The Salahuddin Generation (Ep. 6): Revolusi Salahuddin Dimulai—Reformasi yang Lebih Sulit dari Penaklukan

Gambar
  Episode 6 menandai babak baru: Salahuddin (Yusuf) akhirnya memegang kendali Mesir. Tetapi pesan utama video ini tegas: “mengambil kekuasaan itu sulit—namun membangun perubahan jauh lebih sulit.” Sebab setelah kemenangan, musuh tidak hilang; ia hanya berganti wujud: sistem lama, loyalitas lama, dan musuh tak terlihat. Di episode ini, narasi bergerak dari medan perang ke medan yang lebih rumit: reformasi hati, reformasi institusi, dan reformasi peradaban. 1) Awal yang Tidak Sempurna: “Dosa Besar” di Masa Muda, Tapi Pintu Taubat Terbuka (00:00–04:56) Di pembuka, Dr. Hassan Elwan mengingatkan satu hal yang menumbuhkan harapan: Salahuddin tidak langsung “lahir sebagai wali”. Ia pernah hidup nyaman, bahkan disebut pernah tergelincir (di antaranya kebiasaan buruk seperti minum). Namun justru ini yang ditekankan: orang besar sering punya awal yang biasa-biasa saja—atau bahkan buruk—lalu berubah total karena taubat dan lingkungan yang benar. Kuncinya ada pada kalimat yang menohok...

Nasi Rames menu sahur pengganti makan pagi di Airy Syariah Menteng

Nasi Rames Airy Syariah Menteng
Saat menginap di Airy Syariah Menteng (Sofyan Hotel), Jl. Cut Meutia, Jakarta, admin bertanya kepada petugas di Cafe apakah bisa memesan sahur. Petugas tersebut mengatakan bahwa makan pagi dapat diganti dengan sahur. Menunya adalah Nasi Rames. Dari kamar hotel, admin memesan sahur untuk besok pagi pukul 03.30 WIB.

Sejak pukul 03.30 WIB admin sudah menunggu kedatangan sahur. Pada pukul 03.48 WIB, admin menelpon ke Cafe untuk menanyakan pesanan sahurnya. Saat teleponnya diangkat, ada yang mengetok pintu. Admin langsung ke pintu. Alhamdulillah sahurnya sudah datang. 

Nasi Rames ini sangat luar biasa karena terdiri dari daging, perkedel, telur mata sapi, bihun, emping dan nasi putih. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)

Kode Pos di Kabupaten Kapuas