Sabtu, 09 Februari 2019

Pembahasan Hadits Arba'in Nawawi ke-16 oleh Ustadz Suriani Jiddy, Lc (1)

Hadits ini berbunyi:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa seorang laki-laki berkata kepada Nabi Muhammad SAW, berikanlah aku wasiat. Rasulullah SAW bersabda: Jangan marah. Kemudian laki-laki itu mengulangi lagi. Maka Nabi mengatakan kembali jangan marah. (H.R. Bukhari)

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini sangat agung, berisi pelajaran penting tentang akhlak yang mulia. Pelajaran yang mengandung kebaikan di dunia dan akhirat. Kebaikan itu adalah jangan marah.

Abu Hurairah menjelaskan seorang laki-laki. Siapakah laki-laki yang disebutkan oleh Abu Hurairah? Para ulama hadits menjelaskan ada beberapa pendapat sehingga Abu Hurairah tidak menyebutkan namanya. Ada yang menyebutkan bahwa laki-laki tersebut adalah Abu Darda'. Pendapat ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dimana Abu Darda datang kepada Rasulullah dan berkata Wahai Rasululllah tunjukkan kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke dalam surga. Ini adalah giatnya para sahabat dalam meraih surga. Nabi berkata, Jangan marah, niscaya engkau akan mendapatkan surga.

Nasehat ini berlaku tidak hanya untuk Abu Darda' tetapi juga kita semua sebagai umatnya.

Ada lagi pendapat yang berpendapat bahwa lelaki yang datang kepada Rasulullah adalah sahabat yang lain yaitu sahabat yang bernama Jariah bin Khudamah r.a sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Beliau datang kepada Rasulullah minta dinasehati, kemudian dijawab jangan marah. Beliau mengulang lagi, dan dijawab dengan jawaban yang sama.

Para ulama menjelaskan arti jangan marah. Jangan marah artinya jauhi sebab-sebab atau faktor penyebab kemarahan. Arti lain jangan marah adalah janganlah melakukan sesuatu yang timbul dari rasa marah.

Marah dalam kamus artinya sangat tidak senang. Penyebabnya banyak. Dalam psikologi, arti marah adalah emosi yang muncul karena adanya persepsi ketidakadilan. Ada lagi yang mengatakan bahwa marah terjadi karena kita tidak mendapatkan pengakuan dan penerimaan bahwa seharusnya kita pantas untuk mendapatkan suatu hal.

Intinya marah itu merupakan perasaan negatif yang membuat ketidaknyamanan bagi yang merasakan.

Dengan mengetahui makna marah, maka kita bisa mengetahui keagungan hadits ini.

Salah satu makna hadits adalah menjauhi hal-hal yang dapat menyebabkan marah itu muncul. Kita harus menghindari munculnya rasa ketidaksukaan. Jauhi hal-hal yang dapata memunculkan ketidaksukaan.

Penyebab lain kemarahan adalah tidak menunaikan hak. Orang tua punya hak yang dapat ditunaikan oleh anak. Anak juga punya hak yang harus ditunaikan oleh orang tua. Dendam, permusuhan, dendam, tersinggung adalah hal-hal yang mengakibatkan kemarahan. Hal-hal tersebut harus dijauhi agar kita tidak marah.

Allah marah kepada manusia.
Penyebab Allah marah kepada kita harus kita hindari. Allah marah karena hak Allah sebagai Tuhan tidak ditunaikan. Hak Allah sebagaimana diriwayatkan oleh Mu'adz bin Jabal: suatu saat aku dibonceng oleh Nabi SAW mengendarai seekor keledai. Saat itu Nabi mengajak ngobrol. Nabi bertanya: Wahai Mu'adz tahukah kamu apakah hak Allah yang harus ditunaikan oleh seorang hamba dan apa hak manusia yang harus ditunaikan Allah. Mu'adz menjawab, Allah dan Rasul yang lebih mengetahui. Hak Allah terhadap hamba adalah menyembah-Nya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun.

Banyak orang Islam yang tidak tahu hak Allah untuk disembah dan tidak disekutukan. Sebagai seorang suami, bila istri tidak tahu hak suami, maka dia tidak bisa menunaikannya. Tatkala hak Allah tidak ditunaikan, maka Allah marah. Yang pertama kali dimarahi Allah adalah orang-orang kafir. Ibadah orang kafir tidak mengikuti tuntunan Allah. Semua orang kafir pasti musyrik. Karena orang kafir tidak menunaikan hak Allah maka mereka disebut sebagai orang zalim. Wal kafiruuna humudzalimun.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (Q.S. Al-Bayyinah, 98: 6)

Mereka adalah seburuk-buruk makhluk

Ada orang yang rajin shalat tapi suka kepada hal-hal yang menjurus kepada kemusyrikan.

Ya Allah aku mohon kepada Engkau agar Engkau mencintaiku dan aku mencintaiMu. Dan aku minta kepadaMu untuk mencintai setiap orang yang mencintaiMu. Siapa mereka? Yaitu kekasih Allah yaitu ulama. Dan aku memohon kepada Engkau agar aku mencintai amal perbuatan yang membawa aku mencintaiMu.

Manusia bisa marah kepada Allah karena tidak menerima takdir yang Allah tentukan. Bentuk kemarahan ada empat: (1) kemarahan dalam hati. Merasa tidak suka dengan ketentuan Allah. Marah kepada Allah dapat mengakibatkan kekufuran.

Hadits Qudsi (tidak kuat tapi maknanya bisa jadi benar): Barang siapa yang tidak sahar dengan cobaan yang aku berikan kepadanya dan tidak ridho dengan ketentuan yang aku tentukan, hendaklah dia keluar dari bawah langitku dan cari Tuhan selain Aku.

Tidak ada satu peristiwapun yang terjadi di alam raya tanpa ketentuan Allah. 50.000 tahun sebelumnya Allah sudah menulis takdir segala sesuatu. Ketika kita berumur 120 hari Allah sudah menulis nasib kita.

Dalam menerima takdir (musibah): Sabar, ridho dan syukur.

Kita banyak-banyak berdo'a agar kita ridho dengan apa yang Allah tentukan.

Do'anya: Ya Allah, jadikan sesuatu yang Engkau tentukan adalah baik.

Manusia marah kepada manusia.
Pengantin baru menikah, sang suami membunuh istrinya gara-gara tersinggung dengan ucapan istrinya.

Melihat fenomena ini, kita betul-betul meyakini bahwa beliau adalah Nabi. Ucapannya singkat tapi sangat bermakna.

Kita dilarang bicara kasar dengan istri.

Ada anak yang mengadukan ibunya ke pengadilan karena masalah tidak suka.

Faktor yang dapat menyulut kemarahan sangat banyak.

Bolehkah marah?

Boleh bila marah karena Allah.

Hadits: ikatan keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.

Yang dilarang adalah marah karena nafsu (emosi).

Ada riwayat yang banyak dijelaskan oleh para ulama. Ali digambarkan sebagai seorang pahlawan, ahli memainkan pedang.

Dalam sebuah peperangan, Ali ketika akan membunuh seseorang, dia diludahi, dia tidak jadi membunuhnya. Ketika ditanya mengapa Ali tidak jadi membunuhnya. Ali menjawab: saya khawatir saya membunuhnya karena nafsu amarah.

Karena Allah dilecehkan, kita demonstrasi.

Sepulang dari Tha'if, ditengah perjalanan ditawari oleh malaikat pengurus gunung untuk membalas penduduk Tha'if, beliau menjawab: Aku berharap agar dari mereka muncul generasi yang membela Allah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!