Ketika Membaca Al-Qur’an, Pertanyaan Terpenting Adalah: Apakah Saya Juga Melakukannya?

Gambar
  Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang kita baca sebagai kisah masa lalu. Kita merasa sedang membaca sejarah tentang orang-orang terdahulu: Fir‘aun, Qarun, kaum ‘Ad, kaum Tsamud, atau Bani Israil. Tetapi semakin kita merenung, semakin terasa bahwa Al-Qur’an tidak hanya sedang mengajak kita menengok masa lalu. Al-Qur’an sedang menghadapkan cermin ke wajah kita sendiri. Salah satu ayat yang sangat kuat untuk direnungkan adalah firman Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 4: “Sungguh, Fir‘aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Ia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sungguh, ia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” Ayat ini menceritakan kekejaman Fir‘aun terhadap Bani Israil. Tetapi bila kita berhenti hanya pada sejarahnya, kita mungkin kehilangan pesan terdalamnya. Sebab Al-Qur’an tidak hanya memperkenalkan nama Fir‘aun sebagai tokoh masa lalu, tetapi juga me...

Pinjaman kepada Allah - Nouman Ali Khan



مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (Q.S. Al-Baqarah, 2: 245)

"Qardlan" berasal dari kata "quradlah" yang artinya bekas gigitan kecil oleh tikus pada roti atau gigitan tikus pada pakaian. Hal ini menggambarkan bahwa apa yang diminta dari kita bukanlah sesuatu yang besar. Misalnya ada orang yang mau pinjam uang sebulan. Anda punya banyak simpanan di bank dibandingkan dengan uang yang akan dipinjam. Buat anda tidak berarti tapi buat mereka itu adalah sesuatu yang sangat berarti. 

Konsep seperti ini sangat tidak logis karena Allah adalah pemilik langit dan bumi. Sedangkan kita dan semua yang kita miliki adalah milik Allah. 

Bayangkan bila ibu kita datang kepada kita kemudian bilang bahwa beliau ingin meminjam dari kita dan berjanji akan mengembalikannya. Apa artinya? Dia menganggap kita begitu pelit. 

Untuk menggambarkan bagaimana pelitnya kita adalah seperti anak kecil yang ingin mencicipi es krim yang dimakan ayahnya, tapi akhirnya dia minta semuanya. 

Kita sering lupa bahwa apa yang kita miliki, pada hakekatnya bukan milik kita. 

Rasulullah bersabda: Bila engkau memberi sedekah, maka kekayaanmu tidak akan berkurang. 

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ
Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan ... (Q.S. Al-Baqarah, 2: 268)

قَرْضًا حَسَنًا
Pinjaman yang baik adalah pinjaman yang tidak diketahui kapan akan dikembalikan. Allah ingin agar kita percaya kepada Allah. 

Allah tidak membatasi balasanya hanya di akhirat. Allah akan melipatgandakan apa yang dipinjamkan. Cara terbaik untuk melipatgandakan apa yang kita miliki adalah dengan jalan meminjamkannya kepada Allah. Jangan pernah merasa kehilangan. Allah bisa membalas dengan kesehatan, ketenangan, uang, petunjuk dan lain-lain. Bisa merupakan sesuatu yang tidak bisa dinilai dengan uang. 


"Wa anfiqu mimma ja'alakum mustakhlafiina fiih"

Kita diminta kita untuk menginfakkan apa-apa yang kita kuasai misalnya intelektual, kekuatan, harta dan lain-lain. Bisa juga kita meminjamkan kesabaran untuk tidak marah; meminjamkan kesabaran untuk tidak melakukan sesuatu yang sia-sia. Ketika kita meminjamkan kepada Allah, maka Allah akan memberikan ketakwaan. Allah akan memberikan ketenangan yang hanya Allah saja yang bisa memberi ketenangan. 

فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ
Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin (Q.S. Al-Fath, 48: 26)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kamus Dayak Ngaju - Indonesia

Toko Souvenir "ANTIK"

Pengantar singkat Bahasa Dayak Ngaju (4)