Sabtu, 20 April 2019

Aturan rokok di Indonesia "paling lemah"

Kritik diatas disampaikan oleh Campaign for Tobacco Free Kids ketika membahas masalah kemunafikan Philip Morris. Disatu sisi mereka mengkampanyekan tahun tanpa rokok, tapi disisi lain, dia memperkenalkan produk baru di Indonesia.

Tulus Abadi dari YLKI saat diwawancara oleh Tempo menyatakan bahwa kebijakan pengendalian tembakau di era Jokowi mengalami kemunduran. Indonesia sebagai salah satu negara penggagas Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) malah tidak mau meratifikasinya.

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto membanggakan kontribusi pajak rokok terhadap perekonomian Indonesia. Padahal biaya kesehatan yang dikeluarkan untuk menangani dampak merokok lebih besar dari pendapatannya.

Pajak rokok yang diterapkan di Indonesia masih belum membuat orang berpikir untuk berhenti merokok. Hal ini patut diperjuangkan di masa depan. Kenaikan pajak rokok terbukti dapat mengurangi jumlah perokok dan menghalangi anak-anak muda untuk mulai merokok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar terhadap tulisan kami!