekuensi kereta sudah ditambah, tapi kepadatan kereta pada jam pulang kantor tetap sama. Kalau kita mau keluar, maka kita harus menerobos barisan manusia itu pelan-pelan sambil bilang permisi karena mau turun. Kalau dulu kita keringatan, sekarang tidak lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Toko Souvenir "ANTIK"